Zetizen.com- Bagi sebagian orang, keluarga adalah motivasi terbesar untuk belajar dan terus berusaha. Termasuk  Alinda Putri Dewanti yang sedang menempuh pendidikan S1 jurusan jurnalistik di Ankara Hacı Bayram Veli University, Turki. Nggak muluk-muluk, Alinda bercita-cita nggak pengen merepotkan orang tua. Selama disana, gimana sih upaya Alinda mewujudkan cita-citanya? 

 Z  : “Halo Alinda! Gimana sih awalnya kamu bisa melanjutkan kuliah di Turki? Seperti apa prosesnya?"

A : “Halo Zetizen! Jadi awalnya aku iseng-iseng daftar beasiswa pemerintah Turki atau biasa disebut Türkiye Bursları. Secara teknis, prosesnya nggak terlalu panjang. Aku melalui 2 seleksi, ada seleksi berkas dan wawancara. Tapi proses menunggunya yang membuat aku harus sabar. Aku datang ke Turki akhir September 2017. Sekarang memasuki tahun ketiga di Turki, tapi aku baru kuliah tahun kedua. Karena 1 tahun pertama harus menempuh kursus bahasa Turki terlebih dahulu, Zet,”

Alinda tampil bermain angklung dalam International Ramadan Event. (foto : Dokumen Pribadi)

Z : “Seperti apa sih tempat tinggal kamu disana? Gimana sih lingkungan disekitar tempat tinggal kamu?”  

A : “Di sini aku tinggal di asrama yang fasilitasnya  sudah mencakup beasiswa yang aku terima. Jadi, beasiswa yang aku terima ini nggak cuma biaya pendidikan, tapi juga asrama, uang saku bulanan, asuransi kesehatan, dan tiket saat pertama kali datang dan ketika lulus nanti. Lokasi asramaku ada di dalam kota dan dekat kampus juga, jadi transportasi umum kayak metro dan bus lebih gampang dijangkau. Buat ke stasiun metro terdekat kurang lebih 7 menit kalau jalan kaki. Tapi, aku ke kampus lebih sering jalan kaki sekitar 20-30 menit. Kalau hampir telat sih baru naik bus, cuma berjarak 3 halte,”

Tampil bermain angklung bersama ibu-ibu DWP KBRI Ankara di International Ramadan Event. Dalam satu malam itu, khusus menampilkan kebudayaan dari Indonesia. (foto : Dokumen Pribadi)

Z: “Gimana sih kebiasaan makan kamu di Turki? Berapa biaya yang kamu keluarkan untuk sekali makan?"

A : “Jadi untuk makan pagi dan malam pun juga sudah disediakan asrama, Zet. For your information, aku tinggal di asrama pemerintah. Nah, di asrama pemerintah ini, makanan yang bisa dipilih beragam sesuai selera tapi tetap ada jatah. Untuk sarapan 4,5 TL (Kurs 1 TL: Rp2.400), dan makan malam 9,5 TL. Untuk makan siang, selama weekdays atau waktu aku ada kuliah, aku makan di kantin kampus. Biayanya juga cukup murah dan terjangkau, cuma 2 TL sudah termasuk nasi, lauk, sup dan dessert.

Kalau makan di luar, paling murah sekitar 7 TL, disebutnya döner kalau di Indonesia kayak kebab. Döner paling favorit sih, maklum mahasiswa kan hehe. Dan döner (kebab) di sini beda sama yang di Indonesia, di sini lebih bikin kenyang karena isinya cukup banyak dan porsinya jg lebih besar.

Z: “Gimana sih rutinitas kegiatan kamu?”

A : “Untuk rutinitas sehari-hari aku aktif sebagai mahasiswa pada umumnya, yang jelas aku kuliah, juga aktif berkontribusi di organisasi, hangout sama temen-temen, belajar, ngerjain tugas, dan pulang hehe. Disini aku cuma ikut organisasi pelajar Indonesia di Turki, nggak ikut organisasi di kampus. Karena itu saja sudah lumayan menyita waktu. Apalagi sekarang juga aku dapat amanah menjadi ketua FLP (Forum Lingkar Pena) Turki sampai bulan Maret nanti. Jadi sekarang aku fokus ke itu dulu,”

Sosial projek bersama teman-teman PPI Ankara kunjungan ke Rumah Pendidikan Turk Kizilay untuk anak-anak pengungsi di Turki. (foto: Dokumen Pribadi)

Z: “Gimana sih caranya bisa gabung di FLP? Apa aja kegiatan di FLP?”

