Sharing santai ala @haighani di SMAN 16 Surabaya, Kamis (13/12) (Foto: Jefri/Zetizen Team)

Zetizen.com - A professional is an amateur who didn't quit. Pernah dengar ungkapan itu? Sepenggal kalimat itu layaknya disematkan pada Abdul Ghani, fotografer asal Surabaya. Kepada peserta kelas fotografi di event Zetizen Youthnalism Batch 1 di SMAN 16 Surabaya, Kamis (13/12), pemilik akun @haighani itu menceritakan bahwa memulai karirnya dari bawah. "Tahun 2013, waktu kelas 1 SMA, aku awalnya bukan hobi fotografi, tapi justru hobi difoto. Waktu itu lagi jamannya aplikasi kamera 360 di hape," kenang Ghani, sapaannya. Karena merasa tidak cocok di depan kamera, ia pun memutuskan untuk menjadi orang dibalik layar.

"Lalu, di tahun-tahun selanjutnya aku mulai menggemari foto bergenre minimalist dan street photography. Dulu, kendalanya nggak ada kamera. Akhirnya, menjajal foto pake alat seadanya, yaitu hape," lanjut Ghani. Tak semulus kelihatannya, dalam memotret pun ia menemui rintangan. "Berangkat pagi-pagi ke pasar buat foto street, trus dimarahin ama yang difoto. Atau pas foto minimalist, dimarahin sama satpam karena area itu dilarang untuk difoto," ujarnya, memutar ingatan. Di tahun 2016, Ghani memutuskan untuk ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi di kampusnya. Dari sanalah, ia mulai belajar mengembangkan diri dan skill.

Di mata publik, @haighani dikenal karena foto-foto portrait-nya yang tak hanya menarik secara visual, tetapi juga berkonsep. Kemampuannya mengarahkan pose model pun layak diacungi jempol, karena tak jarang kita menemui angle dan pose unik dari foto karyanya. Ia pun menunjukkan hasil fotonya di layar LCD di depan kelas. Ghani pun menceritakan mengapa ia secara spesifik memilih portrait sebagai genre foto utamanya. "Kalau ingin memulai foto portrait, tak perlu harus nyari talent untuk jadi model. Cukup jadikan teman kamu yang good looking buat difoto," terangnya.

Salah satu foto karya Abdul Ghani yang ditunjukkan ke peserta workshop. (Foto: Haighani for Zetizen)

Selain itu, Ghani juga menekankan untuk mengumpulkan portofolio foto sebanyak-banyaknya. Fungsinya adalah memberikan kepercayaan dan keseriusan di dunia fotografi dengan mengunggah karya tersebut di Instagram. "Jangan malu untuk mengunggah karya. Kalau dari aku sendiri, minimal sehari sekali upload foto. Karena Instagram kan punya impression atau jangkauan. Kalau kita sering upload karya, kunjungan profil kita akan semakin naik. Dan biasanya akan secara otomatis jumlah followers kita ikut bertambah juga," jelasnya.

Tak hanya sharing pengalaman, sesi Q&A pun dibuka. Pertanyaan datang dari Faris Atillah, siswa dari XI IPA 2. "Mas Ghani pernah nggak buntu mikir konten? Kok bisa upload karya setiap hari? Selain itu, karya-karyanya terinspirasi dari siapa?" tanya Faris. Ghani pun menjawab bahwa ia mempunyai stock foto dari jadwal hunting foto rutin seminggu sekali. "Biasanya, sekali hunting, tiap model bawa 2 pasang baju dan ada 2 orang model. Jadinya aku punya empat tema berbeda yang bisa diunggah," ungkapnya.

Ghani juga membagikan kreator yang jadi inspirasinya selama ini. "Ada beberapa akun yang unik banget seperti @cvatik. Foto-fotonya anti-mainstream, terlihat absurd tapi estetik pada saat yang bersamaan," jawabnya, sembari menunjukkan akun Instagram @cvatik di layar LCD. Ghani juga menyarankan untuk melihat akun Instagram dari para selebgram. Sebab, kita bisa mendapatkan referensi foto dari sana. "Intinya jangan takut berkarya, apalagi ngerasa nggak punya alat trus menjadikan itu sebagai kendala," ujarnya, memberikan semangat ke peserta workshop.

Abdul Ghani saat menerima cenderamata dari tim Zetizen setelah sesi workshop usai. (Foto: Jefri/Zetizen Team)
Share
Create Your Own Article!