Ilustrasi HIV (biosciencetechnology.jp)

 

Zetizen.com – Selama puluhan tahun, HIV menjadi salah satu jenis virus yang paling sulit dikendalikan, apalagi disembuhkan. Namun, hal tersebut nampaknya bakal segera berubah. Sebab, baru baru ini, sekelompok ilmuwan dari Temple University, Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka telah berhasil memotong segmen DNA seekor tikus yang terinfeksi HIV.

Keberhasilan tersebut menjadi titik terang dari terobosan baru dalam riset obat maupun vaksin untuk HIV. Meski belum diujicoba pada manusia, namun hasil percobaan pada hewan menghasilkan hasil yang sangat positif. Rangkaian segmen DNA yang terjangkiti HIV dapat diputus dan dihilangkan.

Profesor Kamel Khalili, ketua penelitian dari Temple University, mengungkapkan bahwa infeksi yang terjadi pada penderita dikarenakan DNA HIV mampu bertahan dalam sel CD4 + T, jenis sel darah putih yang melindungi tubuh dari infeksi. Hal itu membuat virus sulit untuk dihentikan dan sebagian besar terapi hanya dapat menekan pertumbuhannya.

 

Ilustrasi virus HIV yang menempel di sel darah putih (wikimedia)

 

"Infeksi yang terjadi pada penderita dikarenakan DNA HIV mampu bertahan dalam sel CD4 + T, jenis sel darah putih yang melindungi tubuh dari infeksi."

 

Namun, masalah itu rupanya mulai bisa diatasi dengan penggunaan teknologi baru yang dikembangkan oleh Professor Khalili. “sistem pengiriman obat rAAV mampu menyusup masuk hingga ke dalam organ yang terjangkit strain virus HIV-1 dan mengedit DNA virus. Sehingga sistem ini juga memungkinan untuk mendeteksi dan memotong rantai DNA yang berpotensi mengembangkan virus HIV kedepannya,” Ujarnya.

 

Diagram virus HIV

 

Sebelumnya Profesor Kamel Khalili menggunakan teknologi CRISPR yang memiliki kemampuan untuk menghilangkan HIV-1 dari sel yang terinfeksi. Percobaan menunjukkan replikasi virus itu berkurang secara signifikan setelah dilakukan pengobatan dengan sistem pemotongan gen. Pemotongan ini dapat mengurangi tingkat HIV-1 RNA dalam limfosit secara signifikan.

Kedepannya, metode ini diharapkan akan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan terkait HIV/AIDS pada manusia. “Selanjutnya kami akan melakukan studi tindak lanjut kepada beberapa hewan dalam jumlah besar, di mana para peneliti berencana untuk memantau efek dari pengobatan ini sebelum akhirnya kita aplikasikan pada manusia,” tambah Profesor Kamel Khalili, dilansir dari Independent. (sciencedaily/independent/dhs/giv)

Share
Create Your Own Article!