Poster film Bumi Manusia (sumber: Falcon Pictures)
Poster Film Bumi Manusia. (Sumber: Falcon Pictures)

 

Sinopsis

‘Bumi Manusia’ berkutat pada kisah Minke (Iqbaal Ramadhan) dan Annelies (Mawar Eva de Jognh) yang terjadi pada awal abad 20 di mana isu-isu terkait pergelutan tanah kolonial sedang panas-panasnya. Latar belakang keduanya yang sangat bertolak belakang—Minke, pemuda pribumi, Jawa totok, sedang Annelies seorang gadis blasteran Indo-Belanda, anak Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti)—menjadi pemicu beragam konflik pada masa itu. Ketika keangkuhan hukum kolonial mencoba mengacaukan hubungan Minke dan Annelies, Nyai Ontosoroh membakar semangat Minke agar terus berjuang sehormat-hormatnya dan terus melawan ketidakadilan yang ada.

Review

“Dengan melawan kita takkan sepenuh kalah.”
-Nyai Ontosoroh

Semenjak munculnya kabar bahwa buku ‘Bumi Manusia’ karya Pramoedya Ananta Toer akan difilmkan dengan judul yang sama, masyarakat gempar dan harap-harap cemas dalam menanggapinya. Sebab mereka, orang-orang yang begitu mencintai mahakarya Pramoedya tersebut, takut bahwa rencana tersebut hanya akan merusak keagungan bukunya. Terlebih ketika pihak Falcon Pictures mengumumkan bahwa Iqbaal Ramadhan didapuk untuk memerankan Minke, tokoh utama dalam Bumi Manusia.

Tak menggubris tanggapan masyarakat, produksi film ‘Bumi Manusia’ arahan sutradara kondang Indonesia, Hanung Bramantyo (Kartini, Perahu Kertas, Rudy Habibie), tetap berlanjut sebagaimana mestinya. Nama-nama lain ikut bermunculan mengisi daftar pemain. Mulai dari Mawar Eva de Jongh, Sha Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, Donny Damara, hingga Bryan Domani dan masih banyak lagi.

Annelies dan Minke. (Sumber: Falcon Pictures)

Bumi Manusia bagi Iqbaal adalah pembuktian atas keraguan yang dilayangkan padanya ketika dipilih sebegai pemeran Minke. Ia tampil dengan apik membawakan karakter Minke yang kokoh, cerdas, dan berwibawa. Dalam film ini, ia benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai aktor profesional yang mampu memberikan nyawa bagi karakter yang ia perankan. Selain Iqbaal, penampilan luar biasa juga ditunjukkan oleh Sha Ine Febriyanti yang berperan sebagai Nyai Ontosoroh. Watak bijaksana dan teguh pendirian benar-benar bisa kita rasakan hanya dari bagaimana ia menatap. Kedua karakter itulah yang mampu mengajak penonton untuk bersimpati pada nasib yang menimpa mereka. Selain mereka, pemain-pemain lain juga tampik dengan apik dan meninggalkan kesan yang berbeda-beda.

Meski memiliki durasi yang lumayan lama, yakni hampir 3 jam, Bumi  Manusia cukup berhasil membuat penonton untuk terus mengikuti ceritanya. Padahal, mengingat cerita yang diangkat begitu kompleks mengenai kisah kasih dua sejoli yang terjadi pada masa perseteruan antara pribumi dan pemerintahan kolonial, film ini sangat berpotensi membuat kita merasa mengantuk. Namun, karena diselingi dengan adegan-adegan ringan seputar romansa dan komedi, filmnya cukup berhasil menjaga perhatian penonton. Tapi, pastikan juga dalam kondisi yang fit ketika menontonnya, dan jangan lupa kencing terlebih dahulu.

Nyai Ontosoroh yang diperankan Sha Ine Febriyanti

(sumber: Falcon Pictures)

Berlatar pada masa kolonial dan bertempat di Jawa, maka percampuran dari setidaknya tiga bahasa berbeda akan menghiasi setiap dialog. Saya tidak bisa berkomentar banyak mengenai dialog bahasa Belanda yang diucapkan oleh setiap tokoh—tapi mereka, aktor Indonesia khususnya Iqbaal terdengar begitu lihai mengucap kata-kata dalam bahasa Belanda. Namun, selain bahasa Belanda dan Indonesia tentunya, tokoh-tokoh juga sering berbicara dengan bahasa Jawa—bahasa yang saya pribadi kuasai penuh, apalagi sesuai latar tempat yang mengambil daerah Wonokromo, Surabaya, baik karakter orang-orang Belanda atau pribumi. Meski secara keseluruhan baik, tapi di beberapa kata, telinga saya merasa janggal pada pengucapannya. Aneh. Tapi, masih bisa dipahami. Sulit memang mengucapkan kata yang bukan menjadi bahasa keseharian. Namun, usaha setiap pemeran patut diacungi jempol.

Salah satu beban terberat bagi tim produksi adalah bagaimana caranya membuat desain set yang mampu menghidupkan suasana kolonial seperti dalam novelnya. Detail-detail seperti alat transportasi, budaya, nama lokasi, bahkan diksi, harus benar-benar diperhatikan untuk menunjang cerita. Dan tampaknya, mereka cukup sukses menyuguhkan kehidupan masa lalu dalam sebuah film. Namun, ada beberapa hal yang cukup mengganjal di benak saya, yakni beberapa papan nama tempat yang terlihat masih ‘baru’, mulai dari warna dan kondisinya. Entah memang dibuat seperti itu atau mungkin kelalaian teknis, saya tidak tahu. Tapi, secara keseluruhan, kita serasa dibawa ke masa kolonial dengan hal-hal yang identik di masa tersebut.

Nyai Ontosoroh dan Annelies (Mawar Eva de Jongh)

(sumber: Falcon Pictures)

Salah satu aspek yang menyita perhatian saya sinematografi film ini. Bagaimana kamera bergerak, framing, dan hal-hal teknis lainnya berhasil memanjakan mata. Salut kepada Ipung Rachmat Syaiful sebagai sinematografi film ini.

Hal lain yang sangat patut diapresiasi adalah scoring sepanjang durasi. Banyak momen jadi lebih mengena karena adanya sentuhan nada-nada yang ditata sedemikian rupa. Terlebih lagi terdengan begitu mewah dan megah di telinga, maka untuk mendapatkan pengalaman terbaik merasakan atsmosfer haru, tegang, dan lainnya sudah pasti tontonlah di bioskop. Itu sudah cara yang paling benar.

Secara singkat, film Bumi Manusia adalah karya yang pantas untuk dihargai dan dirayakan sebagai salah satu sejarah yang membanggakan. Oleh sebab itu, jangan lupa menontonnya di bioskop-bioskop yang belum sayang sama kamu pada tanggal 15 Agustus mendatang, ya!

Maju terus perfilman Indonesia!

Share
Create Your Own Article!