Zetizen.com - Kupikir sih mereka hanya ingin berkenalan. Barangkali setelah lama nggak ada yang tinggal di dalamnya, lalu tiba-tiba sekelompok mahasiswa tidur di tempatnya biasa beristirahat. Barangkali hanya si lelaki yang mewakili teman-temannya yang ingin menyapa kami, orang-orang baru yang menumpang tinggal selama satu bulan di tempat tinggalnya.

Tapi ternyata, bukan cuma lelaki bermata merah saja.

As you know kalau anggota kelompok kami beristirahat di tempat yang berbeda. Nah, karena bangunan tempat istirahat para cewek lumayan besar, alhasil dua cowok-cowok nggak pengen terjebak di tempat kecil, dong! Akhirnya, mereka berdua selalu datang ke kamar kami dan hanya kembali ke rumahnya hanya untuk tidur.

Masalahnya, mereka nggak tahu kalau itu sangat mengganggu si Mbak yang ada di rumah kami, para cewek.

Selama hampir satu bulan, kami berdelapan punya kegiatan favorit yang kami lakukan di manapun dan kapanpun (kalau ada waktu luang dan nggak ada program kerja untuk dilaksanakan). Yap! kami suka main kartu. Nggak jarang kami baru berhenti bermain ketika malam sudah larut. Ditemani kudapan dan kipas angin kecil, kami bermain di ruang tempat para cewek tidur, tepat di depan jendela besar dan pintu.

Caption

Entah di malam ke berapa, aku mendapat sindiran halus dari ‘mereka’, yang ternyata adalah seorang cewek!

Oh iya. Sebelumnya, aku ceritakan dulu ya waktu pertama kami datang ke tempat ini.

Karena menempati balai desa, otomatis kami berdelapan harus rela berbagi privasi dengan warga desa yang ingin mengurus banyak hal. Posisi rumahnya begini. Di bagian utara, ada jalan penghubung kabupaten. Disitulah gerbang besar sebagai pintu utama balai desa berdiri kokoh. kemudian ketika kamu masuk, di bagian selatan ada tiga bangunan yang berjajar dari gerbang sampai ke dalam. Masing-masing seperti rumah dengan besar sekitar 4x7 meter. Bangunan pertama selalu dikunci dan kami nggak pernah tahu (dan nggak mau tahu) apa isinya. Pokoknya selalu ada sepeda tua yang diparkir di depan pintunya.

Bangunan kedua, kami fungsikan sebagai dapur. Lengkap dengan televisi berdebu yang jadi satu-satunya hiburan kami. Ruangannya lumayan besar. Tapi berdebu dan banyak banget barang-barang yang nggak berfungsi. Misalnya, pisau berkarat, panci peyok, sampai sayur mayur yang udah basi. Di sampingnya, adalah bangunan yang menjadi tempat tinggal kami.

Ketika kami datang, kami para cewek langsung membersihkan bangunan kami. Mulai dari menyapu, mengepel, sampai membersihkan debu yang menempel di langit-langit ruangan. Disini nih, si Mbak mulai muncul. Ruangan yang jadi tempat tidur kami adalah ruang utama. Dengan foto Pak Karno yang terpampang besar di pigura tua, lengkap dengan senyumnya yang lebar.

Si Mbak ada disana, berdiri diam dan mengamati kami. Melayang-layang dengan rambut acak-acakan. Hanya diam disana. Sepertinya berterimakasih karena telah membersihkan tempat ini. Dia senang sekali dapat teman baru. Nggak jarang dia merasa kesepian dan nggak ada teman ngobrol. Dengan kedatangan kami, seenggaknya doi merasa ada yang menemani dia (walaupun dia nggak bisa ngajak ngobrol kami, sih). Ya sudah, intinya dia senang dengan kedatangan kami sejak hari pertama kami datang.

Sayangnya, kadang-kadang Ia merasa terganggu dengan kedatangan kami yang sering tertawa keras. Misalnya, malam ini waktu kami lagi main kartu. Si Mbak, yang mengenakan gaun dengan rok lebar itu, menumpukan berat tubuhnya pada pintu. Dengan tangan dilipat di depan dada, matanya yang tajam mengarah ke arah kami, yang sedang menertawakan salah seorang anggota yang kalah.

Dan setelah malam itu, aku jadi orang yang paling keras meminta semua anggota untuk tidur lebih awal. Takut kami diusir.

Ngomong-ngomong, kukira Ia akan berhenti mengamati ke arah kami dengan marah dan kesal setelah kami berusaha lebih diam dan menjaga suara kami. Ternyata, Ia akan selalu berada di samping pintu dengan tatapan tajam yang intens. Terutama tiap salah satu anggota cowok datang, entah untuk makan atau untuk mengerjakan tugas. Tapi ada yang berbeda dari ekspresinya menjelang kepulangan kami. Ia tersenyum! 

*

Written by: Rafika Yahya

Share
Create Your Own Article!