Zetizen.com - Ragam model pakaian terus bermunculan seiring dengan berkembangnya industri fast fashion. Namun, melesatnya industri fashion juga berbanding lurus dengan tercemarnya lingkungan. Sisa kain hasil produksi dan pakaian bekas yang nggak dipakai lagi oleh konsumen kerap menimbulkan penumpukan limbah fashion. Jika dibiarkan terus-menerus maka akan berdampak  pada pemanasan global. Hal inilah yang memotivasi Fildza Ghassani Andias untuk mengelola limbah fashion menjadi barang yang lebih berguna.

“Waktu awal pandemi yang merupakan masa peralihan dari SD ke SMP, aku merasa bosan karena nggak ada kegiatan sama sekali. Akhirnya aku mencari kesibukan dan kepikiran buat mengolah limbah fashion. Apalagi aku melihat sendiri bagaimana sisa-sisa kain itu menumpuk karena di rumahku juga punya usaha menjahit. Jadi, memang berangkat dari barang-barang seadanya. Sisa kain itu biasanya aku jadikan masker, scrunchie, rompi, dan pembalut,” tutur siswa SMPN 6 Surabaya itu.

Ide membuat pembalut dari limbah fashion tercetus saat dia melihat artikel yang membahas lamanya pembalut sekali pakai dapat terurai, yakni sekitar 500-800 tahun. Jika dibuang di sungai, tentu bisa menyebabkan gangguan hormon pada hewan yang habitatnya di sana. Kalau ditimbun di TPA maka akan menghasilkan gas metana yang bisa merusak lapisan ozon. Pemutih pada bantalannya pun mampu mencemari tanah dan air. Nggak cuma itu, pembalut sekali pakai juga mengandung dioksin yang bisa menyebabkan gangguan reproduksi, lho.

Dalam prosesnya, Fildza dibantu oleh tiga tetangganya karena dia belum mahir betul menjahit. Selain dari sisa kain yang ada di rumahnya, Fildza biasa mengambil sisa kain dari penjahit lain. Kain-kain yang telah terkumpul dipilah terlebih dahulu dan dicari yang berbahan katun. Kain itu kemudian dipotong sesuai dengan pola pembalut pada umumnya dan dilapisi handuk microfiber yang bisa menahan darah supaya nggak bocor. Meski dari kain sisa, pembalut Fildza ini aman digunakan karena sudah dikonsultasikan sama dokter.

“Agar pembalut buatanku ini dikenal banyak orang, setiap hari aku melakukan sosialisasi di sekolah dan tetangga sekitar. Awalnya pasti ada yang meremehkan kayak ‘memangnya ini aman?’ atau ‘kalau ada yang praktis kenapa harus pakai yang ribet’. Aku nggak menyerah begitu aja! Aku selalu menjelaskan manfaat pembalut kain dan bahaya pembalut sekali pakai. Kesulitan lainnya adalah ketika kain yang didapatkan nggak perfect, jadi harus disambung terlebih dulu dan proses pengerjaannya pun semakin lama,” lanjut Fildza.

Usaha Fildza dalam mengurangi limbah fashion dan menjaga kelestarian lingkungan membuat masyarakat sekitar sedikit demi sedikit sadar akan pentingnya meminimalisir sampah. Salah satunya dengan menggunakan pembalut kain sebagai pengganti pembalut sekali pakai. Lewat proyek pengolahan limbah fashion ini, Fildza pun mengikuti penganugerahan Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2021 yang bertujuan memberi dampak positif bagi lingkungan. Sampai saat ini, dia telah mengolah 50 kg limbah kain, lho. Keren, ya!

Selain menjalankan proyeknya, Fildza juga memiliki aktivitas lain seperti kursus bahasa Inggris di salah satu lembaga di Surabaya dan latihan panjat tebing di KONI. Fildza berharap remaja lainnya memiliki kesadaran dan mau bergerak untuk merawat serta menjaga lingkungan.Yuk, selamatkan bumi bersama! Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?

Share
Create Your Own Article!