Kisah-kisah ramadan di luar Indonesia nggak pernah ngebosenin. Masih dalam suasana lebaran, Zetizen berkesempatan buat ngobrol sama Qatrunnada Rahmadhani. Cewek yang akrab disapa Nada ini sedang menempuh pendidikan di Saxion University Belanda sejak Agustus 2018.

Well, tahun 2019 ini merupakan tahun pertama Nada menjalankan ibadah puasa di negeri Kincir Angin. Saat ini Nada tinggal di student dorm bersama dengan dorm mate dari berbagai negara. Nada mengaku menemukan banyak perbedaan, apalagi pemeluk agama Islam cuma pelajar dari Indonesia. Nah, gimana sih rasanya sekolah dan menjalani bulan Ramadan di sana? Yuk simak!



Z : Hai Nada! Gimana sih rasanya kuliah di Belanda? Apa aja keseruannya?

Di kelas bersama teman-teman (foto:Nada for Zetizen)

N : Kuliah di Indonesia dan Belanda itu beda banget, disini dosen rasanya kayak temen sendiri, jadi kamu ngerasa lebih nyaman sharing atau diskusi sama dosen, di kelas itu terbiasa aktif dan semua respect satu sama lain, no stupid answer not question, jadi nggak bakal ditertawain atau gimana gitu kalo jawab salah, dan diverse aja classmates nya seru. Dan disini itu nggak ada senioritas, chill aja satu sama lain. Ospek malah have fun main-main aja haha.


Z : Gimana sih budaya yang berkembang ketika bulan Ramadan di Belanda?

(foto:Nada for Zetizen)

N : Di bulan ramadan ini kebanyakan warga muslim merayakan ramadan sama komunitasnya masing-masing. Misalnya seperti Komunitas Turki, Komunitas Indonesia, dsb. Kegiatan seperti buka bersama dan tarawih mereka lakukan bersama dengan komunitasnya. Puasa yang harus aku jalani dengan teman-teman yang lain sekitar 18 jam. Mulai dari pukul 3 pagi sampai 21.15an. Keadaan cuaca disini cukup membantu karena nggak begitu panas, spring ini sekitar 15 derajat jadi nggak bikin gampang haus.


Z : Di Belanda apakah ada yang berjualan takjil? takjil yang dijual disana seperti apa sih? Paling suka takjil apa?

(foto:Nada for Zetizen)

N : Nggak ada yang specifically jualan takjil sih disini, tapi makanan manis gampang ditemui kaya di bakery atau supermarket, biasanya aku sama teman-teman bikin takjil sendiri kalau mau. Kadang bikin dutch pancake yang super tipis terus dikasih nutella, pernah juga puding ala ala juga, mostly makanan manis yang gampang aja ada di supermarket kayak cake dari Belanda stroopwafel, tompouce, boschr bol sama speculas


Z : Biasanya KBRI ada acara nggak sih buat temen-temen yang dari Indonesia sendiri?

Acara Stuned diselenggarakan sebagai perkumpulan bagi para awardee (foto:Nada for Zetizen)

N : Pada bulan Ramadan Kedutaan Besar Republik Indonesia selalu ada acara ketika ramadan, biasanya di masjid Indonesia di Den Haag, acaranya seperti tarawih dan buka bersama. Nanti waktu lebaran pun ada sholat Ied disana, kebanyakan mahasiswa dan expat dari Indonesia datangnya ke masjid Indonesia di Den Haag


Z : Ada pesan yang pengen disampaikan sebagai penutup?

(foto:Nada for Zetizen)

N : Menjalani bulan ramadhan sekaligus lebaran disini challenging banget karena waktu dan everything goes normal, kayak jam kuliah nggak dikurangi, jam kelas pagi juga nggak berubah. Jadi disyukuri puasa di Indonesia, bener-bener kerasa ramadhan nya dan jauh lebih mudah hehe. Tapi ramadhan disini bikin dekat sama komunitas muslim kita, karena kita sebagai minoritas disini, but overall orang Belanda sangat toleran dan open minded towards muslim, so everything good.

*

Penulis: Nadya CL

Editor: Rafika Yahya


Share
Create Your Own Article!