Zetizen.com - Genre romcom alias Romantic Comedy nggak pernah gagal menjaring massa. Mulai dari zaman Amelie (2001) hingga yang terbaru, The Perfect Date (2019) yang dibintangi everyone's boyfriend, Noah Centineo. Kancah perfilman Indonesia juga nggak mau kalah bersaing. Yang terbaru, ada film Cinta itu Buta. Dibintangi oleh Dodit Mulyanto dan Shandy Aulia, film berdurasi 129 menit ini berpusat pada kisah tentang Diah (Shandy) yang tiba-tiba buta karena patah hati. Lalu datang Nik (Dodit) untuk menemani hari-hari Diah yang gelap. Dengan setting di Gamcheon, Busan, Korsel, sebenarnya film ini bisa meraup jutaan penonton. Apalagi Rachmania Arunita dikenal sebagai pionir berbagai film romcom di Indonesia. Misalnya, Eiffel I'm in Love (2003) hingga Lost in Love (2008). Sayangnya, akting kaku dan dialog yang terasa dibuat-buat bikin Cinta itu Buta terasa cringe, bukan bikin trenyuh. FYI, film ini di adaptasi dari Kita Kita, film asal Filipina dengan jalan cerita yang sama persis. 

Cerita diawali dari Diah yang tinggal di kota Gamcheon, Busan, Korea Selatan. As we know kota ini terkenal dengan lanskap kota yang epik. Nggak heran kalau selama lebih dari tiga puluh persen film menampilkan lanskap kota warna-warni dengan gemerlap lampu. Diah merupakan tour guide yang lagi digantung sama Jun Ho (Chae in Woo), tunangannya. Turns out, dia dikhianati oleh sang tunangan dan sahabat. Dalam perjalanan pulang, Diah kehilangan penglihatannya.

Kemudian muncul Nik alias Nikmatullah, cowok asal Jogja yang datang ke Korea buat menyembuhkan luka hati paska dikhianati tunangannya. Nggak heran kalau keduanya klop banget. Apalagi di tengah kondisi Diah yang sedang tertutup dan down, Nik hadir sebagai mata Diah dengan romantis. Awal-awalnya sih banyak penolakan, tapi dengan kegigihan Nik, akhirnya Diah luluh dan menunggu-nunggu kehadiran Nik tiap harinya.

Film dibuka dengan cringe oleh dialog yang terasa nggak real. Misalnya, obrolan Diah dengan kliennya yang terasa canggung dan nggak natural. Untungnya, menit-menit berikutnya berjalan dengan sangat manis dan romantis berkat jokes dan ekspresi Nik yang ngeselin tapi juga bikin melting. Pemandangan yang sejuk nan cerah juga disajikan sebagai pemanis dengan cerdas. Nggak heran. Rachmania Arunita yang juga tampil sebagai cameo selalu jago meromantisasi tempat-tempat epik.

Bagian ending film bikin kesel abis. Soalnya, film ditutup dengan ending yang klise layaknya film dan FTV ala Indonesia. Selain itu, ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Misalnya, nama penyakit yang bikin Diah tiba-tiba buta. Atau pekerjaan utama Nik yang bikin dia jadi gembel dan jutawan di saat yang sama. Ketidak konsistenan ini menghilangkan seluruh aftertaste yang harusnya bisa terbangun sejak awal. So sad.

***

Rating Zetizen: 6/10

Share
RELATED ARTICLES
Create Your Own Article!