Zetizen.com - Suku bugis di Sulawesi Selatan merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia. Meski mayoritas masyarakatnya beragama Islam, ternyata ada banyak ritual tradisional yang masih dijaga dan berkembang sampai sekarang. Salah satunya adalah pembagian gender yang bukan dua, tapi lima! Apa sajakah itu?

Makkunrai (True Female)

Makkunrai (foto:YouTube)

Makkunrai dalam bahasa Bugis digunakan untuk menyebut kaum perempuan. Yap, ini salah satu klasifikasi gender konvensional yang merujuk pada perempuan "sebenarnya". Bahkan, kata makkunrai diambil dari busana rok ala wanita yang disebut unre. Oh ya, kedudukan perempuan dalam masyarakat suku Bugis sangat dihargai lho. Nggak jarang mereka dianggap sebagai simbol martabat keluarga. Biasanya, semakin besar jumlah mahar yang diberikan, semakin naik pula kelas sosial kedua pihak keluarga. Wow!


Oroane (True Male)

Laki-laki Suku Bugis (foto:Indonesian Tourism)

Oroane juga salah satu gender "konvensional" yang dimiliki suku Bugis. Oroane adalah klasifikasi gender untuk kaum pria. Para oroane adalah laki-laki yang "sebenarnya" alias terlahir secara biologis sebagai laki-laki. Sikapnya pun maskulin, layaknya laki-laki pada umumnya. Oleh karena itu, sama seperti di tempat-tempat lain, para oroane juga bertanggung jawab dalam hal bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.


Calalai (False Man)

Calalai, Wanita Laki-Laki (foto:Swiff)

False men biasa disebut "laki-laki palsu". Palsu dalam hal apa? Calalai ternyata merujuk pada kaum perempuan yang sifat maskulinnya menonjol. Dalam masyarakat, para calalai benar-benar berpenampilan seperti laki-laki asli dan berperan seperti mereka. Bahkan, calalai juga merokok dan berjalan sendirian di malam hari. Pokoknya nggak kenal takut deh! They are woman in anatomy, but man in personality.


Calabai (False Woman)

Calabai (foto:Americanaljazeera)

Kebalikan dari calalai, calabai adalah para "wanita palsu". Mereka adalah laki-laki yang punya sisi feminin. Nggak seperti di tempat lain dimana laki-laki "feminin" masih didiskriminasi, suku Bugis malah mengakui calabai sebagai bagian dari sistem klasifikasi gender. Bahkan, para calabai juga punya peran spesial. Mereka dianggap ahli mengatur pernikahan. Kalau ada pernikahan, keluarga pengantin pasti minta bantuan calabai. Mulai urusan tenda, dekorasi, gaun, makeup, sampai makanan. Super cool!


Bissu

Nggak semua orang bisa jadi Bissu (foto:YouTube)

Gender kelima yang diakui dalam suku Bugis adalah bissu. Beda dari gender-gender sebelumnya, bissu dianggap sebagai perpaduan dari keempat gender yang ada. Nggak sembarangan orang bisa dianggap sebagai bissu. Menurut kepercayaan masyarakat Bugis, bissu adalah sebuah meta-gender dimana cuma orang-orang yang punya kombinasi dari keempat gender aja yang bisa masuk dalam klasifikasi ini. Oleh karena itu, bissu dianggap punya kedudukan dan peran tinggi di masyarakat. Misalnya, dalam ritual tradisional, para bissu bertanggungjawab memimpin.

| Editor: Ratri Anugrah


Share
Create Your Own Article!