Zetizen.jawapos.com - Siapa sih yang nggak kenal Taylor Swift? Di tahun 2020, dia  merilis dua album mahakarya, Folklore dan Evermore. Keluar dari zona musik eksentrik dan sensasional, kedua album itu berhasil mengupas sisi lain yang sangat berbeda dari kebiasaan penulisan lagunya selama ini. Kini, Taylor dan pikiran cemerlangnya menjelajahi indie-folk!

Bersama Aaron Dessner, Bryce Dessner, Jack Antonoff, dan Joe Alwyn, Taylor berhasil menciptakan sebuah kisah dengan karakter dan latar tempat fiktif yang secara ajaibnya bisa terangkum dalam tiap lagu di albumnya. Dalam wawancaranya bersama Apple Music, penyanyi 31 tahun itu menjelaskan bahwa Folklore dan Evermore membuka lebar perspektifnya tentang penulisan lagu.

“Saat menulis Folklore, aku sangat senang karena duniaku seperti terbuka lebar secara kreatif. Ada satu masa di mana aku terus menulis lagu yang bersifat personal, seolah-olah lagunya diadaptasi langsung dari buku diary-ku. Saat menulis folklore, aku mulai berpikir menulis lagu dengan menciptakan karakter yang tinggal di sebuah kota fiksi dan merefleksikan kehidupanku di dalamnya tanpa memberi amunisi kepada tabloid tentang kehidupan pribadiku. Begitu Folklore rilis, orang-orang menyukainya, saat itulah aku sadar ternyata aku bisa dan melanjutkannya di Evermore,” ungkapnya.

Kemampuan Taylor Swift membangun ‘cerita’ dalam albumnya menjadi inovasi besar dalam dunia musik. Dia membentuk jalan baru dengan mengeskpresikan dirinya melalui skenario-skenario pendek yang saling terhubung. August, Cardigan, dan Betty adalah tiga contoh lagu yang memuat episode bersambung di album Folklore.

Ketiganya mengangkat alur cinta segitiga remaja. Dimulai dari Cardigan yang menyoroti perspektif Betty, perempuan yang romansa musim panasnya kandas karena James kekasihnya selingkuh. Dilanjutkan dengan August yang mengambil sudut pandang Augustine, gadis yang terlibat perselingkuhan dengan pacar Betty. Lalu, lagu Betty yang menyorot perasaan bersalah James terhadap Betty. Penciptaan kisah bersambung itu menuai spekulasi para fans. Yang juga terdapat dalam album Evermore di lagu ‘Tis the damn season dan Dorothea dengan alur berbeda.

Selain kehadiran cerita berpalel, Folklore dan Evermore juga menghadirkan nuansa yang lebih dewasa dan matang dibanding deretan album sebelumnya. Swift berulang kali menyebut piala kemenangan Grammy dan angka skor musik bukan lagi tujuannya berkarya. Wanita kelahiran 1989 itu lebih menekankan intimasi dalam lirik dan instrumen yang dibawanya dalam dua album terakhir.

Penulisan liriknya pun mengalami perkembangan dari lagu-lagu lamanya. Kini, dia lebih sering menggunakan majas-majas terperinci yang memiliki interpretasi luas. Misalnya lirik di lagu Champagne Problem “your midas touch on a chevy door”. Lirik tersebut merujuk kepada Midas, dewa Yunani yang bisa merubah apa yang disentuhnya menjadi emas. Interpretasi lainnya, orang yang dideskripsikan dalam lagu adalah orang yang sangat baik sampai bisa merubah sesuatu yang buruk menjadi positif.

Swift juga banyak mengambil referensi dari serial TV lama dan juga ungkapan Inggris kuno untuk dituangkan di dalam musiknya. Hal itu memberi percikan bumbu sedap untuk didengar. Kini, fans sedang menanti perilisan ulang album lama Taylor Swift yang sepertinya akan datang dalam waktu dekat. Swifties udah siap belum? (kom/lai)

 

Share
Create Your Own Article!