Zetizen.jawapos.com - Makin hari, makin banyak orang yang membagikan pencapaiannya di media sosial. Nggak jarang, itu bikin kita sebagai viewers minder dan membandingkan diri sendiri dengan mereka. Fisik yang nggak menarik, keadaan yang nggak seberuntung orang lain, hingga kegagalan dalam mencapai suatu tujuan. Pokoknya langsung insecure dan ngerasa nggak punya kelebihan apapun deh. Karena itu, Zetizen book club kembali hadir untuk mengulas buku Insecurity is My Middle Name karya Alvi Syahrin.

Insecurity is My Middle Name, sebuah buku self-healing yang bakal memberikan pembacanya sudut padang baru terhadap insecurity. Kelima babnya membahas permasalahan yang sangat relate, seperti fisik, masa depan, dan pencapaian. Dari covernya aja sudah terlihat maksud buku ini, yaitu mengajak untuk lebih mengenal diri dan berdamai dengan apa yang dimiliki. Hal itu tercermin dari visual pemandangan hijau yang damai dengan item sepasang kursi dan meja.

Membaca buku ini seolah kita sedang berdialog dengan si penulis tentang bagaimana menerima kekurangan diri. Segala pertanyaan di pikiran dapat terjawab di tiap lembar halamannya. Buku ini cukup realistis sebagai buku self improvement. Jadi, nggak berkesan menghakimi maupun menggurui. Sayang, ada beberapa kata yang diulang-ulang dan cenderung muslim oriented, but overall, this book is still good to read! 

"Nggak hanya healing, tetapi juga bikin relax. Bahasanya juga simple dan santai. Penulisnya itu kayak tahu alur pemikiran kita, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di setiap subbab. Meski buku ini menurutku terlalu muslim oriented, but I get the point. Dari buku ini aku belajar bahwa lebih baik berkompetisi dengan diri kita yang kemarin untuk menjadi pribadi yang lebih baik," tutur Prami Dewanggi, mahasiswi Universitas Airlangga yang turut hadir dalam Zetizen book club

Alvi Syahrin juga mengajak kita mengorek lagi kelebihan yang ada dan berhenti memikirkan kekurangan. Misalnya di bab pertama, penulis memberi pemahaman bahwa fisik bukanlah segalanya, meski penulis juga tidak menampik hal itu. Namun, yang perlu ditanamkan ialah good looking nggak selalu tentang rupa dan fisik, tetapi juga soal personality atau pemikiran. And the words are so heartwarming!

Buku ini cocok dibaca semua kalangan dari remaja hingga dewasa, terutama yang masih sering nggak percaya diri dan insecure-an. Last but not least, insecure adalah hal yang wajar. Tetapi, jangan sampai hal itu menjadi penghambat untuk tetap tumbuh. Nggak capek apa selalu membandingkan diri dengan orang lain? Yuk, belajar damai! Cause we all have our own strengths, and we deserve it! 

Share
RELATED ARTICLES
Create Your Own Article!