Zetizen.jawapos.com - Web terus berkembang semakin kompleks. Hal itu membuat tugas seorang developer menjadi lebih spesifik. Bukan lagi membangun keseluruhan web, melainkan fokus pada bagian tertentu saja. Misalnya, front-end dan back-end. Nah, kali ini Zetizen bakal kulik salah satu spesialisasi kerja web developer tersebut bareng Calvert Tanudihardjo, mahasiswa Universitas Kristen Petra yang lagi magang sebagai back-end developer di Lingotalk. Yuk, simak! 

Keseharian seorang back-end developer itu seperti apa sih?

Back-end developer tugasnya itu membuat, mendokumentasikan API (Application Programming Interface), dan mengelola serta melakukan optimasi database dari sebuah website atau aplikasi. Kami membuat sistem keamanan yang baik agar web nggak mudah diserang. Di beberapa perusahaan, seorang back-end developer juga melakukan integrasi ke cloud.

Komponen apa saja yang mendukung profesional back-end developer?

Biasanya ada tiga komponen. Yakni language, framework, dan tool. Language yang biasa digunakan itu Java, JavaScript, Golang, Python, PHP, dan Ruby. Kalau framework untuk mendukung perkembangan website, ada Spring, Express.js, dan Django.

Macam tools ada banyak. Di antaranya Postman dan Swagger untuk mengelola API, Git dan GitHub, serta Visual Studio Code. Itu juga dibantu dengan database SQL dan NoSQL. Well, setiap komponen punya tingkat kepopuleran tersendiri. Pemilihannya pun bergantung pada berbagai aspek seperti kecepatan dan compatibility.

Perlu belajar apa untuk menjadi back-end developer?

Secara soft skill, penting untuk memiliki kemampuan problem solving, analisis, detail oriented, komunikasi, kerja sama, dan mau terus belajar mengikuti perkembangan teknologi. Untuk teknis, kamu wajib memahami konsep dari web server, database, mengelola API, dan tentu keterampilan pemrograman yang baik.

Kemampuan tersebut kamu pelajari dari mana?

Di perkuliahan, aku dapat banyak ilmu yang bisa mendukungku di dunia profesional. Aku juga aktif di beberapa organisasi, khususnya di bidang IT. Salah satunya, terlibat dalam pembuatan platform penilaian kinerja mahasiswa dalam kepanitiaan yang sudah digunakan lebih dari 8000 penilaian, 700 mahasiswa, dan 30 acara berbeda.

Banyak banget sumber belajar yang bagus di internet. Baik berbayar maupun gratis. Kamu juga bisa coba ikut bootcamp berkualitas di Indonesia seperti Hacktiv8, Alterra Academy, dan Bangkit (Google).

Kesulitan apa yang mungkin ditemui dan bagaimana mengatasinya?

Salah satunya ada pada technology stacks yang digunakan. Setiap perusahaan memiliki techstacks yang berbeda dan menyesuaikan kebutuhan masing-masing. Misalnya, Tokopedia menggunakan Golang, sedangkan Blibli.com menggunakan Java sebagai bahasa pemrograman back-end.

Untuk mengatasi kesulitan yang ada, aku banyak belajar mengenai techstacks yang sedang tren dan mengimplementasikannya pada proyek yang kubuat mandiri. 

Apa perbedaan back-end dan front-end developer? 

Back-end nggak berinteraksi langsung dengan pengguna, kalau front-end berinteraksi langsung dengan pengguna atau biasa disebut sisi klien. Nah, tugasnya front-end developer merancang tampilan website dengan teks, gambar, tombol navigasi, serta menu interaktif. Tugas lainnya memindahkan hasil desain dari desainer UI ke bentuk yang lebih interaktif. Front-end developer juga memastikan website responsif dan memiliki performa yang baik. 

Bagaimana prospek karir back-end developer ke depannya?

Setiap pekerjaan di bidang IT punya prospek yang baik di masa depan. Hampir semua perusahaan memanfaatkan teknologi sebagai alat menjalankan bisnis. Apalagi jumlah unicorn  di Indonesia makin meningkat. Banyak perusahaan yang membuka posisi di bidang ini. Jadi manfaatkan kesempatan untuk belajar dan meningkatkan skill

 

Share
Create Your Own Article!