A: “Awalnya aku tergabung jadi anggota FLP Turki lewat seleksi karya dan mengisi formulir. Tahun 2018 aku diajak untuk gabung di kepengurusan FLP Turki 2018-2019 setengah periode di divisi karya mengganti pengurus yang sebelumnya. Untuk menjadi ketua bukan karena aku mencalonkan diri, tapi ditunjuk langsung oleh ketua FLP Turki yang sebelumnya. Dan atas kesepakatan dan musyawarah bersama ketika Muswil (Musyawarah Wilayah) FLP Turki, aku terpilih jadi ketua FLP Turki 2019-2020.

Kegiatan FLP Turki selama ini pembuatan karya untuk buletin, website FLP Turki dan juga buku. Awal tahun depan buku antologi cerpen FLP Turki bakalan terbit. Bulan lalu kami juga baru mengadakan bincang asyik bersama kang Abik (Habiburrahman El-Shirazi) di Istanbul,”

Z : “Seperti apa sih  sistem perkuliahan di Turki? Apakah ada perbedaan dengan di Indonesia?”

A : “Kalau dari segi sistem perkuliahan, aku nggak bisa membandingkan dengan di Indonesia. Karena aku belum pernah merasakan yang di Indonesia. Cuma waktu aku lihat temen-temenku di Indonesia, aku merasa kuliahku paling santai. Mungkin tergantung jurusan juga, di jurusanku jarang ada tugas dan cuma ada 2 kali ujian. Ujiannya ada Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester. Meskipun kelihatannya gampang, yang jadi perbedaan juga di sini untuk mendapatkan nilai tinggi nggak gampang. Kalau dari cara pengajaran kurang lebih sih sama dengan di Indonesia.

Di tahun pertama masuk kuliah sudah pasti kesusahan. Karena aku kuliah dengan bahasa Turki. Ilmu yang aku dapat waktu kursus bahasa Turki seakan nggak ada apa-apanya. Dua minggu pertama masuk kuliah sempat down karena nggak ngerti dosennya ngomong apa. Terus aku coba pinjem catatan temen atau kakak tingkat, sering-sering baca buku dan kalau nggak ngerti diulang-ulang terus sampai ngerti. Biar gampang diingat, aku biasa nulis rangkuman poin-poin pentingnya. Kalau ada kata atau kalimat yang nggak paham, digaris bawahi dan biasanya aku tulis penjelasannya dalam bahasa Indonesia. Lama-lama aku jadi terbiasa,”

Belajar bersama salah satu anak di Rumah Pendidikan Turk Kizilay. (foto : Dokumen Pribadi)

Z : “Apa sih kegiatan yang menarik selama kamu tinggal di Turki?”

A : “Di Turki sering banget ada festival. Nggak sedikit juga festivalnya gratis dan bisa dihadiri oleh siapapun. Aku paling suka kalo ada festival atau kegiatan apapun yang bertema tentang promosi negara. Rasanya senang dan bangga bisa ikut serta mempromosikan Indonesia di Turki. Festival makanan juga nggak kalah menarik, aku bisa mencicipi makanan dari berbagai negara atau wilayah di Turki,” 

Z: “ Seperti apa sih budaya di Turki? Ada tempat yang biasa di kunjungi nggak selama di Turki?”

A : “Turki terkenal dengan negara yang sekuler, dan itu benar, Zet. Tapi orang-orang Turki ramah sama orang asing apalagi orang Indonesia. Awalnya sempat culture shock, tapi lama-lama aku terbiasa. Aku sendiri paling suka ke pusat kota Ankara, namanya Kızılay atau kadang-kadang ke taman. Taman di Turki banyak banget dan semuanya terawat dengan baik,”

Seğmenler Parkı yang biasa di kunjungi Alinda. (foto: Dokumen Pribadi) 

Share
Create Your Own Article!