Zetizen.jawapos.com - Gangguan mental bakal mengganggu kehidupan sehari-hari jika terus dibiarkan. Ada beragam gangguan mental yang perlu kamu pahami biar lebih aware sama mental health. Salah satunya obsessive compulsive disorder (OCD).  

Istilah OCD kali pertama muncul pada abad 20. Sebelum itu, sebagian besar fitur OCD berpusat pada obsesi dan kompulsi tentang keyakinan dan praktik keagamaan. Para psikiater kemudian mengembangkan ide-ide tentang OCD, termasuk Sigmund Freud, yang mencetuskan asal mula nama OCD. Yakni zwangsneurose.

Di Amerika Serikat, OCD termasuk sepuluh besar penyakit yang paling melumpuhkan karena dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup. OCD ditandai dengan perilaku kompulsif dan pikiran obsesif.

’’Obsesi adalah pikiran, ide, atau dorongan yang sulit dikendalikan. Sedangkan kompulsi adalah tingkah laku yang berulang dan dirasakan seseorang sebagai keharusan untuk dilakukan,’’ jelas psikolog Christine Anggraini MPsi.

Sebagaimana penyakit lainnya, diagnosis gangguan OCD diberikan oleh dokter setelah dilakukan pemeriksaan. Sebab, seseorang yang memiliki pikiran obsesif atau perilaku kompulsif belum tentu mengidap OCD.

Pada penderita OCD, dua perilaku tersebut terlihat dengan adanya pemikiran berulang yang sudah mengganggu dan sudah coba diabaikan tetapi gagal. Sedangkan perilaku kompusif akan memakan waktu lebih dari satu jam sehingga akan mengganggu aktivitas harian dan hubungan dengan orang-orang sekitar.

Penyebanya bisa dari berbagai faktor. Mulai faktor biologis, psikologis, dan sosial. OCD bisa dipengaruhi oleh stres psikologis yang tinggi karena dukungan sosial yang diterima nggak memadai. Pengidap akan selalu bertindak kompulsif dalam melakukan berbagai aktivitas seperti memeriksa, mencuci, mengatur, hingga mengulangi perkataan. Mereka berusaha mencari kepastian serta menghindari interaksi sosial.

’’OCD tidak bisa disembuhkan secara mandiri. Butuh bantuan dari profesional seperti psikolog dan psikiater. Segera ke tenaga profesional ketika sudah merasakan ketidaknyamanan akibat adanya pemikiran berulang. Misalnya, cuci tangan atau beres-beres memakan waktu yang lama. Nantinya, OCD diobati dengan farmakoterapi dari psikiater dan terapi CBT dari psikolog,’’ lanjutnya.

Well, jika ada teman atau keluarga yang memiliki kecenderungan OCD, hindarkan mereka dari hal-hal pemicu. Segera tawarkan untuk pergi ke tenaga profesional. Dalam banyak kasus, kalau nggak segera diobati, pengidap OCD dapat mengalami depresi. Nggak hanya memperparah penderitaan, itu akan mempersulit dan memperpanjang pengobatan. Let’s take care of each other’s mental health!

Share
Create Your Own Article!