Zetizen.com - Film Disney nggak pernah habis dibahas karena selalu berhasil menyuguhkan cerita yang identik dengan imajinasi anak-anak. Kisah fantasinya yang unik juga bikin kita bisa rehat dari kesibukan sehari-hari. Apalagi, ada banyak ide cerita segar dibalut dengan alur rapi serta visual epik. Tapi sadar nggak sih ada banyak pesan tersembunyi dalam berbagai film Disney? Apa aja sih?

 

Mental Disorder– Film Finding Dory (2016)

Kehilangan memori jangka pendek membuat Dory terpisah dari orangtua (foto: IMDB)


Sekuel dari Finding Nemo (2003) ini bercerita tentang Dory (Ellen DeGeneres), seekor ikan biru yang sedang bermasalah dengan ingatan jangka pendeknya. Dory belajar bagaimana bisa bertahan hidup dengan penyakitnya dan berusaha menjelaskannya kepada orang lain. Ketika dia terseret arus air dan kehilangan orang tuanya, dia benar-benar tersesat, dan nggak mengenali siapa dirinya. Hal ini adalah kenyataan yang bisa dihadapi orang-orang dengan gangguan memori jangka pendek.

Di film ini, pesan tentang mental disorder nggak cuma ditunjukkan lewat Dory. Ada juga kisah tentang Hank si gurita yang mewakili depresi serta paus bernama Bailey mewakili kecemasan. Film ini memperlihatkan realita dan perjuangan orang-orang yang punya gangguan mental. Finding Dory mampu menginspirasi kita buat turut andil membantu dan mendukung penderita mental disorder untuk keluar dari ‘lingkaran’ insekuritas dan mampu melanjutkan hidup.

Susahnya Jadi Introvert - Frozen (2013)

Ketika Ia nggak sengaja menunjukkan kekuatannya, orang-orang malah menjauhinya dan memanggil monster. (Foto: YouTube)

Di kisahkan Frozen (2013), Elsa (Idina Menzel) harus menyembunyikan kepribadian dan kekuatannya sejak dia masih kecil karena sihirnya. Orang tua Elsa nggak pernah membantunya belajar menjadi dirinya sendiri. Elsa memilih buat menutupi dan berusaha agar dirinya pantas di masyarakat. Sarung tangan yang diberikan oleh orang tuanya memberikan gambaran untuk upaya mereka untuk menyembunyikan suatu keistimewaan agar tetap terlihat seperti normal dan diterima di masyarakat. Elsa juga mengenakan sarung tangan itu seumur hidupnya dan berusaha menjadi 'normal'. Ketika Ia nggak sengaja menunjukkan kekuatannya, orang-orang malah menjauhinya dan memanggil monster.

Scene ini menunjukkan bahwa segala jenis minoritas sosial yang ada di masyarakat bakal kalah sama yang mayoritas. Akhirnya, perbedaan maupun keistimewaan kita harus mengikuti standar normal masyarakat. Dalam kisah ini Frozen memberikan pelajaran untuk kita, bahwa kita boleh berbeda dan siapapun memiliki tempat di dunia ini. Disney menunjulkkan pesan bahwa menghormati adalah kunci, nggak peduli darimana kita berasal.

 

Guilt Tripping - Tangled (2010)

Gothel selalu merundung penampilan Rapunzel agar Rapunzel selalu berada di sisinya. (Foto: IMDB)

Kesal nggak, sih selalu diremehkan oleh orang tercinta? Dalam film Tangled (2010), apa pun yang dikatakan Ibu Gothel (Donna Murphy) kepada Rapunzel (Mandy Moore) nggak jauh dari upaya merendahkan. Gothel selalu merundung penampilan Rapunzel agar Rapunzel selalu berada di sisinya. Fenomena guilt tripping ini biasa terjadi dalam hubungan di mana salah satu pihak merasa insecure dan ingin mengikat pihak lainnya agar nggak berpaling.

Selain itu, film Tangled menunjukkan bahwa Rapunzel terlalu naif dan nggak bakal bisa membela dirinya sendiri. Gothel mencoba membuatnya menjadi tergantung dengan dirinya secara emosional.
Ibu tiri jahat ini juga nggak membiarkan ijin Rapunzel meninggalkan menara bagaimanapun caranya.
Tangled bisa jadi ilustrasi yang epic tentang orang tua atau orang tercinta yang sering menjatuhkan daripada mengajak pasangannya bangkit.

Kelas Sosial - Toy Story 3 (2010)

Film Toy Story 3 secara jelas menggambarkan adanya kediktatoran mulai dari adanya kelas sosial. (Foto: IMDB)

Dalam Toy Story (2010) seri ketiga ini, diceritakan Andy (Charlie Bright) yang sudah mulai beranjak remaja. Ia merelakan untuk menyumbangkan mainannya ke pusat penitipan anak. Tempat penitipan anak ini dipimpin oleh boneka beruang bernama Lotso (Ned Beatty). Meskipun terlihat menyenangkan dan asik, ternyata tersembunyi aura kediktatoran. Lotso punya kekuasaan mutlak atas seluruh permainan yang ada di penitipan anak.


Film ini secara jelas menggambarkan adanya kediktatoran mulai dari adanya kelas sosial. Seperti yang dijelaskan lewat adegan dan dialog film dimana golongan elit yang tinggal dan bermain bersama anak-anak di ruangan yang sama. Sementara mainan golongan yang marjinal berada di ruangan yang berbeda dan nggak ada yang merawat mereka. Apa kamu menemukan pesan tersembunyi lainnya? Share di kolom komentar ya!

 *

Temukan konspirasi film lainnya disini!

Share
Create Your Own Article!