Ambience yang besar di chapter pertama nggak berhasil menciptakan euforia yang sama di film kedua. Andy Muschietti kayanya harus introspeksi lagi, deh. Kira-kira karakter dan plot macam apa yang seharusnya dihilangkan atau ditambahkan dalam IT: Chapter Two. Padahal, jajaran aktor dan aktris yang membintangi film berdurasi 2 jam 48 menit ini termasuk sosok-sosok yang dikenal sebagai King and Queen of Horror Movie. Sebut saja James McAvoy yang memerankan Bill. Ia lekat dengan peran skizofrenia dari film Split. Ada juga Jessica Chastain yang memerankan Beverly. Chastain dikenal sebagai Guillermo del Toro's favourite girl. Terbukti dengan peran Chastain di beberapa masterpiece del Toro, sebut saja Crimson's Peak (2015) atau MAMA (2013). As we know Del Toro dikenal sebagai jenius di balik film horror seperti The Shape of Water (2017) hingga yang terbaru, Scary Stories to Tell in The Dark (2019).

Nyatanya, kehadiran dua Hollywood Beloved Star ini nggak mampu mendongkrak kualitas IT: Chapter Two. Selain dari review buruk di berbagai media, I IT: Chapter Two juga nggak lepas dari rating jelek. Sebut saja IMDB yang hanya mengganjar 7,6. Beda 0,2 poin dari film sebelumnya. Sementara Metacritic menyematkan rating 69%, Rotten Tomatoes berbaik hati dengan 71%.

Ceritanya, sih nggak jauh beda sama sebelumnya. Dimulai dari pasangan gay di Canal Day Festival di Derry. Keduanya diganggu oleh sekelompok perundung yang menyebabkan salah seorang di antaranya meninggal, lalu jasadnya dibuang di sungai. Saat itulah Pennywise (Bill Skarsgard) muncul. Teror malam hari itu pun menjadi awal siklus 27 tahun di mana Pennywise akan kembali.

Nah, film mulai menyoroti anggota The Losers Club yang kini berubah total. Ada Beverly yang kaya raya namun jadi korban KDRT, Bill yang menjadi penulis terkenal, Mark (Isaiah Mustafa) yang memilih tinggal di Derry untuk mencari tahu cara membasmi Pennywise, Eddie (James Ransone) yang masih tenggelam dalam ketakutannya akan bakteri, Ben (Jay Ryan) berubah super ganteng, Richie (Bill Hader) yang kini terkenal di dunia Stand-up Comedy hingga Stanley (Andy Bean) yang mati mengenaskan.

Lalu, Mark menelepon satu persatu anggota dan memintanya kembali untuk membasmi Pennywise. Tinggal di Derry membuat Mark nggak cuma mengetahui sejarah kota kecilnya, tapi juga tahu sejarah Pennywise. Tapi, perjuangan Mark nggak mulus. Ingat teror Pennywise bikin The Losers Club menghindar dan nggak mau untuk menepati janji yang telah mereka buat ketika mereka kecil. Alhasil, Mark harus mengajak Bill menyelami salah satu artefak untuk meyakinkan kawan-kawannya dalam pembasmian si badut iblis.

Dengan durasi hampir tiga jam, kita akan dibawa kembali dalam upaya keenam sahabat mengingat kembali apa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa tersebut. Yang tentu saja penuh teror. Ketika mereka berhasil mengingat semuanya dan membawa satu benda sebagai pengingat, mereka kembali ke 'rumah' Pennywise di bawah kota Derry. Ternyata, masih ada tempat lain di bawah kota yang belum mereka jelajahi sebelumnya. Disitulah mereka memulai ritual yang nggak cuma penuh teror, tapi juga menyerang mental mereka.

Overall, Muschietti yang duduk di kursi Director berusaha keras (banget!) untuk membuat film kedua ini tampil menyeramkan dan jauh melebihi kesuksesan yang pertama. Mengingat belum pernah ada film horror yang mengangkat badut sebagai tokoh antagonis meraup sukses seperti miliknya. Tapi sayangnya, Ia sibuk menambahkan tokoh-tokoh dan monster baru sehingga lupa bahwa Pennywise merupakan sosok sentral yang harus dihidupkan.

Misalnya, tokoh Bowers (Teach Grant) yang dulunya membunuh sang Ayah di bawah pengaruh Pennywise. Ia dihidupkan kembali sebagai pasien RSJ dan dibantu oleh zombie untuk menjadi kaki-tangan Pennywise. Nyatanya, Ia muncul cuma di beberapa scene. Bukannya menakutkan, sosoknya jadi tampil konyol dan menimbulkan pertanyaan, “ni orang ngapain sih”

Next, nggak tahu kenapa Muschietti menempatkan zombie dengan berbagai bentuk di banyak scene. Alhasil, funny yet scary ala Pennywise yang kita dapatkan di film pertama nggak begitu terasa. Di sisi lain, ada banyak scene imajinatif yang menyerang mental The Losers Club, tapi nggak horror-horror amat. Malah jadi cringe. Misalnya ketika Ben tenggelam dalam pasir dan Bev oleh darah. Keduanya terselamatkan berkat sebuah pengakuan. Nah, loh. Niatnya sih pengen bikin penonton terharu, tapi jadinya, kita merasa terlalu banyak scene imajinatif yang nggak begitu meneror.

rating Zetizen: 6/10

Share
Create Your Own Article!