Sejak diumumkan, banyak yang meragukan sekuel X-Men yang satu ini. Mengingat banyak hal yang gagal di film-film sebelumnya, masyarakat tidak begitu yakin dengan kisah penutup ini. Padahal, Simon Kinberg yang duduk di kursi sutradara memilih Sophie Turner. As we know Turner adalah bintang yang sedang bersinar berkat perannya di TV Series Game of Thrones. Didapuk menjadi Jean Grey, sang pemegang kuasa Dark Force, banyak yang berharap Ia mampu mendongkrak nilai film ini. Sayangnya, ada banyak hal yang luput dari perhatian Kinberg. Nggak heran kalau banyak kritikus memberikan hujatan pedas. Rotten Tomatoes bahkan mengganjar X-Men: Dark Phoenix dengan rating sebanyak 23% sementara IMDB hanya 6.

Sosok Grey dalam pengaruh dark force (pic: IMDB)

Cerita X-Men: Dark Phoenix berpusat pada Jean Grey, sosok dengan kemampuan telekinesis yang juga tinggal bersama Charles Xavier (James McAvoy), Raven / Mystique (Jennifer Lawrence), Hank / Beast (Nicholas Hoult), Scott / Cyclops (Tye Sheridan) dan mutan-mutan lainnya. Dalam sebuah misi ke luar angkasa, Grey mendapat paparan sinar misterius yang membuat Ia sempat tak sadarkan diri.

Ketika kembali ke bumi, bukannya kesakitan, Grey malah merasa jauh lebih sehat dan bersemangat. Tidak ada hal aneh dengannya. Hanya saja, Charles nggak bisa membaca dan mengatur pikirannya sendiri. Di saat yang bersamaan, Raven mulai menyadari bahwa Charles punya maksud tersembunyi dengan menyelamatkan banyak mutan. Salah satunya dengan menyembunyikan identitas asli dan kebenaran dari diri para mutan.

Pengaruh Vuk mampu membutakan mata Grey. Plot yang seharusnya mampu membuat film makin unik, tapi tetap saja terasa hambar (pic: IMDB)

Terlepas dari konflik tersebut, di sisi lain Grey mulai nggak stabil. Sementara itu datang sosok misterius yang mampu menampilkan wujud yang sama seperti manusia. Berpusat pada Grey, film ini terbagi atas tiga kelompok. Pertama, Charles yang ingin menyelamatkan Grey. Dua, kembalinya Eric / Magneto (Michael Fassbender) yang ingin membunuh Grey. Dan ketiga, Vuk (Jessica Chastain) yang mewakili sosok dari planet yang telah hancur. Vuk ingin memanfaatkan Grey untuk mengubah bumi menjadi tempat yang layak ditinggali oleh kelompoknya.

Cyclops, Kurt, Xavier dan Storm pun menghadapi Magneto yang ingin membunuh Grey (pic: IMDB)

Disebut-sebut sebagai film penutup, banyak fans yang menyesalkan hal tersebut. Karena selama 1 jam 55 menit, plot terasa bergerak terlalu cepat. Dampaknya, tidak ada emosi yang dapat dirasakan dan bermakna bagi penonton. Transisi karakter Grey juga terlalu dipaksakan. Misalnya, ketika Grey berubah jahat dan membunuh beberapa mutan, Ia tampak begitu beringas namun rapuh. Nggak lama kemudian, Ia berbalik membantu Charles karena hal sederhana. Pembangunan karakter yang terlalu terburu-buru dikritisi beberapa pihak.

Hal itu diungkapkan oleh Michael Calleri dari Niagara Gazette. Menurutnya, para cast tampak emotionless. Salah satu alasannya karena nggak ada pengembangan karakter. Seolah-olah para director hanya fokus mengembangkan Grey sekaligus mengesampingkan karakter lain.

Karakter para mutan gagal dieksplor lebih jauh (pic: IMDB)

Selain itu, kematian salah satu mutan yang cukup mematikan juga disayangkan oleh beberapa pihak. Sebab, hal ini membuat plot makin kacau dan menunjukkan bahwa Kinberg ingin segera mengakhiri kisah X-Men. Seolah-olah kisah seluruh X-Men hanya berpusat pada Jean Gray. Sebab, berakhirnya kisah para mutan juga diawali dan diakhiri dengan kehadirannya.

Kemampuan telekinesis yang bersatu dengan dark force menciptakan kekacauan dan kebingungan dalam diri Grey (pic: IMDB)

Tapi mengingat bahwa ini adalah bagian dari X-Men, maka nggak adil rasanya kalau kita nggak memuji tampilan artistik dalam pertarungannya yang sangat megah. Sebut saja ketika Magneto dan Grey bertarun satu lawan satu. Atau Vuk dan Grey yang bertarung di luar angkasa. Tampilan dengan warna-warna menyala dan keagungan kekuatan para mutan mnenjadi penutup tak terlupakan dari film ini.

*

5/10

 Penulis: Rafika Yahya

Share
Create Your Own Article!