Shibuya, perempatan besar di kota Tokyo yang lebih ramai dilewati pejalan kaki dibanding mobil pribadi (foto: japanphototrip)

 

Zetizen.com – Sebagai negara industri yang terkenal dengan banyak produk otomotifnya, seharusnya Jepang punya kultur otomotif yang dominan. But wait, tau nggak sih kamu kalau ternyata, banyak warga Jepang yang justru merasa punya kendaraan pribadi semacam mobil itu merepotkan dan nggak penting. Uniknya, justru anak muda lah yang paling banyak menganut pemikiran semacam itu.

Berbeda banget kan sama pandangan anak muda Indonesia yang justru berlomba lomba buat memiliki kendaraan pribadi. Anak muda di Jepang justru lebih concern sama perkembangan gadget, teknologi dan hal hal yang berhubungan sama hobi mereka. Well, di Indonesia juga gitu sih, tapi buktinya, permintaan kendaraan pribadi pun juga tetap meningkat. Nahloh! Terus, sebenarnya, apa sih yang bikin anak muda jepang bisa tetap keren meski tanpa harus punya kendaraan pribadi?

Well, semua itu berawal dari kultur yang disebut sebagai “Kuruma Banare”. Yakni, pemikiran jika membeli kendaraan bermotor seperti mobil merupakan hal yang sia-sia. Mereka justru lebih memilih berjalan kaki dari pada harus membuang uang membeli kendaraan bermotor atau mobil sport seperti yang dilakukan masyarakat kita yang, ummm…  tinggi gengsinya. That’s why, Jepang jadi salah satu negara dengan sistem transportasi umum paling maju di dunia.

Dikutip dari Newsweek, Ryuichi Kitamura, ahli sistem transportasi dari Kyoto University mengatakan kalau tren memiliki kendaraan pribadi dianggap ketinggalan zaman. “Dulu, orang orang menganggap punya kendaraan pribadi adalah simbol status dan kebanggan,” Ujarnya. “Tapi anak muda saat ini sudah tidak peduli hal itu lagi. Dengan sistem transportasi umum yang canggih, punya kendaraan pribadi menurut mereka adalah kebiasaan abad 20 yang sudah sangat ketinggalan zaman,” Imbuhnya.

Well, Apa yang disampaikan professor Kitamura ada benarnya. Sebab, tiap tahunnya, pengeluaran untuk kendaraan pribadi tiap keluarga di Jepang rata rata selalu mengalami penurunan. Selain karena “Kuruma Banare” ternyata, biaya kepemilikan kendaraan pribadi terutama mobil juga sangat mahal. Hanya dengan memilik sebuah mobil, seseorang harus mengeluarkan biaya rutin sebesar USD 500 atau sekitar 6,5 juta rupiah setiap bulannya. Belum lagi pajak pembelian dan izin mengemudi yang juga mahal membuat masyarakat perkotaan jadi malas punya kendaraan pribadi.

Kerennya lagi, sebagain besar anak muda Jepang juga menganggap kendaraan pribadi bisa menyebabkan kerusakan lingkungan yang lebih parah. Sebuah kesadaran yang sangat jarang di temui di negara lain termasuk Indonesia, kan? Selama sistem angkutan umum di negara mereka masih baik dan bisa dimanfaatkan, buat apa punya kendaraan pribadi? (newsweek/leftlanenews/dhs/giv)

Share
RELATED ARTICLES
Create Your Own Article!