Zetizen.com - Belajar itu bisa dari siapa dan kapan aja. Seperti yang dilakukan oleh Tamarine Putri. Tamarine adalah mahasiswi Hukum dari Universitas Negeri Surabaya. Cewek yang dikenal ulet dan telaten ini pernah melanglang buana ke berbagai negara. Selain New York, Tamarine pernah mengajar Bahasa Inggris di Thailand. Berkat program AIESEC Global Volunteer, Tamarine terbang ke Thailand untuk bertemu dengan anak-anak yang butuh belajar Bahasa Inggris. Seperti apa sih pengalaman mengajar Tamarine Putri? Yuk simak!

 

Z : “Halo Kak Tamarine! Lagi sibuk apa sih?"

T : “ Halo Zetizen! Sekarang aku lagi aktif magang di Kementerian Luar Negeri, tepatnya di Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Kewilayahan selama Oktober sampai November 2019. To be honest aku melamar magang bulan Juni setelah selesai sidang skripsi, karena nunggu untuk wisuda, tapi baru ditelfon dari KEMLU untuk magang setelah wisuda. Akhirnya aku take this opportunity.”

Z: “Gimana cara ikut kegiatan AIESEC? Apakah ada tips and trik untuk bisa sampai ke tahap tersebut?”

T : “Awal bisa ikut karena aku melihat salah satu temanku yang punya kegiatan sosial di luar negeri dan langsung saja aku cari tahu what is AIESEC? Langsung aku buat akun dan dan mendaftar, awal nya aku dapat confirmation email gitu dan dihubungin dari AIESEC Surabaya untuk melakukan pertemuan awal sama tim AIESEC, disitu aku dijelasin tentang AIESEC itu apa dan program yang mereka punya itu apa aja. Setelah dijelasin semua, aku tertarik dengan program Outgoing Global Volunteer selama 6 weeks di luar negeri.

Ada banyak pilihan negara yang bisa dipilih. Tapi karena berbagai pertimbangan, aku memilih Thailand. Alasannya karena di Thailand serba murah. Selain itu karena aku memilih program yang menitikberatkan pada SDG's (Sustainable Development Goals) nomor 4 yaitu quality education. Jadi aku tertarik karena memang di Thailand Bahasa Inggris bukan bahasa wajib mereka. Banyak sekali warga Thailand yang nggak bisa berbahasa Inggris, terutama di wilayah terpencil di Thailand. It's challenging for me.

Tips and triknya, kalian harus sering cari informasi. Karena semakin tinggi rasa ingin tahu kalian, maka makin banyak kesempatan,"

Suasana belajar bersama Kak Tamarine Putri (foto : dokumen pribadi)

Z : “Gimana sih budaya yang berkembang di Thailand?”

T : “Mostly masyarakat Thailand beragama Buddha dan banyak wihara dimana-mana. Sebagai orang Asia, Thailand sama halnya dengan Indonesia, karena masyarakat sangat ramah dan  menghargai perbedaan. Namun, bagi yang muslim akan sangat susah untuk mencari makanan karena rata-rata banyak yang nggak halal, "

Z : “Disana aktif kegiatan apa? Apa kegiatan  yang paling menyenangkan?”

T : “Aku aktif mengajar TK sampai SMP hari Senin sampai Jumat dengan daily hours jam 08.00-15.00. Kegiatan yang menyenangkan itu saat berhasil bikin murid-murid bisa ngomong Bahasa Inggris sih, karena memang ngajar mereka susah sekali. Dan aku juga harus belajar Bahasa Thailand yg sangat susah buatku, hehehe. Apalagi huruf Thailand cukup sulit. Senengnya lagi sekolah tempatku mengajar juga sering ngajak study tour  jadi sekalian jalan-jalan.” 

Kebersamaan Tamarine Putri dengan murid-muridnya (foto: Dokumen Pribadi)

Z : “Seperti apa sih lingkungan disekitar tempat tinggal kakak?”

T : “Lingkungan disekitarku itu desa terpencil, 4 jam dari Bangkok dan terpencil. Banyak anjing dimana-mana, jadi aku takut kalau keluar sendirian wkwk.”

Z: “Ada aturan apa yang diterapkan oleh keluarga yang dijadikan tempat tinggal?

T : "Bersyukur sih hostfamily aku nggak nerapin aturan. Tapi aku sadar aku berhutang budi dengan mereka. Jadi aku benar-benar memastikan kalau aku nggak merepotkan dan mengikuti kebiasaan mereka," 

Kak Tamarine Putri saat mengajar (foto : Dokumen Pribadi)

Z: “Sejauh ini apa pengalaman menarik  waktu masih tinggal disana?”

T : “Pertama, aku jadi kenal banyak temen dari berbagai negara. Terus, aku jadi orang yang lebih mandiri dari sebelumnya. Ketiga, aku jadi orang yang lebih open minded gitu, karena di Thailand banyak yg gay, lesbi, bisex dll dan itu terjadi sama muridku sendiri and it was totally breaks my heart. But disitu aku belajar kita nggak boleh berpikiran sempit.

Keempat, ikut seneng bisa bermanfaat bagi orang lain dengan ngebantu mereka dari yang nggak bisa jadi bisa. Kelima jadi tahu nggak gampang jadi guru, apalagi kalau muridnya rewel.”

Z : “Apa sih motivasi untuk tetap konsisten sampai di titik ini?”

T : “Because i have a dreams that i should to achieve it and i love my family”

Z: “Untuk sebagai penutup apakah ada pesan yang ingin disampaikan?”

T: “Pesan dariku, kalian harus berani dan percaya diri kalau setiap manusia pasti memiliki kemampuannya masing-masing. Jadi jangan takut untuk gagal. Last but not least, jadilah manusia yang selalu bersyukur dalam segala hal”

 *

Pengen tahu cerita Go Abroad lainnya? Yuk simak tulisan Nadya Christian

Share
Create Your Own Article!