Di tengah gempuran film dengan bintang A-list Hollywood, Ready or Not merekah dengan plot simpel namun sarat ketegangan dan canda tawa. Aktor dan aktrisnya pun bisa dibilang cukup asing. Sebut saja Samara Weaving yang memerankan Grace, tokoh utama yang harus menyelamatkan dirinya sebagai tumbal keluarga. John Bucan dkk yang duduk di kursi casting tahu betul cara menghemat budget dan meraup keuntungan. Dengan memilih Weaving, orang-orang bisa berpikir kalau Margot Robbie yang ada di filim itu. Gimana enggak? Kontur wajah, teriakan hingga posturnya yang kurus benar-benar mirip dengan Robbie yang turut menjadi kompetitor dalam film Once Upon a Time in Hollywood. Bersaing dengan film-film yang cukup mumpuni nyatanya nggak membuat Ready or Not gentar. Buktinya, hingga minggu ketiga penayangannya, Ia masih duduk manis di kursi Box Office.

Film Ready or Not sebenarnya nggak jauh beda sama konflik dan teror keluarga pada umumnya. Cerita dibuka dengan prosesi pernikahan Grace dan Alex (Mark O'Brien). Le Domas dikenal sebagai Dominion atau kerajaan keluarga yang super kaya. Terbukti, perusahaan permainan kartunya masih berjaya sejak tahun 40-an hingga kini.

Layaknya acara penyambutan keluarga baru, Grace harus mengikuti prosesi atau upacara keluarga Le Domas. Bukan sekedar acara biasa, mereka harus bermain salah satu permainan yang keluar dari sebuah kotak secara gambling. Permainannya ada banyak, sih. Ada scrabble, dan lain sebagainya. Intinya, jangan sampai kartu permainan Petak Umpet keluar.

Sialnya, malam itu A mendapatkan kartu Petak Umpet yang membuat seluruh anggota keluarga harus bersatu untuk menghabisi Grace. kalau enggak, maka seluruh keluarga akan mati mengenaskan. Begitu yang dipahami oleh para Le Domas secara turun temurun. Selepas tengah malam, maka dimulailah perburuan pengantin secara besar-besaran.

Alurnya simpel banget, ya? Well, no. Grace punya sejuta akal untuk menghindari kematiannya, meskipun harus mengorbankan beberapa orang. Salah satu yang jadi highlight dalam Ready or Not adalah komedi-komedi yang terselip di dalamnya. Mulai dari nenek-nenek yang membunuh orang dengan gampang menggunakan kapak, hingga cara Grace menyelamatkan diri. Meski nggak susah dicerna, tapi film ini bakal menghadirkan suasana gore yang menyeramkan ala semesta Saw hingga Final Destination. Salah satu scene terbaik adalah letupan-letupan penuh darah. Kalau kita biasa disuguhkan dengan banjir darah ala IT: Chapter Two (2019) atau The Shining (1986), maka Ready or Not menyajikan horror rasa baru.

Selain itu, pemilihan soundtrack ala-ala sirkus zaman dulu yang berpadu dengan musik klasik menghadirkan rasa kalut. Napas kita serasa tercekat diantara desingan pisau dan senjata-senjata zaman dulu. Sayangnya, Matt Bettinelli-Olpin yang duduk di kursi director nggak berani mengeksplor plot lebih jauh. Seolah-olah kita cuma diajak menyelami kalutnya malam pengantin. It would be better if he add some mysterious history.But overall, Ready or Not adalah sajian yang menyenangkan dan bisa jadi pelepas penat.

 

Rating Zetizen: 7/10

Share
Create Your Own Article!