Di mata movie-geek, film Hereditary (2018) merupakan masterpiece yang membawa warna baru di genre horror. Nggak heran kalau kehadiran Midsommar (2019) dengan sutradara dan penulis naskah yang sama patut ditunggu-tunggu. Film yang bercerita tentang teror di desa terpencil Halsingland ini dirilis pada Agustus lalu. Di Indonesia sendiri, Midsommar baru dirilis minggu lalu. Yang anehnya, menuai kekecewaan. Kenapa sih?

Banyak Adegan yang Nggak Lolos Sensor


Midsommar bercerita tentang Dani (Florence Pugh), Christian (Jack Reynor), Mark (Will Poulter), dan Josh (William Jackson Harper) yang pergi ke Halsingland, kampung halaman Pelle (Vilhem Blomgren), sahabatnya. Mereka datang untuk mengerjakan thesis tentang festival 9 hari yang hanya diadakan 90 tahun sekali. Halsingland dikenal punya keteraturan tingkat tinggi dengan malam yang sedikit. Tapi, kedatangan mereka diiringi dengan teror yang bukan hanya membunuh mereka, tapi juga menggunakan mereka sebagai bagian dari festival.

As we know, Ari Aster adalah sosok sineas yang disebut-sebut mampu membuat genre baru dalam horror, yakni psychology horror. Aster juga lekat dengan kisah pengkultusan atau gore scene yang terkait dengan ritual serta aliran sesat dalam agama. Scene-scene seperti mutilasi atau bagian tubuh yang terpotong menjadi hal yang nggak bisa dilepaskan dari sosok Aster.

Film Midsommar sendiri punya banyak scene keji nan berdarah-darah yang dilakukan penduduk Halsingland pada Dani dkk. Misalnya, adegan dikuliti hingga mutilasi. Dan tentu saja hal itu nggak bisa lolos dari sensor LSF. Total ada 9 menit yang dihilangkan sebelum masuk ke bioskop-bioskop di Indonesia


Plot Berubah


Karena 9 menit hilang, otomatis kita nggak tahu gimana plot yang lengkap, dong. Misalnya, apa sih yang terjadi dengan adik dan orangtua Dani yang mati terbunuh. Atau apa yang terjadi dengan Connie (Ellora Torchia) dan Simon (Archie Madekwe), pendatang lainnya yang tiba-tiba hilang begitu saja. Lucunya lagi, sensor ini bikin kita nggak tahu apa yang terjadi pada tokoh utamanya, Mark dan Josh.

Padahal, merujuk pada plot aslinya, film ini mirip kaya KKN di Desa Penari, loh. Soalnya, keempatnya datang ke suatu tempat terpencil, di tengah hutan, lalu diserang oleh penduduk asli. Banyak pihak yang bilang Midsommar merupakan horror tingkat baru. Vox, misalnya. “Midsommar menunjukkan bahwa dunia bisa dikontrol. Aster tahu betul bagaimana cara menciptakan film horror tanpa ada hantu dan terror mahluk gaib,” ujarnya.


Ekspektasi Terlalu Tinggi


Dalam trailer commentar-nya, IMDB bilang kalau tingginya ekspektasi atas kesuksesan Hereditary bikin banyak pihak kecewa sama Midsommar. Barangkali Indonesia termasuk salah satunya. Misalnya, plot yang terlalu jelas. Dalam Hereditary, kita dibikin super bingung dan penasaran sama apa yang terjadi sama keluarga tersebut. Di Midsommar, cuma nonton trailernya aja kita langsung tahu kalau ada pengkultusan dan tradisi creepy di dalamnya.

Tapi, ekspektasi masyarakat cukup terpenuhi lewat visual Midsommar yang superb! Selain tone yang terang, cerah dan memanjakan mata, teknik pengambilan gambarnya benar-benar menciptakan rasa takut dan mual. Good job!

*

Rating Zetizen: 8/10






Share
Create Your Own Article!