Kobaran semangat para sineas begitu hangat dirasakan pada JAFF 2019. Selama lima hari, interaksi langsung dengan para penikmat film sekaligus mereka yang ada dibalik layar turut membagikan banyak ilmu. Untuk semua pemutaran film, terhitung keseluruhan lebih kurang enam ribu penonton yang memadati di semua studio Empire XXI. Ini menjadi pembuktian Jogja-NETPAC Asian Film Festival berhasil mengguncangkan Jogjakarta. Sampai di penghujung acara, tepatnya Sabtu (23/11) jadi momen penting sebagai malam penganugrahan. Film apa aja yang berhasil membawa pulang piala penganugrahan? Yuk, ikutin liputannya bareng Zetizen!

Sebelum resmi ditutup, masih ada rangkaian pemutaran film yang masih bisa dinikmati oleh para sineas. Salah satunya pemutaran film Mountain Song yang disutradari Yusud Radjamuda, yang baru saja menyabet penghargaan di Shanghai International Film Festival (SIFF 2019) untuk kategori Best Scriptwriter Asian New Talent Award.

Yusuf Radjamuda saat sesi Q&A setelah pemutaran film Mountain Song (foto : Zetizen Team)

Film Mountain Song yang bercerita tentang kehidupan seorang anak bernama Gimba, dalam menjalani bagaimana sulitnya kehidupan di daerah pegunungan Pipikoro, Sigi, Sulawesi Tengah.

Film ini menunjukan realita masih buruknya akses dari daerah pegunungan Pipikoro menuju pusat kota. Gimba yang masih berusia belia, melihat realita yang menyedihkan. Ia mengetahui secara langsung banyak warga desa yang sakit terpaksa harus kehilangan nyawanya dalam perjalanan tersebut.

Nggak kalah seru, JAFF Education yang menghadirkan Dimas Djayadiningrat dan mengangkat topik How to Make a Content of Your Work. Dimas Djay mengupas apa aja yang menjadi rahasia kerjanya di balik layar.

“Di depan client, kita harus sajikan data-data yang jelas, referensi yang sesuai, dan jangan setengah-setengah,” tutur Dimas Djay.

Dimas Djay enjoy membagikan ilmu tentang menciptakan konten yang baik dalam industri perfilman. (foto: Zetizen Team)

Menuju malam penganugrahan, halaman Empire XXI Jogjakarta sudah dipadati para penonton yang antusias untuk menyambut momen penting ini. Nggak ketinggalan, para sineas dari berbagai negara juga turut hadir pada malam itu.

Gegap gempita dan tepukan tangan yang meriah mengiringi penyebutan nama-nama film yang berhasil menyabet berbagai kategori. Berikut film-film yang berhasil membawa pulang trophy penganugrahan.

  • Blencong Award dan Jogja Film Student Award dibawa pulang oleh Film Diary of Cattle oleh Lidia Afrilita, David Darmadi-Indonesia
Penghargaan kepada Film Diary of Cattle oleh Lidia Afrilita, David Darmadi-Indonesia. (foto : Zetizen Team)
  • Geber Award diberikan kepada Film Ama oleh Dominic Sangma –India

Untuk Geber Award ini adalah penghargaan yang diberikan oleh komunitas film dari berbagai kota di Indonesia untuk film Asia terpilih. 

  • Best Script dan Best Director disabet oleh Gina S.Noer dalam Film Dua Garis Biru
    Salman Aristo mewakili Gina S.Noer dalam malam penganugrahan. (foto: Zetizen Team)
  • Best Perfomance dianugrahkan kepada Laura Basuki dalam Film Susi Susanti : Love All
  • Best Cinematography dianugrahkan kepada Yunus Pasolang dalam Film Susi Susanti : Love All
  • Best Film anugrahkan kepada Film Dua Garis Biru
  • NETPAC Award dianugrahkan untuk Film Nakorn-Sawan oleh Puangsoi Aksornsawang – Thailand dan Film Aurora oleh Bekzat Pirmatov-Kyrgztan.

NETPAC Award ini adalah sebuah penghargaan bagi sutradara Asia yang dinilai berhasil memberikan kontribusi sinematik untuk gerakan sinema baru Asia.

  • Silver Hanoman Award diberikan kepada Film The Science of Fictions oleh Yosep Anggi Noen- Indonesia
  • Golden Hanoman Award diberikan kepada Film House of Hummingbird oleh Bora Kim- South Korea & USA. 

Golden dan Silver Hanoman Award ini adalah penghargaan yang diberikan oleh dewan juri JAFF terpilih untuk film terbaik dari kategori kompetisi film panjang Asian Feature. 

Riuhnya penonton masih belum selesai, mereka tidak sabar pengen menikmati Closing Film Motel Acacia

Salah satu aktor yang bermain dalam Film Motel Acacia ini adalah Nicholas Saputra lho. (foto : IMDb)

Film horor yang satu ini menceritakan seorang anak laki-laki bernama JC yang dipaksa mengambil alih bisnis keluarga yang tiran dan asing dari kehidupannya. Bisnis ini adalah pengelolaan sebuah motel di tengah hutan yang menyediakan tempat untuk imigran ilegal atas nama pemerintah. Tapi, nggak disangka kalau Motel Acacia adalah sarang monster yang terperangkap dalam sebuah tempat tidur.

Banyak hal yang nggak terduga dan membuat film ini pantas sebagai closing film. After all, untuk semua volunteer dan yang terlibat langsung maupun dibalik layar JAFF 2019 kalian luar biasa. Sampai berjumpa lagi di JAFF 2020! Good job team!

Share
Create Your Own Article!