Satu lagi film sekuel yang rilis (dan gagal) di bulan Juni. Say hi to Men in Black: International. Nggak lagi dibintangi Will Smith (Agent J) dan Tommy Lee Jones (Agent K), kita disuguhi penampilan epik dari Chris Hemsworth (Agent H) dan Tessa Thompson (Agent M). Duo yang lebih dulu kita kenal sebagai Thor dan Valkyrie di Marvel Cinematic Universe (MCU) ini membawakan sekuel Men in Black (MIB) dengan konsep yang jauh berbeda. Sayangnya, keduanya gagal membawa sekuel ini menuju puncak dan meraih rating serta pujian tinggi. Rotten Tomatoes hanya mengganjar film ini dengan rating 23%, sementara IMDB hanya 5. Ternyata, ada beberapa hal yang membuat MIB gagal menarik perhatian publik. Apa aja?

Plot Sama

(foto:inverse)

Kalau kamu mengikuti franchise MIB sebelumnya, kisahnya nggak akan jauh dari perburuan alien yang membahayakan. Sebenarnya, Gary Gray yang duduk di kursi Director sudah mengantisipasi hal tersebut.

Misalnya, membuat MIB lebih terasa internasional dengan perpindahan Agent M dari New York ke London. Juga cerita yang dipusatkan untuk melindungi senjata milik Vungus (Kayvan Novak) dan kerajaan Jababia. Masalahnya, nggak ada surprise moment. Seolah kita sudah tahu bagaimana cerita akan berjalan dan bagaimana film ini akan berakhir. Alhasil, nggak ada wow effect di dalamnya.


Nggak Lucu

(foto:IMDB)

Kita tentu ingat gimana cara Agent J dan Agent K menciptakan gelak tawa tanpa usaha maksimal. Entah karena obrolannya, atau karena kegagalan mereka dalam misi. Di Men in Black: International, Gray membawa sosok Pawny atau bidak (Kumail Manjiani).

Sosok ini menganggap Agent M adalah Ratu dan terus berusaha untuk melindunginya. Pawny sukses membawa momen-momen lucu lewat permusuhannya dengan Agent H. But, it's not funny enough. Kalaupun lucu, rasanya nanggung banget.


Musuh Gampang Ditebak

(foto:techadvisor)

Setelah mendapat senjata utama dari Vungus, Agent H dan Agent M dihadapkan pada penghianatan dari pihak-pihak di dalam Men in Black. Terlebih lagi, Vungus sempat bilang kalau Ia nggak percaya lagi sama Men in Black. Padahal, alien yang termasuk raja dari Jababia ini dulunya sangat menggantungkan hidupnya pada Men in Black.

Sayangnya, strategi Gary dalam menghidupkan konspirasi dalam Men in Black kurang epik. Penonton dengan mudahnya mampu menebak siapa orang jahatnya. Hal itu juga dikatakan oleh Richard Roeper dari Chicago Sun-Times. “Cerita tentang penghianatan dalam MIB membawa kita pada beberapa kandidat aja. Jadi gampang ditebak,” ujar kritikus yang memberikan rating 2 dari 4 di laman Rotten Tomatoes ini.


Transisi Plot yang Nggak Beralasan

(foto:IMDB)

Diceritakan kalau Agent H dan Agent M harus berpindah-pindah dari London ke Paris, ke Marakes untuk menyelamatkan senjata dari Vungus. Masalahnya, nggak diceritakan lebih lanjut kenapa mereka harus pergi ke tempat-tempat tersebut.

Seolah-olah Gary hanya ingin menunjukkan keindahan pemandangan tanpa alasan jelas. Masalah ini sangat disayangkan oleh Susan Granger, kritikus dari SSG Syndicate, lembaga kritikus. “Dari London ke Paris dan Marakes, terus nggak kemana-mana lagi, seolah-olah Ia ingin membawa film-flim MIB zaman dulu, tapi nggak jelas ke mana arahnya,” tulisnya.


But, Visualisasi Teknologinya Epik Banget!

(foto:IMDB)

Let's say, Men in Black: International gagal mencapai kesuksesan yang sama seperti pendahulunya. Tapi bukan berarti nggak ada alasan untuk memuji franchise yang satu ini. Kalau kamu pecinta teknologi masa depan, this movie is yours. Banyak banget teknologi baru yang memanjakan mata. Misalnya, kereta lintas negara, sampai mobil penuh senjata.

Bahkan, Chris Hemsworth bilang kalau boleh bawa barang dari lokasi syuting, dia pengen bawa mobil yang tiap-tiap bagiannya dipenuhi oleh senjata itu. Dalam wawancara bareng Jawa Pos yang terbit hari Rabu (19/6) kemarin, Chris mengagumi mobil jaguar yang terhitung langka tersebut. Sayangnya, Ia nggak diizinkan membawanya. Hihihi, kasian.

*

5/10


Share
Create Your Own Article!