Are You a Zetizen?
Show Menu

Mungkin Nggak Sih Manusia Tinggal di Luar Angkasa? Apa Aja Tantangannya?

Bogiva Mirdyanto Bogiva Mirdyanto 09 Aug 2017
Mungkin Nggak Sih Manusia Tinggal di Luar Angkasa? Apa Aja Tantangannya?

"Space, the final frontier" - 

Zetizen.com - Sejak peradaban pertama muncul di Bumi, manusia selalu berusaha mengeksplorasi tempat baru. Penjelajahan Napoleon, Columbus, dan tokoh-tokoh besar lainnya jadi bukti yang nggak terbantahkan.

Maka nggak heran, saat seluruh penjuru bumi udah dipetakan, manusia pun mengalihkan pandangannya ke bintang-bintang. Namun, beda dengan penjelajahan dunia sebelumnya, banyak banget hal yang harus dipersiapkan untuk penjelajahan antariksa.

Apalagi, rencana jangka panjangnya adalah untuk memungkinkan manusia tinggal dan suatu saat bermigrasi ke luar angkasa, atau malah planet lain. Tantangan utamanya adalah gimana cara manusia bisa bertahan hidup di tempat yang super menantang kayak angkasa luar.

 

Helm yang reflektif itu membantu mengurangi intensitas radiasi dan cahaya matahari. (foto: national geographic)

Perlindungan Penuh dari Kondisi Vakum dan Radiasi

Tanpa perlindungan atmosfer, astronot bakal menghadapi lingkungan luar angkasa yang mematikan. Nggak ada udara dan medan magnetik bumi membuat astronot harus berada dalam struktur buatan yang melindungi mereka dari bahaya vakum dan radiasi. 

Masalahnya, perlindungan radiasi yang benar-benar aman belum ditemukan. Meski udah berada di dalam baju astronot atau dinding pesawat dan statsiun antariksa, radiasi matahari masih bisa menembus dan mengenai tubuh astronot. Inilah kenapa astronot yang paling lama tinggal di luar angkasa, Scott Kelly, harus menjalani perawatan intensif setelah kembali ke bumi. Soalnya, setelah hampir satu tahun tinggal di stasiun luar angkasa internasional (ISS), astronot menerima hampir 24 kali lebih banyak radiasi berbahaya dibanding manusia bumi dalam setahun!

Makanya, untuk bisa tinggal di luar angkasa, perlu ditemukan sistem proteksi radiasi yang lebih baik dan tahan lama.

 

Sistem Pendukung Kehidupan yang Canggih

Di ISS, sistem pendukung kehidupan melibatkan sistem filtrasi udara canggih dan berbagai sistem daur ulang lainnya. Meski begitu, semua sistem ini hanya di desain untuk menampung 6 orang. Meski pernah ada sampai 13 orang yang singgah di ISS selama maksimal dua minggu.

Jadi, kalau dibandingkan dengan kebutuhan hidup sebuah negara yang mungkin bakal dihuni ratusan atau bahkan ribuan orang, pastinya diperlukan juga sistem pendukung kehidupan yang jauh lebih canggih dan besar. 

 

kapsul soyuz di docking port nadir ISS (foto: spaceflight uk)

Suplai Makanan dan Logistik

Nah, kalau sistem pendukung kehidupan dan tempat tinggal astronot udah siap, maka selanjutnya, perlu ada sistem logistik yang memadai. Meski pada tahun 2015 kemarin astronot udah berhasil menumbuhkan makanan di orbit, tetap aja bentuknya hanya berupa sayur dan buah sederhana, yang nggak bisa diproduksi dalam jumlah banyak.

That's why, 6 orang yang tinggal di ISS terus mendapat suplai makanan secara rutin dari bumi. Suplai makanan ini diantar dengan berbagai cara. Misalnya, menggunakan pesawat ulang alik NASA yang saat ini udah pensiun, kapsul Soyuz milik Rusia, atau yang paling baru, kapsul Dragon dari SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk.

MEski begitu, satu kapsul logistik ini, terutama Soyuz, hanya mampu memuat beberapa orang, dengan jumlah kargo makanan dan air terbatas. 

 

Gede banget kan solar panel nya? (foto: nasa)

Sumber Tenaga yang Besar

Di luar angkasa, ada beberapa cara menghasilkan energi. Yang paling populer adalah dengan memanfaatkan panel surya (solar panel), atau reaktor nuklir. Soal urusan daya, reaktor nuklir bisa menghasilkan daya yang lebih besar. Namun, bobot yang sangat berat membuat reaktor operasional sulit dibangun di luar angkasa. Belum lagi masalah perlindungan radiasi bagi para astronot.

Nah, sejauh ini, sumber energi astronot di ISS didapat dari panel surya. Namun, karena daya yang dihasilkan terbatas, panel surya yang dibutuhkan sangat banyak. Bahkan ukurannya hampir menyamai ukuran ISS itu sendiri.

Nah, bayangkan, kira-kira sebesar apa nih panel surya yang dibutuhkan untuk mentenagai sebuah negara di luar angkasa?

 

Space shuttle Atlantis, satu dari 5 space shuttle yang sekarang sudah pensiun (foto: creative commons)

Transportasi yang Memadai

Last but not least, tinggal di luar angkasa dan terjebak di luar angkasa adalah dua hal yang berbeda banget. Makanya, diperlukan sistem transportasi canggih yang bisa mengantarkan orang pulang pergi ke luar angkasa dengan aman, cepat dan murah.

Sayangnya, berpergian ke luar angkasa sampai saat ini masih jadi sesuatu yang sangat mahal dan perlu banyak persiapan khusus. Termasuk, persiapan kesehatan para astronot yang akan berangkat ke stasiun luar angkasa.

 

Nah kira-kira itulah tantangan yang harus dihadapi manusia buat tinggal di luar angkasa. Kalau melihat sejarah ISS yang udah sukses ditinggali manusia selama hampir dua dekade, tinggal di luar angkasa itu mungkin-mungkin aja kok! 

 

 

 

RELATED ARTICLES

Please read the following article