zetizen.jawapos.com - Bulan ramadhan nggak cuma jadi ajang memperbanyak pahala, tapi juga jadi masa untuk mengenal diri sendiri dan lebih banyak bersyukur. 5 lagu indie berikut ini memberi banyak pelajaran tentang konsep mengenal Tuhan dan diri sendiri. Apa aja?

Pandai Besi - Debu-Debu Beterbangan

(foto:The Navy Book)

Kalau kamu pernah dengerin versi Debu-Debu Beterbangan dalam album Kamar Gelap dari Efek Rumah Kaca, kamu bakal dapat pengalaman berbeda dengan versi Pandai Besi. Sub grup Efek Rumah Kaca ini membawakan Debu-Debu Beterbangan dengan berbagai instrumen musik yang bikin kamu makin terhanyut dalam lirik.

FYI, kalau kamu perhatikan, lirik Debu-Debu Beterbangan ini merupakan isi dari ayat surat Al-Asr dalam Al-Qur'an. Al-Asr sendiri berarti Masa atau waktu. Surat ke 103 yang hanya berisi 3 ayat ini ditransformasikan ke dalam lirik. 

Pada saatnya nanti

Tak bisa bersembunyi

Kita pun menyesali

Kit merugi


Efek Rumah Kaca - Putih

(foto:Efekrumahkaca.com)

Menyebut nama Tuhan atau berdzikir sih sudah biasa. Tapi gimana kalau berdzikir sambil mendengarkan lagu? Itu baru luar biasa.

Pengalaman itu diciptakan dengan epik oleh Efek Rumah Kaca dalam lagu Putih. Salah satu lagu dalam album Sinestesia (2018) ini punya dua segmen. Tiada, yang bercerita tentang kematian, dan Ada yang bercerita tentang kelahiran.

Cholil sang vokalis bercerita tentang perjalanan setelah kematian. Dimulai dari Ambulance, sampai ketika jenazah dibawa ke rumah. Kalau kamu berpikir lagu ini menyeramkan, kamu salah besar. Lagu ini jadi refleksi kehidupan yang singkat. Lengkap dengan dzikir "laaillahaillallah" yang terdengar samar. Kalimat dzikir merepresentasikan kalimat yang selalu dibacakan ketika mengantarkan jenazah dari rumah duka ke persemayaman. Lagu indie ini sampai menginspirasi beberapa seniman untuk membuat komik perjalanan kematian. Keren!


(foto:YouTube)


Tigapagi - Tangan Hampa Kaki Telanjang


Apa kamu pernah dengar cerita kalau ketika menghadap Tuhan nanti, kita cuma membawa diri dan amal kebaikan yang pernah dilakukan semasa hidup? Cerita itu disampaikan dengan indah dalam Tangan Hampa Kaki Telanjang.

Lagu yang jadi salah satu pelengkap dalam album Roekmana's Repertoire (2013) ini interpretatif. Ada yang mengartikan sebagai upaya permohonan. Karena ada penggalan lirik yang bilang "dan berharap pada tangan hampa dan kaki telanjang"

Lagu interpretatif tentu membebaskan siapapun untuk memiliki arti dan pesan sendiri. Namun, lagu ini menyiratkan bahwa sebenarnya kita hidup cuma 'numpang' di bumi. Nggak ada yang bisa dibawa untuk melanjutkan perjalanan di alam berikutnya.


Sisir Tanah - Lagu Pejalan


Kamu tahu daur hidup penyu nggak? Penyu yang bisa hidup ratusan tahun nggak boleh stuck di satu tempat. Bahkan, setelah dilahirkan pun dia harus langsung mengarungi lautan dan mengelilingi bumi.

Sama seperti manusia. Sisir Tanah dalam album Woh (2018) mempertanyakan hakikat kita sebagai manusia yang punya banyak perasaan. Sering merasa ragu, takut, atau enggan tunduk. Sisir Tanah mengingatkan kita untuk tetap ingat bahwa kita diciptakan unuk tetap maju dan tunduk. Pada siapa? You decide.

Kalau kamu sedang dalam masa self-healing, lengkapi perjalananmu dengan 5 lagu indie berikut ini. Check it out!


Bin Idris - How Naive

(foto:YouTube)

Ada banyak cara untuk bercerita tentang keangkuhan. Seperti How Naive dari Bin Idris yang bercerita tentang apa yang kita yakini, sebenarnya berbanding terbalik dengan semua yang kita rasakan.

I thought we gonna be floating instead we sinking like a stone

I thought we gonna be courageous instead we scared

Diiringi instrumen yang ringan, suara Bin Idris terdengar mendominasi lagu. Dan tentu saja, memberi pengalaman kontemplasi yang unik dan seolah menampar diri sendiri. Mau sehebat apapun, we just human who need help. Lagu yang masuk dalam album self titled ini diakhiri dengan lirik pamungkas yang bikin kita makin introspeksi diri.

We so scared of dying all alone


Share
Create Your Own Article!