Salah satu scene Dion Wiyoko (sebagai Ken) dan Albert Halim (sebagai Andrew). Dok: 700pictures

Zetizen.com - Indonesia punya banyak tokoh muda dengan kisah inspiratif. Dua di antaranya adalah pendiri komunitas dunia maya Kaskus, Ken Dean Lawadinata dan Andrew Darwis. Kisah Ken dan Andrew ini diangkat ke film yang berjudul Sundul Gan: The Story of Kaskus. Pada 2 Juni nanti, film ini tayang di bioskop.

Film tersebut disutradarai Naya Anindita yang lebih dikenal sebagai host webseries Jalan-Jalan Men!. Perempuan kelahiran Bandung tersebut baru kali pertama menggarap layar lebar. Sebelumnya dia lebih kerap menggarap film indie. Namun, hal itu bukan jadi pertimbangan utama Ken dan Andrew saat menyeleksi sutradara. ’’Saya dan Naya dari generasi yang sama. Sama-sama active mobile user, akses ke informasi juga cepat,’’ ucap Ken saat bertandang ke redaksi Jawa Pos Selasa lalu (24/5).

Film berkonsep biografi itu ditegaskan Naya tidak bakal jadi film yang menye-menye atau bernuansa sendu. Sundul Gan merupakan film motivasi yang fun dan digarap sesuai perspektif anak muda. ’’Mereka bukan dari keluarga kaya. Background-nya pun nggak seperti Mark Zuckerberg atau gimana. Tapi, mereka bisa lho jadi sukses,’’ papar Naya.

Selama menggarap film yang dibintangi Dion Wiyoko dan Albert Halim tersebut, kekasih Jebraw itu menyebut hal yang paling sulit adalah melepas ego. ’’Sebagai sutradara, saya punya ekspektasi gini gitu. Tapi, di tengah jalan, ada yang problematik. Problem solving harus cepat,’’ ucap alumnus Curtin University, Australia, tersebut.

Kendala besar yang sempat dia hadapi adalah pembatalan syuting di Seattle, Amerika Serikat, yang notabene jadi tempat lahir Kaskus. ’’Awalnya, saya keukeuh harus di Seattle. Tapi, karena memang udah diusahain dan nggak bisa, akhirnya pakai green screen dan CGI,’’ kata Naya dengan gaya ceplas-ceplosnya. Walau sempat ragu dan khawatir, dia memberanikan diri mengambil opsi tersebut.

Seattle, tampaknya, jadi satu-satunya ganjalan dalam penggarapan Sundul Gan. Selebihnya, proses syuting berlangsung lancar. ’’Karena dia percaya dengan apa yang dia lakukan, penggarapannya sangat smooth,’’ ucap Andrew.

Ken dan Andrew menjelaskan, lancarnya proses syuting juga dipengaruhi kedekatan antar-cast dan tim produksi yang akrab. Ucapan keduanya memang bukan sekadar promo. Di luar jadwal syuting atau reading, para cast dan tim kerap berkumpul. ’’Ya ngegosip, curhat-curhat nggak penting gitu. Kami hobi banget ngumpul,’’ kata Naya.

Meski dianggap agenda yang kurang menghasilkan, momen ngumpul diakui Dion sangat membantu membentuk chemistry. ’’Para pemain juga jadi punya trust dan rasa memiliki ke film ini,’’ imbuh Naya.

Naya maupun Ken-Andrew mengaku tidak mematok target terlalu ruwet dengan memproduksi film ini. Namun, Ken tidak menampik ada motif bisnis dalam Sundul Gan. ’’Jelas ada. Sebab, di dunia industri, money means trust. Kami juga ingin film ini masuk jajaran box office-nya Indonesia,’’ tutur Ken. (fam/c17/jan jawapos/web)

Share
Create Your Own Article!