Zetizen.jawapos.com - Tas menjadi item penunjang OOTD yang terus berkembang mengikuti tren mode. Mulai sling bag, totebag, hingga hand bag. Produk satu itu menawarkan banyak celah untuk sebuah inovasi. Elisabet Stefanny Witjahjo pun nggak mau ketinggalan menyumbang karya. Mahasiswi jurusan Fashion Product Design dan Business Universitas Ciputra itu mengeluarkan produk tas bertema sustainable.

“Pemanfaatan limbah menurut saya sangat penting sebagai bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar terutama di Indonesia,” tutur Stefanny, sapaan akrabnya.

Koleksi itu dia beri nama Wea:Fia atau Weaving Rafia. Sesuai namanya, bahan tas memanfaatkan limbah plastik tali raffia yang dianyam sebagai pengganti material kain tweed. Stefanny juga menggunakan kombinasi kulit sintetis yang tidak bertekstur untuk menonjolkan structured style bergaya modern classic.

“Di sini saya memakai karton sebagai bahan dasar tas agar kaku. Untuk anyamannya, saya lapisi kain keras di dalam, dan di luar saya beri olesan lem yang hasil akhirnya tidak berwarna sehingga tidak merusak anyaman,” jelasnya.

Tas trendy itu dilengkapi furing berbahan velvet yang menambah kesan elegan dan mahal. Dominasi warna hijau dan hitam yang Stefanny pilih juga punya arti tersendiri, lho. “Warna hijau melambangkan ketenangan, warna favorit saya juga. Kalau warna hitam sebagai penyeimbang dari warna hijau agar terlihat lebih netral. Hitam juga warna yang tegas, sesuai dengan karakter dari design tersebut, yaitu structured bag,” ujarnya. 

Untuk produk shoulder bag, Stefanny menambahkan detail berupa penyimpanan mini di bagian depan tas. Selain menambah estetika, penyimpanan itu juga berfungsi sebagai space tambahan yang super useful! Bisa digunakan untuk menyimpan koin, lipstick, dan barang-barang mungil lain. Strapnya juga bisa di-adjust sesuai keinginan.

Nggak hanya itu, hand bag-nya memiliki hidden space di bagian belakang. Sebuah kantong ketat yang bisa digunakan untuk menyimpan karcis, kunci, atau uang. Kantongnya memang didesain sempit agar barang yang ditaruh di dalamnya nggak gampang jatuh.

Mahasiswi yang tengah aktif menggeluti modelling itu melakukan semua proses pembuatan tas sendiri. Dari pemilihan warna hingga proses anyaman. Jadi, produk orisinilnya mempunyai ciri khas yang menarik.

“Setelah beberapa kali melakukan fashion runway dan berinteraksi dengan designer dari berbagai macam brand, saya jadi tertarik masuk ke dunia designer,” ungkap Stefanny saat mengenang perjalanan awalnya terjun ke bidang desain mode.

Sepaket dengan tasnya, ada dompet yang matching. Dompet kecil yang didominasi anyaman berwarna hitam itu bisa digantung pada strap tas. Stefanny mengaku proses pembuatan produk yang lebih kecil lebih sulit karena komposisinya berbeda. Diperlukan ketelitian yang ekstra dalam menjahit dan menganyamnya.

Produk ini menyasar working women usia 24-30 tahun atau wanita independen yang memiliki gaya modern classic dengan karakter bold. Namun, saat ini Stefanny belum berencana memperjual-belikan hasil karyanya. Sebab, proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama. Apalagi, dia perlu melewati serangkaian proses menganyam tali rafia yang nggak bisa dibantu dengan pekerjaan mesin. Well, dukung terus sustainable fashion, ya! (kom/lai)

Share
RELATED ARTICLES
Create Your Own Article!