Zetizen.com-Pepatah zaman dulu bilang kalau kejarlah ilmu sampai ke negeri China. Bukan berarti ke China, ya. Tapi kejarlah pendidikan sampai negeri seberang. Hal itu yang dilakukan oleh Safri Salampessy yang berkuliah di Management Engineering System di Peter the Great, Saint-Petersburg Polytechnic University Rusia. Yuk simak perjalanannya.

Z: “Hai Safri! Apa kabar? Kenapa sih akhirnya kamu memutuskan kuliah di Rusia?”

S: “Halo, Zetizen! Baik, dong. Awalnya sih, waktu SMA aku kepengen banget jadi anggota Persatuan Mahasiswa Indonesia di luar negeri. Itu loh, organisasi yang mengumpulkan mahasiswa yang kuliah di luar negeri. Kayanya seru, deh.”

Z: “Kenapa pengen gabung?”

S: “Alasannya sih pengen merasakan social live di negara perbeda. Di manapun itu, aku pengen tahu gimana rasanya hidup bukan di Indonesia. Pengen juga merasakan rasanya 4 cuaca berbeda.”

St Petersburg University (pic: pinterest)

Z: “Awal perjalanan bisa sampai kuliah di Rusia gimana sih, Saf?”

S: “Awalnya aku memutuskan untuk kuliah dulu di salah satu universitas swasta di Jakarta. Sambil cari informasi gimana caranya go abroad. Nah di Jakarta informasi berkembang dengan sangat cepat. Awalnya coba dulu ke beberapa negara lain di tahun 2017, tapi sayangnya belum rejeki. Akhirnya aku coba lagi di tahun 2018 dengan persiapan lebih matang belajar dari kesalahan sebelumnya.

Di awal 2018 mulai memberanikan diri daftar  beasiswa Rusia, karena saran dari teman. Karena suatu hal aku sempat berhenti kuliah semester pertama di universitas swasta, dan berharap semoga bisa lolos tes beasiswa. Sambil terus nyoba tes-tes dari beasiswa yang lain dan akhirnya panggilan wawancara dari Pemerintah Rusia udah keluar duluan. Karena saking senengnya aku langsung fokus untuk mengurus beasiswa ini dan sekitar bulan Maret aku wawancara.”

Z: “Ada berapa tahapan yang sudah kamu lalui?”

S: “Ada beberapa tahapan, yang pertama ada seleksi berkas terus wawancara dan pengumuman lulus dari pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Rusia di Indonesia, kemudian penetapan kandidat dari Pemerintah Federasi Rusia itu sendiri, dan yang terakhir pengumuman Universitas.”

Z: “Ketika tes, apa aja yang kamu siapkan?”

S: “Dalam seleksi berkas ada persyaratan membuat motivation letter sama essay terkait jurusan yang di pilih. Motivation letter itu semacam esai yang isinya tentang kenapa sih kita layak sebagai penerima beasiswa. Karena aku mengajukan untuk menjadi mahasiswa Management Engineering System di Peter the Great, Saint-Petersburg Polytechnic Univeristy, isi motivation letter-ku nggak jauh-jauh dari jurusan ini.”

Z: “Lalu motivation letter-nya lolos nggak? Setelah itu ngapain?”

S: “Untungnya aku lolos ke tahap wawancara. Disini aku lebih fokus memperdalam apa aja yang aku tulis di motivation letter dan essay. Persiapan nya aku mulai kuasain sepenuhnya motivation letter dan essay ku, jangan stress, santai terus jangan lupa berdoa, siapin outfit yang rapi, dan ini juga aku cari sedikit sapaan dalam bahasa Rusia.”

Z: “Woo-hoo! Akhirnya terpilih dong. Lalu gimana sistem pendidikan di sana? Kamu suka?

S: “Iya dong! Kalau dari segi semester, disini terdiri dadi 4 курс (tingkatan), satu курс setahun terdiri dari dua semester. Jadi sama aja kan kayak di Indonesia. Tapi disini sistem nilainya 1-5, nggak ada istilah semester pendek atau ambil SKS gitu. Terus kita juga ada olahraga buat yang S1, itu wajib sampai tingkat akhir. Terus untuk dapat ekzamen atau ujian akhir semester kita harus tuntas semua tes dan tugas, nanti ada minggu sebelum ekzam namanya зачётная неделя (minggu berdedikasi) itu seminggu dimana kita harus ngelengkapin semua tugas tugas dan ujian yang ada, trus dapet tanda tangan dosen ada di kertas list gitu, nah itu bakal jadi tiket masuk kita buat ekzamen.

Untuk kelas kita terbagi tiga, misal mata kuliah eksak, itu ada kelas лекция (lektsiya) itu kaya kelas seminar atau gabungan dari beberapa kelas, jadi sistemnya ceramah dari prof dll, terus ada namanya практика (praktika) itu kita sekelas doang, disitu kita memecahkan soal-soal sama bedah masalah-masalah, terus ada kelas laboratory.”

Ramadhan di Rusia (pic: daily news Egypt)

Z: “Waah keren banget dong! Terus sekarang kamu menjalani puasa di Rusia. Gimana rasanya?”

S: “Hal pertama sempet sedih dan kaget, karena tarawih dan sahur buru-buru banget. Misalnya, buka jam 9, tarawih dan isya jam 11 langsung masak buat sahur, imsaknya jam 2.30. Tapi puasanya nggak terasa, karena disini nggak panas sejuk sejuk doang. Jadi asik gitu deh. Hehehe

Tapi aku juga sering merasa rindu dengan takjil di Indonesia. Terus yang cukup menuntut usahaku adalah jarak dari asrama ke masjid jauh banget, jadi harus jalan deh. Hehehe. Dalam suasana ramadan di Rusia, teman-teman di asrama lebih banyak menghabiskan waktu ngabuburit dengan melakukan aktivitas masak bersama dan hidangan juga mereka santap bersama-sama. Selain itu takjil yang terkenal seperti makanan dari Uzbekistan, Kazakhtan, dan Tajikistan.”

Z: Terakhir, nih. Ada nggak pesan untuk Zetizen di seluruh Indonesia?

S: "Selalu yakin pada diri sendiri, setiap manusia itu lahir dengan potensinya masing-masing, tinggal bagaimana kita memanfaatkan potensi yang kita punya. Dan tentang hidup jangan pernah takut mengambil keputusan besar untuk hidup kita, karena hanya kita yang mengenal dengan baik siapa sebenarnya diri kita"



Share
Create Your Own Article!