Zetizen.com - Isu penyuka sesama jenis masih kontroversial hingga kini. Nggak cuma para psikolog yang mencoba mengkaji penyebab fenomena tersebut, melainkan juga ilmuwan.Temuan yang mereka hasilkan cukup mengejutkan. Beberapa scientist menyatakan bahwa kecenderungan menyukai sesama jenis juga dipengaruhi faktor genetik.

Pada 1899 Magnus Hirschfeld dari Institut fur Sexualwissenschaf, Jerman, mencetuskan teori adanya gay gene yang jadi sebab kecenderungan homoseksual. Kemudian, penelitian Dr. Michael Bailey dan Dr. Richard Pillar pada 1991 Hamer mendukung teori itu. Mereka menyatakan terdapat salah satu kromosom X yang mempengaruhi orientasi seksual seorang cowok. Namun, hasil penelitian Prof. George Rice, Prof. Alan Sanders dan Ruth Hubbard pada 1998-1999 justru menyatakan sebaliknya.

Karena penasaran, Zetizen Team berhasil telah mengumpulkan pendapat sejumlah ahli. Menurut  Prof dr Ag. Marlinata sp Biol Ked, Guru Besar Human Sexology Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Widya Mandala (UWM)  Surabaya, hingga saat ini penyebab homoseksual masih belum dapat dipastikan.  

Meski benar salah satunya dari faktor keturunan, hal itu belum tentu berpengaruh besar. “Adanya gay  gene tersebut mungkin benar, tetapi faktornya bukan itu saja. Sifat gen yang menurun hanya sekadar ‘kemampuan’ saja. Jika ada faktor pemicunya dari luar genetis, bisa jadi sifat tersebut akan muncul,” tandasnya.

Pendapat lain dari Sugiharto S. Si M.Si, ahli genetika Fakultas Saintek Universitas Airlangga Surabaya menyatakan, khususnya pada transgender, terdapat kelainan yang disebut pseudohermaphrodite. Hal itu terjadi akibat proses diferensiasi pembentukan saluran kelamin yang tidak sempurna.

“Terkadang, proses diferensiasi tidak sempurna sehingga ciri fisik laki-laki mirip seperti milik perempuan. Begitu juga sebaliknya,” ujarnya. Selain secara genetika, aktivitas hormonal juga nggak kalah mempengaruhi. Pembentukan hormon seksual seperti androgen, testosteron, dan estrogen, bisa terganggu akibat masalah di kelenjar anak ginjal.

Prof W.F. Maramis, dr, Sp KJ(K) menambahkan perilaku homoseksual terbentuk oleh faktor di luar genetika. Dalam buku Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, ahli kedokteran jiwa UWM Surabaya menuliskan bahwa pengaruh biologis memang penting namun dalam menunjukkan peran gender faktor belajar individu lah penyebab utamanya.

“Perilaku LGBT bukan dimulai dari genetis sebab secara ilmiah belum  speenuhnya terbukti. Semua tergantung bagaimana pengaruh lingkungan dan pendidikan individu tersebut,” tutupnya. (ndy/sam)

 

Foto: Metamansion

Share
Create Your Own Article!