Zetizen.com – It’s sure an important thing to know about mental health. Yap, belakangan ini awareness mengenai isu mental health (Kesehatan mental) emang makin banyak dibicarakan. Buat para remaja, pengetahuan tentang mental health ini juga nggak boleh diremehkan. Usia remaja adalah usia dimana kita lagi gencar-gencarnya berkehidupan sosial. It means, bakal banyak juga berbagai orang dan perilaku yang kita temui dalam keseharian.

Disinilah pengetahuan tentang mental health bakal jadi sangat penting. Memahami tentang mental health, bikin kita bisa lebih berhati-hati untuk nggak gampang judgemental sama perilaku orang-orang di sekitar kita. Satu pengertian dari kita, mungkin bisa jadi sesuatu yang berharga banget dan bisa menolong orang lain loh. Nah, buat lebih memahami isu mental health, kamu bisa coba tonton beberapa film berikut ini

 

Film ini mengajak kita menyaksikan kisah nyata Evan sebagai penderita mental illness (Foto : movienthusiast)

Boy Interrupted (2010)

Sebagai sebuah film dokumenter, Boy Interrupted bisa mejadi pilihan untuk membuka mata kita mengenai betapa besarnya pengaruh depresi dan bipolar dissorder pada kehidupan penderitanya. Film ini menceritakan dokumentasi tentang seorang remaja bernama Evan Scott Perry, yang memutuskan untuk bunuh diri di usia sangat muda, 15 tahun.

Menariknya, film dokumentasi ini dibuat sendiri oleh orang tua Evan, yakni Dana dan Hart Perry. Kita akan diajak melihat bagaimana Evan menjalani hari-hari sebelum kematiannya. Film ini juga dilengkapi interview dengan teman, keluarga, guru, sampai dokter yang merawat Evan. Sehingga kita bisa benar-benar mengetahui bagaimana kondisi mental yang dialami Evan. Recommended, untuk menjadi pengingat betapa pentingnya kita harus memahami kondisi mental orang lain.

 

Penasaran melihat perjuangan Craig melawan depresi? (Foto : Twitter)

It’s Kind of A Funny Story (2010)

Nggak jarang kita menggunakan kata depresi saat lagi suntuk atau super sedih. Tapi, depresi itu nggak se-sederhana itu loh. Gejala depresi nggak boleh disepelekan loh. Sebab, gejala depresi bisa berefek pada kehidupan sehari-hari hingga keinginan untuk bunuh diri alias suicidal. Isu depresi sebagai mental illness inilah yang diangkat sebagai premis film yang dibintangi Keir Gilchrist dan Emma Roberts ini.

Selama 101 menit, kita akan diajak melihat seorang remaja bernama Craig yang harus berjuang melawan depresi yang dirasakannya. Dia memutuskan untuk pergi ke psikiatri setelah berkeinginan untuk suicidal. Selama satu minggu di rumah sakit, Craig bertemu dengan kawan-kawan yang juga memiliki masalah serupa. Seperti seorang ayah bernama Bob yang punya emosi nggak stabil, sampai cewek bernama Noelle yang dirawat karena keinginan menyakiti diri sendiri alias self-harming dissorder. Dalam film ini, kita ditunjukan pentingnya untuk nggak pernah meremehkan kondisi mental orang lain.

 

the perks of being wallflower
Dukungan orang sekitar berguna banget buat penderita mental illness (Foto : Nytimes)

The Perks of Being A Wallflower (2012)

Pernah nggak sih kamu punya teman yang cenderung pendiam dan socially awkward? Seringkali kita meyebut mereka aneh. Tapi, nggak ada yang tau apa yang ada dibalik ke-introvert-nya mereka. Hal inilah yang coba diceritakan dalam film yang dibintangi oleh Logan Lerman, Emma Watson, dan Ezra Miller ini. Bercerita tentang kehidupan seorang remaja penderita post-traumatic stress disorder (PTSD). Film ini bisa bikin kita lebih memahami apa yang mungkin ada di balik sikap introvert orang-orang sekitar kita.

Dikisahkan, seorang remaja bernama Charlie adalah sosok intorvert yang cenderung menarik diri dari pergaulan. Di balik sikap tertutupnya yang kelihatan wajar, ternyata ada trauma masa lalu dibaliknya. Perasaan bersalah atas kematian tantenya, peristiwa bunuh diri sahabatnya, hingga pelecehan seksual ketika kecil, meninggalkan Charlie pada kondisi traumatik berkepanjangan. Lewat film ini, kita akan diajak melihat bagaimana Charlie ‘berdamai’ dengan trauma masa lalunya berkat dukungan dua sahabat barunya, Sam dan Patrick. Yes, film ini bakal bikin kita tahu betapa berartinya pengaruh dan dukungan teman buat memulihkan kondisi mental seseorang!

 

Kehidupan penderita bipolar dissorder bakal tergambarkan lewat film ini (Foto : Youtube)

Silver Lining Playbooks (2012)

Istilah bipolar dissorder mungkin udah nggak asing lagi buat kita. Tapi, mungkin belum banyak yang benar-benar tahu bagaimana dan seperti apa gangguan ini sebenarnya. Film yang pernah meraih Oscar ini bisa menjadi pilihan. Dibintangi Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence, kita bakal diajak melihat sendiri bagaimana kondisi bipolar dissorder coba digambarkan melalui film ini.

Film ini menceritakan kehidupan seorang laki-laki penderita bipolar dissorder bernama Pat Solatano. Pat baru aja keluar dari sebuah mental health hospital, karena kondisi emosinya yang begitu labil. Hal ini jugalah yang bikin Pat harus kehilangan pekerjaan dan istrinya. Lewat film ini, kita bakal diajak melihat betapa ‘luasnya’ range emosi yang kerap dirasakan para penderita bipolar dissorder.Well, di balik mood-swing parah teman-temanmu, mungkin aja mereka juga menyimpan masalah yang sama, kan?

 

Kesempatan speak up berarti banget buat penderita mental illness (Foto : Youtube)

Beyond Silence (2017)

Film ini menampilkan kehidupan real para penderita berbagai mental illness. Uniknya, dalam film ini penyanyi Demi Lovato bertindak sebgaia produser. Dia juga udah lama dikenal concern soal mental health karena pernah mengalaminya sendiri. Yes, di tahun 2010, Demi pernah menjalani terapi karena kondisi bipolar dissorder hingga eating dissorder yang dialaminya.

Berdurasi 30 menit, film ini menampilkan cerita Jeff, Lauren, dan Llyod, yang didiagnosa dengan berbagai mental illness berbeda. Mulai dari bipolar dissorder sampai schizophrenia. Meski singkat, film ini menyampaikan nilai dan edukasi tentang betapa pentingnya kesempatan berbicara buat para penderita mental illness. Tiga tokoh yang ada di film ini, membuktikan kalau kehidupan mereka menjadi jauh lebih baik setelah mereka berani speak up. So, buat kamu yang merasa butuh bantuan, jangan ragu-ragu buat bercerita ke orang terdekat atau tenaga profesional ya.

 

Editor: Fanny Kurniasari

Share
Create Your Own Article!