Zetizen.jawapos.com - FYI, jajanan berbahan dasar tepung terigu dan ragi ini sebenarnya bukan jajanan tradisional baru, loh. Walaupun sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, namun sampai saat ini odading masih sangat digemari sebagai teman nyemil. Pengin tau fakta lainnya? Yuk, baca di bawah ini.

Alasan Kenapa Dinamakan Odading

(foto:Pinterest)

Menurut cerita yang tersebar di masyarakat, nama odading berasal dari kisah keluarga Belanda yang tinggal di Indonesia. Saat itu, putra dari seorang meneer, meminta dibelikan jajanan yang dijual oleh seorang anak kampung. Ia hanya menunjuk jajanan yang diinginkan karena tidak tau namanya. Akhirnya, ibu anak tersebut berkata dalam bahasa Belanda “O, dat ding” yang bermakna “Oh, yang itu”. Sejak itulah, jajanan tanpa nama ini akhirnya disebut dengan odading.


Berawal Dari Jajan Anak SD

(foto:Pinterest)

Pada tahun 90an, jajanan ini lebih banyak dijual di depan sekolah dasar. Anak-anak SD selalu meramaikan gerobak pedagang odading saat jam istirahat maupun pulang sekolah. Sayangnya, seiring berjalannya waktu dan beragam jajanan baru muncul, odading tak lagi dijual di depan sekolah-sekolah. Sekarang, gerobak odading lebih mudah kita jumpai di pinggir jalan.


Selalu Dijual Bareng Cakue

(foto:Pinterest)

Kalau kita lihat gerobak penjual odading di pinggir jalan, sudah pasti ada tulisan “Odading dan Cakue”. Kedua street food ini emang udah jadi dua sejoli yang saling melengkapi. Satunya memiliki cita rasa manis, yang satu dominan dengan rasa gurih. Selain itu, dengan bentuknya yang berbeda, kedua jajanan ini seringkali disebut sebagai bantal dan guling. Odading sebagai bantal dan cakue gulingnya.


Masuk Karya Sastra

(foto:Pinterest)

Jajanan odading ternyata sempat disebut dalam salah satu karya sastra milik sastrawan Remy Sylado yang berjudul “Disumpahi Pemuda: Satu Nusa Satu Bangsa Dua Languages”. Bahkan karya tersebut juga pernah dipresentasikan Remy saat ia menjadi pembicara dalam Australian Association of Indonesian Language Educators Conference. Dalam tulisan tersebut, Remy menuliskan sebuah kalimat “Melihat kue itu, berkatalah sang nyonya kepada anaknya, “O, dat ding?” Artinya, “O, barang itu?””.


Share
Create Your Own Article!