Zetizen.com - DC selalu berhasil menghadirkan sosok antihero atau bahkan superhero dengan pembangunan karakter yang kuat. Nggak heran kalau DC punya basis fans yang setia dan loyal. Lewat Joker, fans maupun yang baru kenal DC dibuat terperangah oleh jalan cerita yang fantastis dan akting Joaquin Phoenix yang menggila. Selama 2 jam lebih, rasanya seperti nggak nonton film villain yang biasanya penuh dengan aksi bela diri maupun kekuatan yang muncul tiba-tiba. Tapi kita diajak menyelami kehidupan sang Badut dengan sinematografi dan musik yang memorable. Layak jika Rotten Tomatoes menyematkan rating 7,3% dan IMDB sebesar 9. Beberapa langkah dari bioskop, kamu dihinggapi rasa sedih, cemas, jijik hingga speechless yang terasa menyenangkan dan puas.

Sebelum naik panggung bersama Murray, Fleck menyiapkan diri dengan dandanan yang menyuarakan pandangan politiknya (foto: IMDB).

Adalah Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), seorang badut yang bekerja di Haha's, perusahaan yang mempekerjakan badut untuk berbagai acara. Set waktu tahun 80-an menangkap lanskap kota Gotham yang sarat aksi demonstrasi dan penolakan atas pemerintah. Hal itu ditunjukkan lewat tumpukan sampah dan bangunan yang dipenuhi vandal. Fleck tinggal bersama Ibunya yang putus asa dan terus berharap suratnya dibalas oleh Thomas Wayne (Brett Cullen), Ayah Bruce Wayne a.k.a Batman ini adalah politisi sekaligus pengusaha yang sedang mencalonkan diri sebagai walikota.

 

Lanskap Gotham yang kumuh disajikan dalam berbagai aksi vandal (foto: IMDB).

 

Film berjalan lambat dengan cerita tentang latar belakang Fleck. Mulai mimpinya berada di Live with Murray Franklin yang dipandu oleh Murray Franklin (Robert de Niro), usahanya menjadi Stand-up Comedian, hingga warga kota Gotham yang dipenuhi orang jahat dan seksis. We all know him as someone who have mental illness. Todd Phillips yang duduk di kursi sutradara dan writer tahu betul cara menyampaikan masalah kejiwaan yang tengah ramai dibicarakan. Hal itu tertuang dalam penyakit Fleck yang terus tertawa tanpa sebab. Bagi fans DC yang mengikuti cerita sejak di komik, detail ini terasa menyenangkan. As we know film-film DC jarang banget mengikuti versi komik. Tapi buat yang baru menyelami DC, detail ini terasa dark. Mengingat tawa Fleck yang benar-benar lepas namun terasa getir dan menyimpan kengerian. 

 

Fleck dikisahkan punya penyakit yang membuatnya terus tertawa tanpa sebab, dimanapun dan kapanpun (foto: IMDB).

 

Cerita baru berkembang ketika Fleck membunuh tiga orang di kereta bawah tanah. Film tiba-tiba saja berubah menjadi kisah pemberontakan. Lengkap dengan rasa marah masyarakat atas ketidakbecusan pemerintah menangani masalah. Akhirnya masyarakat menjadikan badut sebagai simbol atas pemberontakan, mengingat tiga orang yang dibunuh Fleck merupakan pegawai Wall Street. Masyarakat menilai ketiganya adalah antek pemerintahan yang secara nggak langsung menyengsarakan masyarakat.

Film terus berjalan seiring dengan rahasia-rahasia kecil yang baru diketahui Fleck. Hingga muncul kata-kata yang memorable hingga kini,

 

"I thought my life was a tragedy but now I realize it's a comedy,"

 

Film ini menuai banyak pujian berkat plot yang menarik dan kualitas akting Phoenix yang epik. Di sisi lain, Joker bakal dibilang membosankan dan nggak jelas oleh mereka yang biasa nonton film superhero penuh efek CGI dan kekuatan yang muncul dengan tiba-tiba. Karena keistimewaan DC adalah menampilkan superhero maupun villain tanpa super power, melainkan kisah yang menonjolkan tragedi maupun peristiwa-peristiwa yang membuat sosoknya menjadi lebih kuat atau lebih jahat.

Film Joker sarat CGI maupun aksi bela diri. (foto: IMDB).

 

Dalam Joker, Zetizen benar-benar dibuai tata musik yang elegan ketika menggambarkan kerasnya kehidupan Fleck. Gesekan biola yang terdengar berat, berpadu kemarahan masyarakat yang ditangkap dalam berbagai aksi demokrasi membuat Joker terasa kaya dan berkualitas. Phoenix berhasil tampil ekspresif dan menggambarkan Fleck sebagai lelaki dengan kerusakan otak. Seperti scene ketika Fleck tertawa keras-keras ketika menggoda anak kecil, atau ketika Fleck menemukan rahasia besar tentang orangtuanya. Air mata, kerutan, hingga lengkung bibirnya mampu mendeskripsikan perasaan tanpa harus mengutarakan kalimat.

Rating Zetizen: 9/10

 

Share
Create Your Own Article!