Zetizen.jawapos.com - “Jangan pergi agar dicari, jangan sengaja lari agar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu.” -Sujiwo Tejo. Wah-wah, siapa sih yang masih belum tahu sosok dari pencetus dari kalimat legend di atas? Kalian para kaula muda harus tahu banget, nih, tentang beliau. Apa dan bagaimana sih, sosok dari Sujiwo Tejo? Yuk simak beberapa fakta berikut! 

Mahasiswa ITB

(foto:https://iphincow.com/sujiwo-tejo/)

Pemilik nama asli Agus Hadi Sujiwo, lahir tanggal 31 Agustus tahun 1962. Beliau dulunya adalah mahasiswa jurusan Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung, beliau memilih mundur karena lebih memilih mengembangkan bidang seni yang disukainya. 


Awal Mula Mengibarkan Sayap di Dunia Seni

(foto:https://gasbanter.com/biografi-sujiwo-tejo/)

Menjadi penyiar radio di kampus membuat beliau bertemu banyak orang. Sujiwo Tejo melanjutkan kiprah hobinya dengan mengikuti pagelaran teater dan juga mendirikan Ludruk ITB. Sempat selama kurang lebih delapan tahun menjadi wartawan Kompas. Bukan hanya itu, beliau juga menghasilkan banyak karya yang masih berbau seni, contohnya saja adalah penerbitan buku yang berjudul Jiwo Jancuk pada tahun 2012, ikut serta dalam memerankan film Soekarno sebagai Soekemi, dan masih banyak lagi. 


Nyetrik Dengan Sarung

(foto:https://kilaskementerian.kompas.com/kementan/read/2018/07/30/115305310/sujiwo-tejo-mau-terima-film-kafir-lagi-karena-putri-ayudya)

Berpenampilan modis pada era zaman sekarang sudah tidak lazim lagi, bahkan tidak memandang berapapun usianya, semua orang akan memilih untuk berpenampilan menarik. Namun berbeda halnya dengan Sujiwo Tejo, sarung dan juga topi khas pe-seni menjadi ciri khas dari beliau. Banyak orang takjub melihat kesederhanaannya. Bahkan ketika diundang ke televisi pun beliau tetap mengenakan seragam khususnya tersebut.


Menjadi Kiblat Banyak Masyarakat

(foto:https://www.google.co.id/amp/s/www.pinterest.com/amp/pin/296674694194959891/)

Bukan rahasia lagi jika Sujiwo Tejo adalah sosok yang apa adanya, bahkan dalam gaya bahasa pun, beliau tetap menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Hal tersebut membuat beberapa orang terinisiatif juga untuk menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Dapat diketahui di salah satu acara televisi, beliau mengakatan; 

"Pak Abu Bakar, kyai, Pak Yanri, namanya mengingatkan kepada teman saya, di Jogja seorang dokter perempuan, semua hal mengingatkan saya pada perempuan, jadi banyak orang sembayang tapi sembayangnya enggak ada, beliau sembayang tapi menyalakan nonton film bukak layar, tek, yang belakang silau, yang belakang silau, mereka sembayang tapi membuang sampah sembarangan, mereka ke gereja tapi gerejanya enggak ada, sama aja pancasila, pancasilanya enggak onok. Jadi, definisi radikal, Pak Irfan, anti radikal jangan diartikan anti pancasila, Pak, anti sesuatu yang ada gitu lho, Pak, misalnya anti Pak Jokowi gitu Pak, atau anti Pak Ma'ruf Amin, atau anti siapa yang ada, 

Pancasila enggak ada menurut saya pak, kalau ada, masak iuran kesehatan, kejet kejet, masyarakat diancam enggak boleh perpanjangan SIM, dari mana gitu lho." 

 


Share
Create Your Own Article!