Di artikel sebelumnya, kita sudah cerita tentang sosok kepala buntung yang mengejar santri di salah satu pesantren. Kali ini, ada yang mau bercerita tentang sosok kasat mata yang ikut beribadah. Gimana ceritanya?

 “Kesibukan sebagai mahasiswa secara nggak langsung mengurangi waktuku untuk bermain dengan teman-teman. Jadi ketika waktu itu datang, kita bisa menghabiskan waktu 24 jam nonstop. Entah itu main-main, nonton, atau mabar (main bareng).

 Ceritanya, waktu itu malam Jumat. Sejak siang seusai kelas, aku ketemu dengan teman-temanku. Karena kami berdelapan sama-sama menjadi cowok-cowok rantau, ada banyak banget hal yang sama. Misalnya, karena sama-sama ngekos dan ngontrak, kami suka banget menginap di kontrakan salah satu kawan.

 Hari itu, kami berdelapan sepakat untuk main PS di kontrakan kawanku. Sebut aja Q. Kontrakan Q ada di Surabaya Timur, dekat kampus dan mall. Perumahan ini cukup sepi. Kontrakan Q sendiri cuma ditinggali oleh Q dan Ibu-ibu yang biasa datang untuk masak. Alhasil, perumahannya cukup sepi.

 Nah, karena Q tahu hari itu kami bakal nginap, dia bilang ke Ibu untuk nggak ke rumah. Kami kebiasaan masak-masak sendiri atau beli dari luar. Rumah Q sendiri terdiri atas dua lantai. Lantai satu ada ruang tamu, dapur, kaamr mandi, dan juga satu kamar yang nggak cukup besar. Biasanya, kami menempati kamar itu untuk tidur 'bertumpuk-tumpuk'.

 Sejak siang sampai malam, kami main PS, makan, minum, mabar, pokoknya ngumpul di ruang tamu. Kira-kira jam 12 malam, beberapa dari kami memutuskan untuk keluar cari angin. Meninggalkan aku dan beberapa teman yang masih asyik main PS. Aku dan B di ruang tamu, main PS. Dua sisanya tidur di lantai satu.

 Entah kira-kira jam berapa, aku dan B mendengar suara orang berjalan di lantai dua. Kami pikir sih kawan kami pindah ke lantai atas. Tapi langkah kakinya berat. Nggak jarang terdengar seperti diseret-seret. Kaya gini, nih. Kamu pernah dong dengerin suara ngesot ala suster di film horror? Kira-kira suaranya kaya gitu.

Tapi kami kaget banget waktu tahu dua begundal ini masih pulas di kamarnya. Terus tadi di atas siapa dong?

Ternyata teror nggak sampai disitu. Waktu teman-temanku pulang jam 4 pagi, kami semua memutuskan untuk naik ke lantai atas dan tidur jadi satu di sana. Mereka sudah tepar dan terlelap tidur. Aku berusaha melawan kantuk dan sholat. Bodohnya, aku sholat di koridor depan kamar, bukan di dalam kamar karena terlalu dingin.

Baru rakaat pertama, rasanya bulu kudukku langsung berdiri. Kupikir karena efek air wudhu dan suasana yang dingin. Ketika rukuk, aku mendengar suara di belakangku, ikut mengatakan “Allahu Akbar” dengan sangat jelas. Aku lega sekali. Ternyata aku nggak sendiri karena kawanku ikut sholat.

Sampai rakaat terakhir, suara itu masih jelas terdengar. Bahkan ketika mengucap Assalamualaikum, aku bisa mendengarnya jelas. Tapi ketika aku menoleh ke belakang, nggak ada siapa-siapa. Nah loh. Ke mana perginya?

Sambil berusaha menenangkan diri, aku masuk kamar dan menemukan semuanya masih terlelap. Jantungku langsung berdegup kencang. Terus tadi siapa? Aku membangunkan Q dan bertanya apa dia ikut aku sholat.

“Lu bacanya keras banget. Tapi sumpah nggak ada dari kita yang bangun,”

Kupikir-pikir lagi, jarak dari tempat tidur ke koridor juga cukup jauh. Kalaupun salah satu dari mereka langsung pergi dari tempat sholat menuju tempat tidur, tentu nggak bisa secepat itu, dong!

Terus tadi siapa????”

*

Diceritakan ulang oleh DE

Share
Create Your Own Article!