Zetizen.jawapos.com - Yoru Sumino merupakan novelis asal Jepang yang cukup populer. Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah I Want to Eat Your Pancreas. Novel itu bahkan sudah diadaptasi menjadi manga, anime, hingga live-action film. Yoru kemudian menulis beberapa karya lainnya seperti I Saw the Same Dream Again, Blue, Painful, and Brittle, dan At Night, I Become a Monster.

Kali ini Zetizen dan dua teman Zetizen lainnya, Millya Rizqika Dewi dan Shofa Umrotul berkesempatan untuk ngobrolin buku At Night, I Become a Monster bersama. Yuk, dengar pendapat mereka!

Novel ini bercerita tentang seorang siswa bernama Acchi yang bisa berubah menjadi monster di malam hari. Kalau di siang hari Acchi siswa biasa, di malam hari ia berubah menjadi makhluk menakutkan dengan banyak mata dan kaki yang bersembunyi di kegelapan. Suatu hari, ketika ia sedang dalam wujud monster di sekolah, Acchi bertemu dengan teman sekelasnya Yano Satsuki yang merupakan korban bullying.

Setelah cukup lama ngobrol bersama Yano setiap hari, Acchi pun mulai menumbuhkan perasaan simpat kepadanya. Bersama Acchi dan Yano, pembaca diajak untuk mengenali ‘wajah’ yang ditampilkan manusia. Bagaimana manusia bisa menjadi makhluk yang rumit.

First impression waktu lihat buku ini, aku kira bakal cerita tentang monster dalam arti kiasan, nggak mengira bakal ada sosok monster. Awalnya sempat nggak tertarik dengan ceritanya,tapi setelah kasih waktu jeda membaca, aku malah jadi penasaran dan ketagihan buat menghabiskan novel ini,” tutur Millya. Meskipun alurnya cukup lambat, isu yang diangkat cukup menarik. Penulis menyadarkan pembaca akan dampak buruk bullying bagi kehidupan korban dan bagaimana cara kita mengendalikan diri biar nggak menyakiti orang lain.

“Novel ini juga menceritakan bahwa seringkali kita diam saja ketika melihat bullying karena takut dikucilkan oleh orang lain. Well, menurutku ini yang perlu diperbaiki dari cara pandang kita sih,” ungkap Shofa. Harapannya pembaca bisa sadar dan berani membela orang yang di-bully.

Karena ini novel terjemahan, ada beberapa konteks yang agak sulit dipahami. “Penggalan kata dari Yano yang kalau ngomong terbata-bata, dituliskan menggunakan koma yang membuat pembaca cukup terganggu. Sepertinya akan lebih enak dibaca kalau pakai strip,” saran Shofa.

Dengan sinopsis “Mana sosokmu yang sebenarnya? Yang malam, atau yang siang?”, pembaca dibuat penasaran dengan alur ceritanya. Kita jadi bertanya-tanya, mengapa Acchi berubah menjadi monster. Apakah ini suatu kutukan dan apa tujuannya? Setelah membaca lebih jauh, alasan Acchi menjadi monster ini memang nggak dijelaskan dalam cerita. Novel justru ditutup dengan satu kalimat yang membuat pembaca menafsirkan maksud Acchi secara personal.

Perubahan menjadi monster ini seolah menjadi kiasan bahwa setiap kita punya ketakutan. Ketika bisa melawan ketakutan itu, kita bisa menjadi sosok diri sendiri. (elv/lai)

Share
Create Your Own Article!