Zetizen.com - Doxing mengacu pada tindakan mencari atau menyebarkan informasi pribadi seseorang di internet tanpa adanya izin dari pihak yang bersangkutan. Wah, kok serem ya! Yuk, ketahui lebih banyak lagi tentang doxing!

Senjata untuk Menyerang Orang Lain

Dropping document yang dikenal dengan istilah doxing pertama kali muncul dalam budaya peretas pada 1990-an. Dengan bantuan internet yang semakin canggih, kini doxing kerap digunakan untuk menyerang seseorang. Beberapa orang melakukan doxing untuk balas dendam, mengintimidasi, membungkam pihak yang ditarget, dan mempermalukan seseorang dengan memperlihatkan kesalahannya.

Dalam jurnal berjudul Doxing: What Adolescents Look for and Their Intentions, hal yang ditekankan bukan ketika meyebarkan data pribadi, melainkan proses mencarinya. Sebab, orang-orang tersebut telah melanggar privasi dengan mencari tahu data pribadi yang bisa disalahgunakan.

Menyebarkan Data Pribadi Itu Bukan Persoalan Sepele

Doxing dibagi menjadi tiga jenis. Pertama, deanonymizing yang dilakukan dengan mengungkapkan identitas seseorang yang menganonimkan diri. Misalnya, membongkar akun media sosial seseorang yang nggak menggunakan identitas asli. Kedua, targeting yang dilakukan dengan mengungkapkan informasi secara spesifik sehingga memungkinkan korban untuk ditemukan. Dengan kata lain, keamanan online-nya telah dilanggar dan dapat membahayakannya.

Berikutnya, delegitimizing yang dilakukan dengan mengungkapkan informasi pribadi untuk merusak kredibilitas atau reputasi seseorang. Yaps, persoalan data pribadi merupakan hal serius yang patut diperhatikan setiap orang. Sebab, ketika data kita disalahgunakan maka akan memunculkan permasalahan. Kabar baiknya, ketentuan mengenai doxing di Indonesia telah diatur dalam UU ITE tentang penyebaran data pribadi.

Doxing Termasuk Bentuk Cyberbullying

Pencarian dan penyebaran data pribadi bisa bikin korban doxing mengalami perundungan dan pelecehan di dunia maya juga kehidupan nyata. Siapapun bisa jadi korban doxing dengan berbagai dampak dan ancaman. Di antaranya rasa malu di depan umum, mendapat penghinaan, diskriminasi, menurunkan kepercayaan diri hingga rusaknya reputasi personal maupun profesional. Data pribadi korban juga bisa dicuri dan digunakan untuk penipuan.

“Pada satu sisi, kita menganggap bahwa dampak doxing merupakan hal yang patut diterima atas kesalahan yang dibuat korban, tetapi itu bukan cara yang tepat untuk memberi efek jera. Sebab, kesalahan yang diperbuat dan doxing itu sama-sama hal yang nggak dibenarkan dan hanya menciptakan siklus saling menghukum yang nggak terselesaikan,” ungkap Dr. Sameer Hinduja, professor di Sekolah Kriminologi dan Peradilan Pidana Universitas Florida Atlantic, dikutip dari Cyberbullying Research Center. So, doxing itu termasuk salah satu bentuk cyberbullying dan bullying itu nggak keren!

 

Share
Create Your Own Article!