Are You a Zetizen?
Show Menu

4 Kesalahan Sinetron Indonesia yang Nggak Disukai Zetizen

4 Kesalahan Sinetron Indonesia yang Nggak Disukai Zetizen

 

Zetizen.com – Meski diputar tiap hari dan ceritanya disambung sampai ratusan episode, Sinetron Indonesia ternyata tetap nggak terlalu menarik di mata anak muda. Apalagi kalau konsep yang diangkat mirip-mirip serial luar negeri yang booming. Hmmm, kalau kata Zetizen berikut sih, Sinetron kayak itu justru jadi makin nggak menarik.

Peran yang Jauh Banget dari Karakter Remaja Indonesia

Peran yang Jauh Banget dari Karakter Remaja Indonesia

Chiang Kevin (foto pribadi)

Chiang Kevin, SMAN 5 Balikpapan

Sebagai salah satu pegiat film di Balikpapan, aku merasa sinetron Indonesia makin kesini justru banyak yang nggak worth it ditonton. Salah satunya, karena karakternya sering kali cuma 'menjiplak' karakter serial TV lain yang udah sukses.

Kayak salah satu sinetron yang karakternya ternyata mirip banget sama karakter TV series Korea Selatan, Surplus Princess. Kelihatan kalau produser sinetron lokal kebanyakan cuma meniru film atau tv series luar tanpa dikembangkan lagi.

Terus soal aktornya sendiri, aku juga merasa aktingnya terlalu lebay. Alhasil, makin banyak budaya nggak penting yang jadi terserap masyarakat luas. 

Arah Cerita Nggak Menentu Dan Dipanjang-Panjangin

Arah Cerita Nggak Menentu Dan Dipanjang-Panjangin

Astri Belinda Malik (foto pribadi)

Astri Belinda Malik, SMAN 1 Tarakan

Kalau menurutku, kurangnya kualitas sinetron “jiplakan” Indonesia itu ada pada komposisi ceritanya. Terkesan dipanjang-panjangin dengan cerita yang nggak tahu mau dibawa kemana.

Kayak sinetron populer di salah satu TV swasta yang nyeritain kehidupan anak sekolah setengah vampir gitu. Kelihatan banget kalau komposisi ceritanya justru bikin kualitasnya menurun. Salah satu buktinya sewaktu teman-teman tokoh utama yang sebelumnya manusia biasa, justru berubah jadi vampir semua tanpa hal yang jelas. Aneh kan? nggak kenapa-kenapa kok jadi vampir.

Aku jadi kangen sinetron lawas kayak “Keluarga Cemara” yang ceritanya itu sarat makna, cocok sama keadaan yang ada, dan nggak dipanjang-panjangin.

Visual Efek yang Maksa dan Kaku banget

Visual Efek yang Maksa dan Kaku banget

Kristiana Natasya (foto pribadi)

Kristiana Natasya, SMAN 10 Yogyakarta

Ini nih faktor yang bikin aku paling males ngelihat sinetron Indonesia meniru serial TV luar tanpa mempertimbangkan kualitas visualnya.

Kalau cuma niru cerita atau adegan aku masih nggak masalah ya, tapi kalau udah sampai masalah animasi dan efek visual, wajib nih jadi koreksi sutradara, produser dan editor filmnya. Soalnya, sinetron Indonesia rata-rata punya efek visual, apalagi animasi yang maksa dan kaku banget

Bukannya jadi tambah bagus, efek visual kayak gitu malah jadi bencana yang menghancurkan filmnya sendiri. Yah aku nggak heran sih kalau ada sinetron yang sampai dapat banyak hujatan gara-gara cerita yang jiplak dan efek visual kayak gitu.

Kurang Punya Pesan Moral

Kurang Punya Pesan Moral

Juvander Holifild (foto pribadi)

Juvander Holifild, Politeknik Kesehatan Bengkulu

Emang sih, serial drama Korea itu banyak banget peminatnya. Jadi menurutku bukan hal aneh kalau drama-drama populer itu dijadikan referensi untuk membuat sinetron. Tapi, bukan berarti juga keadaan atau situasi yang dihadapi karakter bisa dibuat sama persis sama film aslinya.

Kayak beberapa sinetron yang nunjukkin pasangan anak muda usia sekolah yang kayak udah siap nikah. Sementara di Indonesia sendiri sedang berusaha mengurangi nikah muda. Nah, jadi bertentangan banget kan? Kalau konsep dasar cerita sama sih nggak masalah, tapi ya tetap harus menyesuaikan kondisi yang ada disini biar jadi nggak aneh.

Nah, kalau kamu? suka apa engga sih sama sinetron Indonesia? Apa alasannya? 

Editor: Bogiva

RELATED ARTICLES

Please read the following article