Zetizen.com - Karya sineas Guillermo del Toro dan Andre Øvredal selalu layak ditunggu. Selain karena monster buatannya yang berhasil menghantui tiap malam, sajian plotnya selalu masuk akal dan relatable. Termasuk film Scary Stories to Tell in The Dark yang baru rilis di Indonesia pada hari Rabu (9/8) kemarin. Film yang digawangi oleh Stella (Zoe Colletti), Auggie (Gabriel Rush) dan Chuck (Austin Zajur) ini berhasil meraih rating 6,6 di IMDB, 61 di Metascore, dan 81% di Rotten Tomatoes. Padahal, film ini layak mendapatkan rating 9 atau at least, 8 seperti masterpiece Guillermo del Toro lainnya. Sebut saja The Shape of Water (2017) yang meraih piala Oscar sebagai Best Picture pada tahun 2018. Atau Pan's Labyrinth (2006) dengan rating 8. Tentunya, bila mereka merubah 3 hal ini.

 

Plot yang Terlalu Biasa


Kita semua tentu punya kisah-kisah horror yang kita tahu sejak kecil. Misalnya, kisah Genderuwo yang datang kalau kita tidur sore hari. Nah, buat anak-anak di sebuah kota kecil di Amerika, kisah menakutkan menurut mereka datang dari Sarah Bellows, seorang anak yang disembunyikan orangtuanya yang juga pemilik pabrik kertas di wilayah tersebut.

Menurut para orangtua, Sarah yang selalu dikurung itu selalu menceritakan kisah-kisah horror melalui tembok-tembok kastil. Anak-anak kecil yang penasaran akan mendengarkan kisah tersebut. Besoknya, mereka akan hilang atau mati dengan kondisi mengenaskan. Dari situ, Sarah disebut punya ilmu hitam yang membuatnya mati gantung diri.

Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 1968, ada Stella (Zoe Colletti), Auggie (Gabriel Rush) dan Chuck (Austin Zajur). Tiga sekawan yang pada malam halloween masuk ke rumah Bellows. Ditemani oleh Ramon (Michael Garza), seorang imigran dan Ruth (Natalie Ganzhorn), mereka semua menemukan ruangan tempat Sarah disembunyikan. Disana, Stella menemukan buku berisi cerita-cerita horror yang diceritakan pada anak-anak sejak dulu.

Stella yang ditinggalkan Ibunya sejak kecil, menghabiskan waktunya untuk menulis kisah-kisah horror. Mengetahui hal tersebut, Stella benar-benar tertarik dan akhirnya membawa buku itu pulang untuk dibaca. Ternyata, buku itu dapat menuliskan kisah sendiri. Tentu dengan korban teman-teman Stella dan monster ala Del Toro yang frustatif dan benar-benar menakutkan.

Dengan plot seperti itu, sebenarnya cerita Scary Stories to Tell in The Dark amat sangat mudah ditebak. Teror yang terjadi berkat buku, kutukan yang datang dari buku, upaya menghentikan roh jahat yang meneror kota melalui buku, hingga kemunculan monster yang bahkan kedatangannya bisa diprediksi. Sebagai master of horror movie, tentunya fans Del Toro didominasi oleh para pecinta horror yang tahu sebagian besar kisah dan plot film horror. Plot seperti ini tentunya nggak cuma mudah ditebak, tapi juga membosankan.

Bahkan, Zetizen merasa ada kemiripan dengan beberapa film. Sebut saja Goosebumps tahun 2015 dan 2018. Plotnya mirip, bahkan terkesan sama. Sayangnya hal ini nggak begitu merisaukan para kritikus film.


Monster yang Mirip Dengan Versi Asli


FYI, film ini ditulis berdasarkan versi asli dari buku dengan terbitan sama yang ditulis oleh Alvin Schwartz dan diilustrasikan oleh Stephen Gammel. Buku pertamanya diterbitkan pada tahun 1981, kemudian diremake pada tahun 1984 dengan judul More Scary Stories to Tell in the Dark, dan buku berjudul Scary Stories 3: More Tales to Chill Your Bones pada tahun 1991. Nah, cerita-cerita yang dihadirkan dalam film disarikan dari ketiga buku tersebut.

Tentu banyak yang mengharapkan film ini mampu memvisualkan betapa mencekamnya kisah dari buku-buku tersebut. Sayangnya, beberapa monster bahkan terlampau mirip dengan sosok yang ada di buku. Sebut saja sosok wanita pucat yang muncul di kisah Red Room. Deskripsi hingga visualnya nggak cuma mirip, tapi juga persis.

Di sisi lain, Zetizen heran kenapa Del Toro nggak begitu horror seperti biasanya. Kita tentu ingat bagaimana Pan's Labyrinth (2006) dan Crimson Peak (2015) menakuti kita hingga ubun-ubun. Tapi kebanyakan monster-monster di film ini terasa hambar. Thumbs down.


Terlalu Banyak Jumpscare


Keseimbangan nggak cuma diutuhkan dalam hidup, tapi juga dalam film. Did you know? Sebenarnya film ini dibagi ke dalam beberapa section menurut kisah yang ditulis secara misterius oleh Sarah Bellows. Nah, masing-masing kisah tentu punya monsternya masing-masing. Kita semua tahu Del Toro benar-benar masterpiece dalam mengombinasikan musik dan tampilan monsternya.

Tapi, Del Toro lupa kalau terlalu banyak jumpscare membuat film terasa basi, bahkan nggak seram lagi. Soalnya, kita udah tahu nih kapan monsternya bakal muncul. Misalnya, muncul instrumen musik seperti ini. Disusul dengan keheningan panjang. Oh, ini dia monsternya bakal muncul. Dampaknya, nggak ada pacuan adrenalin menyenangkan. Akhirnya, nggak ada aftertaste yang terasa ketika keluar dari gedung bioskop. Oh, we really miss the jumpscare just like Pan's Labyrinth.

Rating Zetizen 5/10




Share
Create Your Own Article!