Zetizen.com - Stephen King kembali meneror di rawa-rawa penuh dedaunan tinggi. Tentu bukan kembali hidup ala zombie, namun dalam buku In the Tall Grass yang difilmkan oleh Netflix. Sesuai dengan judulnya, In the Tall Grass bercerita tentang teror penuh rahasia di balik dedaunan tinggi. Filmnya klise dan nggak begitu menyeramkan. Barangkali kalau King masih hidup, dia akan sama kesalnya seperti ketika The Shining dirilis pada tahun 80-an. Layaknya karya-karya King lain yang nggak memunculkan sosok astral yang menakutkan, In the Tall Grass berfokus pada sosok Ross (Patrick Wilson) yang psikopat dan berusaha membunuh semua orang.

 

In the Tall Grass berfokus pada sosok Ross (Patrick Wilson) yang psikopat dan berusaha membunuh semua orang (foto: IMDB).

 

In the Tall Grass bercerita tentang rawa yang dipenuhi dedaunan tinggi di Kansas. Layaknya jalanan antar kota biasanya, kamu disuguhi pemandangan jalanan yang panjang dengan ladang, perkebunan dan juga rawa di kanan kirinya. Ada Becky DeMuth (Laysla de Olieveira) yang mual di pinggir jalan, di seberang gereja dengan banyak mobil yang terparkir di halamannya. Kakaknya, Cal DeMuth (Avery Whitted) pun memutuskan untuk menghentikan mobil. Tiba-tiba mereka mendengar suara anak kecil yang meminta pertolongan. Suara itu datang dari dalam rawa. Cal menyusul Becky yang terlebih dulu masuk ke dalam rawa. Sayangnya, mereka berdua terpisah. Becky mulai menyadari ada yang nggak beres ketika mereka berdua masih terjebak disana hingga malam.

 

 

Dalam pencarian, keduanya bertemu dengan Tobin Humbolt (Will Buie), si anak kecil yang juga asal suara penyebab mereka masuk ke dalam rawa. Tobin bersama sang Ayah, Ross dan Ibunya, Natalie (Rachel Wilson). Ketiganya terjebak di dalam karena suara lelaki yang meminta tolong. Ross mengaku sudah menemukan jalan keluar berkat batu raksasa yang disebutnya sebagai batu penebusan hanya dengan menyentuhnya. Teror datang ketika Ross memaksa Becky dan Cal untuk menyentuh batu tersebut. Tiba-tiba Natalie datang dan mencegah perbuatan Ross. Menurut Natalie, Ross sudah mati dan yang berdiri di hadapan mereka hanyalah Ross yang sudah dirasuki arwah lain. Teror dimulai ketika Ross menutup mulut Natalie dengan meremukkan kepalanya dan mengejar Becky, Cal serta Tobin.

 

Kehadiran Laysla, pemeran Becky cukup jadi angin segar karena kehamilannya yang tampak ringkih bikin makin creepy (foto: Indiewire).

 

Sementara itu, diluar rawa, ternyata waktu sudah berjalan lebih dari dua bulan. Travis (Harrison Gilbertson), kekasih Becky pun memutuskan untuk mencari Becky dan berhenti ketika melihat mobil Cal di depan gereja. Ia yang akhirnya bertemu dengan Becky dan Cal membuat semua orang kebingungan karena perputaran waktu yang nggak sama. Apalagi, ternyata Travis lah yang membuat Humbolt sekeluarga masuk ke dalam rawa. Artinya, time loop dimainkan oleh rawa. Film terus berlanjut dengan usaha Travis, Becky, Cal dan Tobin untuk mencari jalan keluar sekaligus menghindar dari kejaran Ross yang memaksa mereka untuk menyentuh batu penebusan.

 

Barangkali kalau King masih hidup, dia akan sama kesalnya seperti ketika The Shining dirilis pada tahun 80-an (foto: IMDB).

 

Permainan time loop sejenak bikin Zetizen lupa kalau ini film horror karya Stephen King. Jujur, embel-embel based on Stephen King's book bikin ekspektasi Zetizen melonjak tinggi. Tapi ternyata In the Tall Grass berubah jadi film ala psychological thriller, lengkap dengan tambahan time loop yang klise. Film garapan VIncenzo Natali ini diselamatkan oleh open ending yang bikin kita bebas berasumsi atau malah kembali ke buku untuk mencari tahu gimana sih ending yang jelas dari film ini. Karena ternyata, ada hubungan yang jelas antara batu raksasa di tengah hutan dan gereja di seberang jalan. Horrornya nggak begitu terasa karena sepanjang film, kita lebih banyak diajak main kejar-kejaran di dalam rawa. Gore scene juga nggak begitu banyak. Rasanya sayang banget menyewa Patrick Wilson untuk tampil di beberapa scene. Kehadiran Laysla, pemeran Becky cukup jadi angin segar karena kehamilannya yang tampak ringkih bikin makin creepy. Sementara dress birunya yang kontras dengan dedaunan hijau juga cukup jadi penyegar mata. Overall, film ini cocok buat kamu yang pengen olahraga otak. Tapi two thumbs down karena gagal membawakan masterpiece Stephen King.

Rating Zetizen: 6/10

Share
Create Your Own Article!