zetizen.com - "Aduh, aku nggak bisa lihat sesuatu yang nggak teratur. I’m so OCD!"

Pernah dengar temanmu nyeletuk gitu? Well, Nggak cuma soal detail dan keteraturan, OCD sebenarnya lebih kompleks dari yang kamu kira, lho. Penasaran soal fakta-fakta seputar OCD? Cek penjelasan dari Zetizen bareng para ahlinya, yuk!

 

Apa itu OCD?

Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan psikologis gara-gara munculnya obsesi terhadap sesuatu hal secara terus-menerus yang bisa mengakibatkan rasa cemas. Nah, obsesi ini seringkali diikuti sama kompulsif atau tindakan yang berulang-ulang.

orang dengan OCD bersih-bersih
Orang dengan OCD terobsesi berlebihan akan sesuatu (Foto: OrissaPOST)

Misalnya, seseorang terobsesi sama kuman dan dia merasa harus membersihkan mejanya setiap 20 menit sekali. Kalau nggak, dia merasa cemas banget dan membayangkan hal-hal buruk, seperti risiko keracunan atau sakit.

Menurut Dwi Nikmah Puspitasari, dosen di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang, "Orang dengan OCD tidak memiliki kendali atas pikiran-pikiran obsesifnya dan perilaku kompulsifnya," alias semuanya bakal dilakukan secara tidak sadar namun berulang-ulang.

 

OCD Bukan perfeksionis

Melihat definisi di atas, jelas OCD berbeda sama perfeksionis ya. "Sekalipun terkadang orang dengan OCD memiliki sifat perfeksionis, tetapi tidak semua orang yang menunjukkan perfeksionisnya adalah orang dengan OCD," ujar Dwi.

Perfeksionis menilai sesuatu cenderung harus rapi, detail, dan teratur. Tapi, tiap orang tetap punya standar kesempuranan masing-masing, kan? Munculnya sifat perfeksionis juga karena lingkungan yang terbiasa mengajarinya begitu.

menggambar alis perfeksionis
Perfeksionis menggambar alis dengan ukuran-ukuran tertentu (Foto: Beauty Glimpse)

Ini berbeda dengan OCD! Buat tahu seseorang punya OCD atau nggak, harus dilakukan penelitian psikologi yang mendalam dan nggak langsung judge dari kebiasaan yang kelihatan saja. Menurut Dwi, "Jangan terlalu mudah memberikan label seseorang OCD tanpa melakukan asesmen psikologi hanya karena ia perfeksionis."

 

Gejala seseorang mengalami OCD

Jadi, bagaimana seseorang bisa disebut mempunyai OCD? Ternyata, ada semacam buku panduannya, guys! Namanya, buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) yang merangkum berbagai gangguan psikologi manusia. Versi yang terbaru adalah DSM versi 5 (DSM-5).

orang dengan ocd
Orang dengan OCD merasa cemas tidak wajar (Foto: MedCity News)

Beberapa pola umum yang sering muncul pada orang yang mengalami OCD adalah munculnya obsesi, kompulsi, atau bahkan keduanya. Seseorang dengan OCD punya perilaku yang berulang, entah mengecek pintu sampai 20 kali atau cuci tangan terus-menerus. Puncaknya, perilaku mereka ini bikin geger di lingkungan sosial, seperti teman-teman yang terganggu dengan perilakunya yang sering keluar kelas hanya untuk cuci tangan.

 

Apakah OCD Dapat Disembuhkan?

Oops! Dosen yang satu ini bilang stop menyebut "sembuh" untuk kasus psikologi. Definisi itu dihindari karena dari awal gangguan psikologis nggak pernah diperkenalkan sebagai sakit mental. Jadi, definisinya lebih ke adanya keseimbangan, keluhan berkurang, dan munculnya sikap bisa beradaptasi.

Treatment yang dilakukan sebenarnya tergantung sama kondisi pasien. Bisa dilakukan terapi farmakologi atau medikasi pakai obat-obatan untuk menyeimbangkan zat-zat kimia di otak. Plus, psikoterapi untuk tahu lebih dalam pikiran, perasaan, dan perilaku agar pikiran obsesifnya nggak berlanjut jadi tindakan yang kompulsif.

psikoterapi
Psikoterapi untuk treatment OCD (Foto: Counselling Sydney)

 

Anak-Anak dan Remaja Juga Bisa Mengalami OCD!

Stella Sriwulandari, seorang ahli psikologi klinis anak dan remaja, menambahkan kalau OCD bisa menyerang anak dan remaja, lho. Bentuknya bisa berupa takut salah, ketidakteraturan, kuman, bahkan 'monster' secara nggak wajar. Efeknya akan mengganggu kebahagiaan sang anak atau remaja karena dia bakal terus-terusan cemas. Konsentrasinya bisa terganggu dan sulit beradaptasi karena orang-orang merasa nggak nyaman dengan pola obsesinya.

 

Temanmu Ada yang OCD? Ini yang Harus Kamu Lakukan!

Jangan nge-bully atau ngasih komentar negatif. Jadilah teman yang suportif dengan menerima curhatannya dan nggak membenarkan perilakunya. Tapi, tanpa baper ya, hehe. Jangan malah jadi pemicu atas perilaku kompulsifnya.

"Karena perubahannya bertahap, bantu dia membuat target sederhana. Misal, mencuci tangan biasanya 4 kali, jadi 3 kali saja. Lalu, beri pujian terhadap keberhasilan kecil itu," ujar Stella.  

mendukung kesehatan mental
Katakan pada temanmu kalau dia nggak sendirian (Foto: Philadelphia Inquirer)

Istilah OCD punya arti yang lebih serius, kan? Jangan dipakai sembarangan lagi, ya!

Share
Create Your Own Article!