Zetizen.com – Apa bedanya rumah makan dan restoran? Kan sama-sama buat makan. Apa bedanya café dan bistro? Kan sama-sama buat nongkrong. Well, meski pada dasarnya sama-sama buat makan, ada banyak hal yang bikin nama tempat-tempat makan di Indonesia berbeda. Yuk, disimak!

Restoran vs Rumah Makan

Doubletree By Hilton Jakarta
Doubletree By Hilton Jakarta (Foto: Foody)

Suatu tempat makan dikategorikan sebagai restoran kalau punya aturan dan standar tertentu. Misalnya, standar kualitas menu, standar pelayanan, standar penampilan karyawan, dll. Selain itu, suatu restoran juga dikelola oleh sistem manajemen profesional. Artinya, ada bagan struktur kerja yang jelas. Seperti manajer, pengawas, dan pelayan.

Karena standar-standar ini, restoran biasanya terkesan ekslusif. Harganya cenderung mahal karena harus membayar Pajak Penambahan Nilai (PPN). Menu di restoran juga lebih terspesifikasi lho. Dengan kata lain, menu restoran biasanya fokus pada jenis makanan tertentu yang jadi signature tempat itu. Meski dalam praktiknya banyak menu lain yang bisa kamu temukan.

Roemah Langko Mataram
Roemah Langko Mataram (Foto: My Trip Journal)

Rumah makan nggak punya sistem manajeman dan aturan-aturan baku yang mengikat. Biasanya, operasional rumah makan lebih luwes.  Bahkan, rumah makan banyak yang dikelola dan dimiliki oleh sebuah keluarga. Alhasil, meski tetap dikelola secara profesional, nggak ada aturan dan struktur manajemen yang kaku pada rumah makan. 

Selain itu, menu rumah makan juga lebih bervariasi dan nggak terpatok pada standar tertentu. Di banyak tempat, rumah makan juga menyediakan menu yang sudah matang. Jadi, waktu pengunjung datang, pelayan tinggal mengantarkan menu sesuai pesanan tanpa memasak dulu.

Cafe vs Bistro

 

One Fifteenth Coffee Jakarta
One Fifteenth Coffee Jakarta (Foto: Liquivier)

Pada dasarnya, cafe sebenarnya identik dengan tempat minum kopi. Nggak heran kalau menu andalannya adalah berbagai jenis kopi. Biasanya, cafe menawarkan menu makanan kecil sebagai pendamping kopi. Oleh karena itu, cafe lebih cocok buat tempat nongkrong daripada tempat makan. Apalagi, di beberapa cafe, menu makanan berat cenderung terbatas.

Menu yang ditawarkan cafe selalu sama dari hari ke hari. Kalaupun ada penambahan atau upgrading, biasanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Makanan yang ditawarkan biasanya makanan ringan yang gampang dibuat. Misalnya, sup dan sandwich. Oh ya, sekarang ini, cafe banyak menawarkan fasilitas 24 jam.

Bistro Baron Plaza Indonesia
Bistro Baron Plaza Indonesia (Foto: eatandtreates)

Dalam Bahasa Perancis, bistro berarti restoran kecil yang merujuk pada bar kecil yang menjual minuman anggur. Sedangkan di Indonesia, bistro merujuk pada tempat yang menjual makanan Perancis. Tapi, ada juga bistro yang menawarkan menu khas negara lain seperti Jerman atau Italia. Bistro khas dengan suasana santai, homey, dan kasual. Beda dengan cafe, menu bistro biasanya justru fokus pada makanan-makanan berat.

Ciri khas lain dari bistro adalah penawaran menu spesial yang ganti-ganti. Bahkan, ada bistro yang menawarkan menu khusus pagi dan malam. Kalau cafe menawarkan suasana simpel, maka bistro menawarkan suasana sesuai signature.

Warung vs Kedai

Warung Makan Asem Koh Liem Semarang
Warung Makan Asem Koh Liem Semarang (Foto: info makan)

Istilah warung dipakai buat menyebut tempat makan sederhana. Biasanya, warung menjual makanan tradisional atau makanan rumahan. Warung seperti ini banyak ditemukan di daerah kampus atau kos-kosan. Satu hal yang menonjol dari warung adalah harganya yang murah meriah. Nggak heran deh kalau warung jadi favorit banyak orang.

Kedai Sayur
Kedai Sayur (Foto: niaga)

Menurut KBBI, kedai berarti bangunan tempat jualan. Sehingga, kedai identik sebagai sebutan tempat yang menjual bahan-bahan makanan mentah. Sebut aja sayuran, ikan, sembako, dsb. Tapi, penggunaan kata kedai ini masih sering salah. Sebab, ada beberapa tempat makan yang menamai tempat mereka dengan sebutan kedai.

Food Court vs Urban Food Court

Food Court Changi International Airport
Food Court Changi International Airport (Foto: Strait Times)

Istilah food court dipakai buat menyebut tempat makan yang bersifat “kolektif”. Maksudnya, kita bisa menemukan banyak penjual makanan berbeda dalam satu tempat. Nah, food court konvensional biasanya punya bangunan yang cenderung “ala kadarnya”. Fungsinya pun lebih sebagai tempat makan, bukan tempat nongkrong. Makanan-makanan yang dijual biasanya lebih tradisional. Misalnya, bubur ayam, mie, dan nasi goreng.

Urban Food Court Makmu Eatery Surabaya
Makmu Eatery Surabaya (Foto: kulinersby)

Pada dasarnya, urban food court dipakai buat menyebut food court yang lebih modern. Desain bangunannya lebih kekinian dan disesuaikan dengan selera anak muda. Nggak heran kalau urban food court dilengkapi spot-spot Instragam-able. Selain itu, urban food court juga berfungsi sebagai tempat nongkrong. Menu yang ditawarkan lebih bervariasi dan modern. Misalnya, martabak mozzarella dan kue cubit.

Jadi, kamu lebih suka makan di mana?

| Editor: Ratri Anugrah

Share
RELATED ARTICLES
Create Your Own Article!