Zetizen.jawapos.com – Istilah UX Writing mungkin maih kurang banyak didengar saat ini. Padahal, hampir semua tulisan yang ada disebuah aplikasi yang kamu gunakan, ditulis oleh seorang UX Writer. Seorang UX Writer harus bekerjasama dengan banyak bidang lainnya dan nggak sekadar 'nulis'. Nah, supaya kamu bisa dapet gambaran, simak yuk beberapa mitos dan fakta berikut yang bisa bikin kamu melek seputar profesi ini! (Lia/Mel) 

Foto: Unsplash

Katanya, UX Writer itu nulisnya harus tiap hari.

Banyak orang berpikir kalau pekerjaan utama UX Writer adalah menulis, seperti halnya content writer atau copywriter yang menulis sepanjang hari. Semua kegiatan yang dilakukan hanya seputar hal-hal yang berhubungan dengan tulis menulis.

Faktanya, tugas UX Writer nggak cuma nulis aja.

Karena harus bekerjasama dengan berbagai bidang, UX Writer bukanlah pekerjaan yang mengharuskan kita menulis secara rutin tiap harinya. Karena seorang UX Writer juga harus sering melakukan user research. Tujuannya apa? Supaya apa yang akan ditulis menjadi sebuah microcopy (tulisan di UI) sesuai dengan pemahaman user. Menyelaraskan tulisan dengan desain yang sudah ada, juga membuat UX Writer harus paham terhadap desain interface yang sebelumnya telah dibuat.

Foto: uxwriterscollective

Katanya, semua penulis bisa jadi UX Writer

Karena menulis adalah basic yang harus dimiliki seorang UX Writer, apakah artinya semua penulis bisa menjadi UX Writer? Tulisan-tulisan atau microcopy yang dihasilan seorang UX Writer memang terkesan simpel, padat, dan jelas. Tapi ternyata nggak semudah itu loh.

Faktanya, UX Writer punya pengetahuan khusus yang nggak semua penulis miliki

Tujuan utama tulisan UX Writer adalah membantu pengguna agar lebih mengerti cara kerja sebuah aplikasi atau website. Mereka yang membuat tulisan dengan tujuan memasarkan sebuah produk hanya memikirkan tentang strategi pemasarannya. Tapi UX Writer benar-benar harus punya rasa empati pada user agar tulisan tersebut benar-benar dipahami penggunanya.

Foto: Unsplash

Katanya, UX Writer mulai menulis saat desain telah siap.

Biasanya, menulis mulai dilakukan saat kita udah tau hal apa yang ingin kita angkat dalam tulisan tersebut. Misalnya, mempromosikan sebuah aplikasi artinya kita menulis sesuatu yang diunggulkan aplikasi tersebut baik dari segi desain atau kegunaannya. Kalau UX Writer gimana?

Faktanya, UX Writer harus terlibat dari awal sebelum desain aplikasi atau website dibuat.

Dari awal pembuatan interface di aplikasi atau website, seorang UX Writer harus ikut turun mulai dari sana. Karena desain dan tulisan atau konten merupakan dua hal yang nggak bisa dipisahkan. Ketika sebuah desain UI yang bagus nggak ditunjang dengan microcopy yang mendukung, user bisa kebingungan saat membuka aplikasi atau website tersebut.

Foto: UX Planet

Katanya, tim desainer juga bisa menjadi UX Writer sekaligus

Walaupun seorang desainer mengerti dan memahami kebutuhan user, bukan berarti mereka memiliki kemampuan untuk sekaligus menjadi UX Writernya.

Faktanya. Kata-kata dan desain adalah sesuatu yang berbeda.

Emang banyak kok diluar sana seorang UX Designer banting setir untuk menjadi seorang UX Writer. Itu artinya mereka memiliki skill lain yang juga mendukung untuk menghasilkan sebuah microcopy. Tapi, nggak semua desainer merangkap menjadi UX Writer, karena kehadiran mereka juga bisa lebih membantu secara spesifik dalam hal kepenulisan. Jadi, saat ini mulai banyak perusahaan yang lebih mempercayakan pengerjaan microcopy yang dilakukan oleh seorang UX Writer professional. Gimana, apa kamu tertarik buat menggeluti profesi ini?

Share
RELATED ARTICLES
Create Your Own Article!