(Foto: Wikipedia)

"Aduh, besok ujian, nih. Mana belum belajar, materinya susah, tugas masih banyak yang numpuk. Huft. Eh, apa gue nyontek aja ya?"

Waduh, budaya nyontek emang nggak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari pelajar! Belum lagi suka ada guru/dosen yang kasih ujian tiba-tiba. Nggak jarang murid-muridnya langsung memikirkan cara-cara instan, seperti menyontek. Eh, ternyata banyak juga lho, sepak terjang para pejuang sontek ini untuk mendapatkan jawaban yang mereka butuhkan. Yuk, kita simak hasil investigasi Detektif Z!

 

Saat HP jadi Harapan Pertama

 

Tersangka I: Rani, 17, Pelajar SMA

Rani mengaku cuma menggunakan 'jalan pintas' ini waktu bener-bener kepepet. Menurut Rani, nyontek dengan cara browsing lewat HP jadi pilihan banyak siswa karena jarang ketauan sama guru. Rani menggunakan cara ini dengan menduduki HP yang digunakan untuk menyontek.

"Anti banget sama remedi. Kalau waktunya udah mepet dan jawaban masih banyak yang kosong, akhirnya nyontek, deh!"

 

Tersangka II: Angel, 17, Pelajar SMA

 

Berbeda dengan Rani, Angel mengaku lebih suka mencontek dengan menggunakan HP karena repot kalau harus nulis contekan di kertas sebelumnya. Pada tim investigasi Detektif Z, Angel juga membagi triknya biar nggak ketahuan guru waktu sedang menjalankan 'misi rahasia'-nya.

"Jangan terlalu nunduk, jangan terlalu sering liat ke arah guru juga. Bisa bikin guru curiga dan datengin tempat dudukmu."

Wih, kayanya si Angel udah pro, nih! Gimana kalau kamu? Udah pernah ketahuan sama guru atau punya trik yang lebih manjur?

 

Teman Kala Susah dan Butuh Contekan

HP memang sudah sering dijadikan tempat mencari jawaban saat ujian berlangsung, tapi gimana kalau jawaban yang kita cari ternyata susah banget buat ditemuin di internet? Yap, teman di sekitar tempat dudukmu bakal jadi sasarannya. Karena itu, beberapa tersangka kita percaya bahwa posisi menentukan prestasi.

Tersangka III: Reihan, 15, Pelajar SMP

Menurut Reihan, menyontek dengan menggunakan perangkat lain seperti handphone, buku, dan catatan kecil, lebih beresiko untuk ketahuan guru. Akhirnya, Reihan memutuskan untuk menggunakan jurus rahasianya, 'Bisikan Maut'. Cara ini dinilai lebih praktis, nggak buang waktu, dan beresiko kecil.

"Paling cuma disuruh diem aja sama gurunya."

 

Tersangka IV: Jesswithlimit, 17, Pelajar SMA

Jesswithlimit mengaku punya strategi khusus untuk tiap mata pelajaran. Dia sudah membuat perjanjian ke berbagai rekan menyonteknya. Semua yang sepakat berbagi sontekan dijadikan satu grup. Jadi, pembagian tugas saat eksekusi juga jelas. Misalnya, si A dijatah memberi sontekan Matematika, si B bagian Bahasa Inggris, dan si C bertugas menghafal Sosiologi.

"Teman adalah kunci kesuksesan. Bumbu rahasianya? Kerja sama."

 

Tersangka V: Jono, 15, Pelajar SMP

Menggunakan teman juga, Jono ternyata punya trik rahasia untuk menyembunyikan jawaban. Caranya adalah dengan menggulirkan jawaban lewat bola-bola kertas. Setelah mendapat jawaban, Jono menaruh bola-bola tersebut di 'lumbung penyimpanan' miliknya.

"Kertasnya disobek, dijadiin kayak bola sekecil mungkin terus di salurkan dari bawah bangku waktu pengawas lagi nggak lihat. Setelah jawabannya dibaca, kertasnya dimasukkan ke dalam kaos kaki."

 

Apa Kata Ahli yang Sebenarnya?

Melihat banyak teman-teman Zetizen yang masih suka menyontek, Detektif Z mendatangi Maradina, seorang pakar psikologi yang mau membagikan penyebab dari banyaknya kasus menyontek yang banyak terjadi di sekolah-sekolah.

"Perilaku menyontek ada kaitannya dengan self-efficacy (keyakinan akan kemampuan yang dimiliki). Seseorang yang memiliki self-efficacy yang tinggi pada masa ujian memiliki keyakinan akan nilai yang bagus dan hasil yang memuaskan. Hal tersebut dilakukan dengan mempersiapkan diri sebelum ujian. Sebaliknya, siswa yang memiliki self-efficacy yang rendah pada saat menghadapi ujian akan merasakan perasaan yang cemas, karena rendahnya motivasi untuk belajar," ujar Maradina.

 

Terus, Kita Harus Ngapain?

Dari investigasi Detektif Z diatas, kita sepakat kalau sebenarnya nggak bisa sepenuhnya menyalahkan pelaku nyontek. Mereka melakukan hal tersebut karena sistem pendidikan kita yang lebih mementingkan nilai daripada proses. Nah, tapi kita nggak bisa terus menyalahkan sistem, dong! Kalau bukan kita yang berubah, siapa lagi? Nih, cek beberapa poin penting dari Zetizen supaya kamu nggak tergiur buat nyontek!

 

Santai

Nilai nggak dibawa mati, kok! Kamu harus menghilangkan segala kepanikan di kepalamu dan mulai pasrah. Gagal? Ya, tinggal coba lagi.

 

Remedial Itu Nggak Serem!

Sebenarnya remedi tuh ya cuma gitu-gitu aja, lho! Antara disuruh mengerjakan ulang atau dikasih tugas yang biasanya bisa dikerjakan di rumah. So, nggak perlu parno berlebihan sampai nyontek sana-sini.

 

Pilihan ganda? Tetap diisi dong!

Misalnya, kamu punya 10 soal yang belum diisi. Nah, isi aja semua dengan abjad B. Dengan cara ini, setidaknya peluang jawabanmu benar akan meningkat. Yah, walaupun kemungkinannya kecil, lebih baik diisi daripada dikosongin, kan?

 

Kumpulin Aja

Kalau kamu sudah selesai mengasal semua jawabanmu yang kosong, langsung kumpulkan! Menunda atau menunggu teman bakal bikin kamu tergoda untuk meminta jawaban.

 

Jadikan Motivasi

Dengan menerima konsekuensi nilai jelek, secara nggak langsung kamu akan kapok buat nggak belajar lagi. Jadi intinya, tetap selalu persiapkan ujian dengan baik melalui belajar, ya!

 

So, yakin masih mau 'Kucing-kucingan' sama pengawas ujian?

 

Oleh Team B2 Zetizen Internship

Reporter:

  • Nadiya
  • Dimas

Grafis:

  • Sae

Fotografer:

  • Raihan
Share
Create Your Own Article!