Zetizen.com - Yang namanya film sekuel, nggak akan bisa lepas dari film keduanya. Sebut saja IT: Chapter Two (2019) yang lebih banyak menuai kritikan daripada film pertamanya. Termasuk Doctor Sleep (2019), sekuel dari The Shining yang lebih dulu dirilis tahun 1980. Meski sama-sama diangkat dari buku karangan Stephen King, namun banyak orang menghujani Doctor Sleep dengan kritikan daripada pujian. Ada apa?

Plot Nggak Rapi


Kalau kamu baca bukunya, kamu bakal tenggelam dalam semesta Stephen King di mana ada kelompok penghisap kekuatan (Shining) bernama True Knot. Di sisi lain, ada Danny Torrance (Ewan McGregor) bersama Abra (Kyliegh Curan) yang berusaha menghindari True Knot dengan kembali ke Hotel Overlook. Dalam The Shining, diceritakan bahwa Danny adalah anak dari Jack Torrance (Jack Nicholson) dan Wendy (Shelley Duvall). Jack bekerja untuk menjaga Hotel Overlook pada musim dingin. Nggak disadari ternyata Hotel Overlook menyimpan kekuatan gelap yang merasuki Jack hingga memburu anak dan istrinya.

Ketika tumbuh dewasa, Danny masih tenggelam dalam bayang-bayang Ayahnya dan berusaha menutup kekuatan yang Ia punya. Tanpa Ia sadari, ternyata Ia bisa berhubungan dengan Abra, seorang anak berusia 13 tahun yang tahu bahwa keduanya sedang diburu oleh The True Knot pimpinan Rosie the Hat (Rebecca Ferguson).

The True Knot merupakan kelompok nomaden yang bisa hidup berabad-abad dengan menyerap uap atau perasaan dari orang-orang dengan Shining. Dengan kekuatan besar yang dimiliki Abra dan Danny, True Knot pun berusaha untuk memburu uap mereka. Nah, menyatukan tiga aspek cerita yang benar-benar berbeda jadi tantangan besar bagi Mike Flanagan, sutradara. Sayangnya, porsi cerita yang nggak imbang bikin bosan. Belum lagi transisi cerita yang lompat-lompat dan nggak rapi bikin bingung. Terlebih buat mereka yang belum nonton The Shining.


Banyak yang Menuhankan Kubrick


Bagi movie geek, sutradara dengan style film tertentu adalah Tuhan. Bukan hanya menciptakan perasaan mengagung-agungkan, tapi kadang juga meremehkan karya sutradara lain. Sayangnya, hal itu juga terjadi pada Mike Flanagan.

Sebelumnya, Flanagan dikenal sebagai director untuk beberapa thriller-horror movie. Sebut saja The Haunting of Hill House (2018), Oculus (2015) dan beberapa karya lain. Sayangnya, hal itu nggak bikin orang-orang mau 'terjun' ke dalam dunia Flanagan. Malah lebih banyak yang membandingkan dengan semesta Kubrick.

Salah satunya adalah Noah Berlatsky dari NBC News. "Doctor Sleep nggak hanya mengecewakan, tapi juga nggak bisa dikategorikan sebagai film horror. Lebih cocok jadi film superhero yang berusaha lari dari kelompok jahat," tulisnya.


Jajaran Aktor Dan Aktris yang Nggak Total


All do their best except Abra (Kyliegh Curan). Perannya benar-benar emotionless dan datar. Benar-benar disayangkan, mengingat di The Shining, kita disuguhkan dengan akting epik Danny kecil (Dannyl Lloyd). Meski diceritakan sebagai sosok yang punya kekuatan dan fearless menghadapi kelompok jahat, Abra terlihat nggak bisa mengekspresikan rasa takut, kuat, maupun sedih. Tangisannya terasa kosong dan nggak berarti.

Di sisi lain, give big applause to Rebecca Ferguson yang memerankan Rose the Hat. Tatapan tajam ya benar-benar menunjukkan jiwa seorang pemburu. Aksi gore penuh darah juga membuatnya tampak seolah benar-benar menjadi pembunuh. Good job!

*

Yuk baca berita lain tentang film disini.


Share
Create Your Own Article!