Zetizen.com – Kalau mendengar nama-nama seperti Albert Einstein, Marie Curie, atau Alexander Graham Bell, yang terbayang mungkin adalah kejeniusan dan karya luar biasa yang mereka punya. Tapi, pernah nggak sih kalian bertanya-tanya seperti apa kehidupan percintaan para ilmuwan dunia ini? Well, mereka pun ternyata punya kisah cinta yang nggak kalah manis dan berliku loh dari orang kebanyakan. Yuk, simak kisahnya!

 

Albert Einstein

Foto : macleans

Sebagai salah satu ilmuwan fisika teoritis paling berpengaruh di dunia, Einstein digadang-gadang masuk dalam 10 orang dengan IQ paling tinggi sepanjang masa. Namun, kehidupan percintaannya ternyata nggak seberuntung itu. Meski sebenarnya Einstein adalah sosok laki-laki populer yang hidup dikelilingi wanita, love life nya tergolong naif dan... hmm, jauh deh dari kata jenius. Ia tercatat pernah menikah sebanyak dua kali, dan juga pernah terlibat hubungan dengan banyak wanita.

Istri pertama Einstein bernama Mileva Maric, adalah seorang murid yang dinikahi pada tahun 1903. Tapi, pernikahan pertama Einstein rupanya nggak berjalan mulus. Kesibukan Einstein pada urusan akademik, sedikit banyak mempengaruhi keharmonisan yang ada. Einstein sempat membuat perjanjian yang cukup aneh untuk mempertahankan pernikahan. Diantaranya, mereka tetap tinggal bersama tanpa hubungan fisik, namun di sisi lain Maric harus tetap menjalankan kewajiban mengurus rumah dan tidak boleh berbicara jika Einstein tidak meminta. Uniknya, Maric menyetujui perjanjian ini. Meski begitu, rumah tangga keduanya pun akhirnya kandas juga di tahun 1919.

 

Einstein dan Mileva Maric (Foto : mirrorspectrum)

Pasca bercerai dengan Maric, Einstein kemudian menikahi sepupunya sendiri yang bernama Elsa Lowenthal. Menurut banyak kisah, Einstein diduga udah menjalin hubungan gelap dengan Elsa bahkan ketika masih terikat pernikahan dengan Maric. Meski pernikahan keduanya dengan Elsa lebih bahagia, Einstein masih terlibat skandal perselingkuhan dengan sekretarisnya. Namun, Elsa rupanya tetap bersabar dan setia menemani sang suami. Nggak jarang, Elsa juga mengaku cukup tertekan dengan ketenaran Einstein. Dia pernah berkata bahwa meskipun ia merasakan kehidupan indah bersama Einstein, tapi di saat yang sama kehidupan itu juga rumit dan melelahkan. Wah, ilmuwan dunia pun punya kehidupan cinta yang berliku ya!   

 

Einstein dan istri keduanya, Elsa Lowenthal (Foto : perunica)

 

Marie Curie – Pierre Curie

Foto : Axess

 

Kalau Einstein punya kehidupan cinta yang nggak mulus, maka lain halnya dengan pasangan ilmuwan Marie Curie dan Pierre Curie. Dua orang jenius ini seolah udah ditakdirkan untuk jadi pelengkap satu sama lain. Nggak cuma punya kisah yang super manis, keduanya juga jadi contoh nyata sepasang suami istri yang bisa berkembang dan sukses dengan saling menjadi pendukung satu sama lain.

Punya kehidupan ekonomi yang nggak mudah setelah kematian sang Ibu, Marie mengubur kejeniusannya demi bekerja untuk keluarga. Sampai akhirnya, dia bisa bersekolah di institut terbaik Sorbonne, dengan bantuan beasiswa. Dalam proses menentukan tesis doktoral, ia dipertemukan dengan Pierre yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya. Saat itu, Marie ikut dalam sebuah project yang juga melibatkan Pierre. Mereka pun mulai saling mengenal dalam acara dinner yang diadakan kawan mereka. Takdir berbicara, their minds and spirits just matched each other’s perfectly! Mereka pun nggak bisa berhenti untuk saling bertemu satu sama lain. Membicarakan proyek demi proyek, hingga makin menemukan diri mereka nggak bisa terpisah satu sama lain. Mereka pun menikah di tahun 1895.

 

Marie Curie dan Pierre Curie, pasangan jenius yang saling melengkapi (Foto : smiruponitke)

Setelah menikah, keduanya makin jadi supporter dan pelengkap satu sama lain. Bersama-sama, mereka bekerjasama hingga menghasilkan penemuan unsur radioaktif yang sangat bermanfaat bagi dunia kesehatan dan ilmu pengetahuan. Dari penemuan ini pula, mereka dianugerahi Nobel bidang fisika di tahun 1903. Kerennya, meski sepasang suami istri ini menyumbangkan hasil penemuan yang sangat bermanfaat buat dunia, khususnya dalam bidang treatment kanker, mereka nggak mengambil keuntungan dari penemuan itu. Mereka tetap hidup bahagia dalam kesederhanaan, dan mengisi hari-hari dengan berkebun, bersepeda, atau menjelajah hutan bersama. Benar-benar kisah cinta super indah!

 

Alexander Graham Bell

Foto : profilboss

Nggak cuma jenius, sang penemu telepon ini rupanya juga adalah sosok laki-laki super romantis dan manis. Gimana enggak, teknologi telepon yang berhasil dia temukan ternyata merupakan salah satu bukti cinta dan dedikasinya untuk sang istri. Yap, Alexander Graham Bell memulai ide inovasi bukan untuk mendapat pengakuan atau ketenaran, melainkan demi menciptakan sesuatu untuk perempuan yang sangat dicintainya.

Diceritakan, Alexander Graham Bell udah lama tertarik pada ilmu bahasa dan suara. Hal ini nggak lepas dari fakta bahwa sang Ibu yang dia cintai adalah seorang penderita ketulian. Antusiasme dan empatinya yang tinggi pada ketulian ini jugalah yang mendorong Bell menjadi pengajar orang-orang tuli. Saat itulah, dia bertemu seorang wanita yang kemudian dia cintai. Wanita itu bernama Mabel Hubbard, yang juga merupakan seorang tuna rungu.

 

Graham Bell dan Mabel Hubbard (Foto : emaze)

 

Demi memudahkan komunikasi penderita tuna rungu, termasuk Mabel, Bell pun mencoba membuat alat baru bernama phonautograph. Alat ini bisa menerjemahkan suara dan mengubahnya dalam bentuk tulisa  pada kaca. Nggak berhenti sampai disitu, penelitian Bell kemudian berkembang hingga dia bisa menemukan telegraf berbasis suara. Setelah menikah dengan Mabel, Bell bahkan makin bisa mengembangkan inovasi dan berhasil menemukan teknologi telefon. Psst, Bell pernah menulis surat buat sang istri kalau telepon yang ia ciptakan merupakan gabungan kecintaan dan keingintahuannya pada Mabel. Super sweet!

Source : biography, experienceproject

Editor: Bogiva

Share
Create Your Own Article!