Tampilan Ghidorah sebelum muncul dan dihidupkan oleh para teroris (pic: IMDB).

Kenyang menelan kritik di film sebelumnya, Godzilla (2014), kali ini Godzilla: King of Monsters mampu belajar dari kesalahan sebelumnya. Diproduseri oleh Michael Dougherty, Godzilla: King of Monsters mampu meraup pujian dari berbagai pihak. Salah satu sebabnya adalah kehadiran berbagai kaiju atau monster raksasa yang menuntaskan dahaga para penyuka genre action. Nggak heran kalau Godzilla: King of Monsters dapat rating PG-13 karena 60 persen dari 131 menit berisi pertarungan antar Kaiju.

Kalau Godzilla (2014) berpusat pada kisah untuk menyelamatkan Godzilla, monster yang bangun karena nuklir, kini Godzilla: King of Monsters memadukan tiga aspek. Satu, pertarungan antar Titan atau Kaiju. Dua, pertarungan antara manusia yang turut 'mengatur' pertarungan Tita. Dan ketiga, aspek manusia sebagai perusak bumi.

Para penggemar kaiju akan mendapatkan tampilan yang spesial dalam Godzilla: King of Monsters (pic: IMDB)

Film dibuka dengan keluarga Russell yang terpisah di pertarungan tahun 2014. Bahkan, putra mereka, Andrew hilang di tengah chaos yang tengah terjadi. Lima tahun setelahnya, Emma Russell (Vera Farmiga) dan Maddison (Millie Bobby Brown) putrinya tinggal terpisah dari sang Ayah, Mark (Kylie Chandler). Emma dan Mark merupakan peneliti dari Monarch yang mengembangkan teknologi bernama ORCA. ORCa merupakan sebuah alat yang mampu menerjemahkan frekuensi untuk berkomunikasi bersama para kaiju.

Di luar dugaan, ternyata muncullah kelompok teroris yang dipimpin oleh Jonah Alan (Charles Dance). Well, kalau kamu masih ingat tujuan Thanos dalam film Avengers: Endgame. Kira-kira tujuannya nggak jauh berbeda. Mereka meyakini bahwa alam semesta nggak lagi seimbang. Satu-satunya cara untuk menyeimbangkan alam semesta adalah dengan mengembalikannya ke fitrahnya, yakni dengan menghidupkan kembali para Titan. Mereka pun menculik Emma dan ORCA.

Di sisi lain, muncul Mark bersama Monarch yang meyadari bahwa terdapat coexistence atau manusia yang mampu hidup berdampingan bersama para Titan. Poin penting dari pihak Monarch adalah mereka membangkitkan Godzilla untuk melawan Titan jahat lain yang telah dibangkitkan oleh kelompok teroris. Salah satunya adalah Ghidorah, Titan berkepala tiga yang datang dari luar angkasa dan diyakini sebagai raja titan.

Namun, Monarch dan Mark juga harus berpacu dengan waktu untuk menghindari pemerintah yang ingin memusnahkan semua Titan. Pemerintah pun sampai membuat senjata pemusnah oksigen yang diyakini mampu membunuh seluruh Titan.

Tampilan visual Ghidorah ketika mengejar pesawat benar-benar epik (pic: IMDB).

Kemunculan ketiga kelompok ini pun menjadikan peran manusia dan Kaiju semakin seimbang dalam Godzilla: King of Monsters. Kalau dulu The Godzilla (2014) panen hujatan karena masyarakat menilai peran manusia nggak penting, kini Godzilla: King of Monsters dengan cerdasnya mampu melibatkan manusia dalam pertarungan antar Kaiju.

Zetizen bisa mengatakan kalau adegan pertarungan dalam Godzilla: King of Monsters bakal memorable dan susah dilupakan. Atau mungkin akan menjadi adegan pertarungan terbaik sepanjang masa. Karena kamu nggak cuma disuguhkan aksi visual yang super epik, namun efek suaranya mampu menggetarkan sekaligus membawamu seolah berada di arena pertarungan.

Hubungan Ibu dan Anak sayangnya membuat Godzilla: King of Monsters dihujani kritik pedas (pic: IMDB).

Salah satunya adalah pertarungan di Antartika ketika Mark Russel dan seisi pesawat persis di bawah kaki Godzilla yang sedang melawan Ghidorah. Atau adegan kemunculan Godzilla di bawah laut yang super menyeramkan namun bikin kamu terlonjak kaget. Keistimewaan lain datang dari kemunculan Titans dari berbagai belahan dunia. Sebut saja Boston, Jerman, hingga Meksiko.

Sayangnya, masih ada beberapa hal terasa konyol. Dan hal itu justru datang dari hubungan keluarga yang diharapkan mampu memberikan engagement dengan penonton. Misalnya, Mark yang ingin pergi mencari putrinya yang entah di mana. Atau ketika Madison menyalakan ORCA sendirian. Padahal, ORCA merupakan prototype yang hanya diketahui oleh Mark dan Emma. Tentu nggak segampang itu dengan beberapa kali sentuh, Ia bisa menyalakan alpha frequency dong.

Nggak kaget kalau beberapa pihak memberikan komentar pada film ini. The Guardian salah satunya. Menyoroti pihak kelompok teroris yang dinilai absurd, The Guardian merasa bahwa plot yang diangkat Godzilla: King of Monsters terasa kurang dalam dan hanya menjual pertarungan Kaiju. Selain itu, banyak pihak menilai kekurangan Godzilla: King of Monsters terletak pada semua pertarungan kaiju yang ditampilkan di trailer.

But the good side is, film ini benar-benar memanjakan para pecinta kaiju dan film-film dengan genre bencana. Soalnya, kamu nggak hanya menyaksikan dua monster (atau lebih) yang saling bertikai, tapi juga bencana di seluruh dunia. Misalnya, tsunami, hingga bukit besar yang longsor karena ada Titan yang menyamar di dalamnya. Keren!

 7/10

*

Written by: Rafika Yahya

Share
Create Your Own Article!