zetizen.com - Selama perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival, ada atmosfer positif yang dibangun di ruang forum komunitas. Tahu nggak sih, nggak jauh-jauh dari dunia perfilman, kekerasan seksual bisa dialami pekerja film, relawan kegiatan perfilman, dan bahkan penikmat film. Hal seperti itu bisa terjadi lewat percakapan-percakapan sindiran, pelecehan, dan pemaksaan seksual sampai eksploitasi seksual yang diselubungi iming-iming atau bahkan memanfaatkan posisi kuasa sebagai pemangku komunitas atau kegiatan perfilman.

Apa sih yang terjadi di balik dunia perfilman?

Mengupas apa yang terjadi di dunia perfilman. (foto:SGHT)

Kekerasan seksual ternyata bisa hadir di antara kursi-kursi bioskop dan meja-meja rapat para pekerja film. Sering ditemui kekerasan seksual yang dianggap remeh, malah kita pun nggak menyadari. Selain itu, sikap meremehkan praktik kekerasan seksual malah dimanfaatkan pelaku buat mengulangi perbuatannya. Kurangnya kesadaran yang dianggap terlambat bisa bikin beban psikis dan trauma.

#SinematikGakHarusToxic yang biasa disebut SGHT hadir ditengah-tengah JAFF 2019 kemarin lho.

Dari keresahan itu, buat mengurangi pointing finger pihak-pihak tertentu dengan tuduhan tanpa bukti dan menghindari gossip yang nggak jelas.

SGHT berusaha membangun ‘ruang aman bagi siapa pun’ untuk bercerita tentang kekerasan seksual yang udah dialami, dari pengaduan penyintas kekerasan seksual itu sendiri, atau dari teman-teman yang jadi saksi kekerasan seksual yang sudah diberikan kepercayaan dan izin sama penyintas secara langsung.

Semua pengaduan yang udah diterima #SinematikGakHarusToxic terjaga kerahasiaannya lho. SGHT sangat sadar, ada banyak alasan yang bikin seorang penyintas kekerasan seksual sulit menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang mereka alami, bahkan buat cerita sama orang terdekatnya.

 


Siapa sih dibalik #SinematikGakHarusToxic?

Lokakarya Pencegahan Kekerasan Seksual #SinematikGakHarusToxic. (foto:SGHT)

#SinematikGakHarusToxic ini ada karena inisiatif dari sembilan orang yang bekerja dan bersinggungan dengan komunitas film dan berbagai kegiatan perfilman. Sembilan orang ini adalah Adrian Jonathan Pasaribu, Agus Mediarta, Albertus “Obe” Wida, Amerta Kusuma, Arie Kartikasari, Lintang Gitomartoyo, Lisabona Rahman, Mazda Radita, dan Vauriz Bestika.

Para inisiator ini berusaha meningkatkan kesadaran pekerja, pegiat, pembuat keputusan, dan penikmat film lewat campaign dan diskusi yang dilakukan lewat kerja sama dengan ruang putar, festival film, atau penyelenggara forum.

“Kami percaya, kesadaran ini dapat memunculkan upaya individual dan sistematik untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk kekerasan seksual di lingkungan film. Kekerasan seksual seringkali kait-mengait dengan berbagai macam permasalahan sosial lainnya. Oleh karena itu, kami juga membuka kerja sama dengan organisasi atau program non-film,” ujar Vauriz Bestika, salah satu inisiator SGHT.


Apa sih yang dilakukan #SinematikGakHarusToxic?

SinematikGakHarusToxic yang terus menyebarkan energi positif untuk mencegah kekerasan seksual (foto:SGHT)

Untuk semakin menyebarluaskan energi positif #SinematikGakHarusToxic berkomitmen untuk terus membuat Lokakarya Pencegahan Kekerasan Seksual di Komunitas Film dan menjangkau teman dari berbagai komunitas di berbagai daerah. 

Selain itu, SGHT juga menyediakan form pengaduan, sebagai ruang aman buat pihak penyintas kekerasan seksual di lingkungan film untuk bisa menceritakan kejadian yang pernah dialami, dan pastinya ditindaklanjuti sesuai dengan keinginan pihak penyintas. Kalian bisa mengaksesnya di sini

Untuk menindaklanjuti pengaduan, sesuai dengan isian form yang sudah diterima SGHT bisa meneruskan aduan ke Komnas Perempuan untuk memberikan rekomendasi pendampingan psikologis atau bantuan hukum kepada penyintas. Nah, hal ini bakal dilakukan setelah mendapatkan
konfirmasi pihak pelapor via surel.

“Sejumlah pengaduan sudah masuk sejak #SinematikGakHarusToxic diperkenalkan. Beberapa teman-teman dari bidang film atau bidang lain juga kerap menanyakan perihal prosedur serta tindak lanjut dari pengisian form pengaduan. Sejumlah komunitas film juga menanyakan apakah mereka bisa membuat hal serupa, atau memulai kerja sama dengan organisasi di wilayahnya yang bergerak di bidang kekerasan seksual untuk mengembangkan form pengaduan, penanganan, dan bahkan prosedur pencegahannya,” tutur Vauriz Bestika


Apa sih yang harus kamu lakukan?

Diskusi yang terus di bangun oleh #SinematikGakHarusToxic (foto:SGHT)

Selain mengirimkan form pengaduan, kamu juga bisa mendukung #SinematikGakHarusToxic lho! Check it out!

1. Kamu bisa mengunggah bumper SGHT di akun media sosialmu. Unduh bumper dan caption-nya di sini.
2. Buat kamu yang begerak di eksibisi film, jangan lupa buat memutarkan bumper SGHT sebelum pemutaran film dimulai.
Nah, buat kamu yang pengen bekerja sama dengan #SGHT untuk membuat kampanye, diskusi, atau lokakarya bisa kepoin akun official instagram @sinematikgakharustoxic.


Share
Create Your Own Article!