Are You a Zetizen?
Show Menu

4 Keunggulan Film Indie Dibanding Film Mainstream

Fahri Syadia Fahri Syadia 18 Dec 2016
4 Keunggulan Film Indie Dibanding Film Mainstream

Zetizen.com - Siapa sih yang nggak kenal sama franchise raksasa-raksasa box office, kayak film-film besutan Marvel atau DC? Nggak rela deh kalau sampai ketinggalan. Tapi nggak banyak yang tahu, sebenernya banyak loh film bagus yang nggak banyak terekspos ke Hollywood dan daftar box office, yaitu film-film independen. Meski dengan budget seadanya, Film indie ternyata bisa punya banyak keunggulan dibanding film mainstream loh!

 

1. Plot Cerita Lebih Ekspresif

Film Ziarah menceritakan kisah Mbah Sri (foto: Fim Ziarah)

Buat yang pernah lihat film indie, pasti poin yang satu ini lah yang pertama kali membuatmu terkagum. Jalan cerita Film indie bener-bener bebas. Nggak ada batasan-batasan ‘ide cerita tipikal box office’ ala film-film Hollywood, apalagi kisah cinta yang gampang banget ketebak kayak FTV. Sebab, nggak ada tuntutan untuk menarget selera pasar, meski karya independen tentu juga dikomersilkan.

Dengan budget yang nggak banyak, Film indie tentu nggak punya cukup sumber daya buat membuat animasi-animasi CGI yang bener-bener wah sekelas film Hollywood. Tapi justru karena itu, fokus Film indie terletak di plotnya. Jadi mungkin kalau kamu mencari film action penuh adegan fantastis, okay film Hollywood jelas unggul. Tapi kalau kamu mencari drama murni yang kisahnya nggak akan kamu bayangkan, film independen bisa jadi referensimu.

 

2. Lebih Mind-Challenging dan Eksperimental

The Lobster (foto: Rogerelbert)

Plot cerita yang lebih luas, berliku, dan sulit ditebak bakal bikin kita sebagai penonton tertantang. Hal ini juga membuat experience yang kita rasakan saat menyaksikan Film indie agak berbeda dibandingkan experience saat melihat film Hollywood. Selain karena Film indie kerap berakhir tanpa basa-basi, karena sisi ‘menghibur’ dari kedua jenis film yang berbeda.

Kritikus film kelas dunia kayak Fansided pun bilang kalau “Melihat The Avengers dengan efek visual luar biasa memang menghibur. Tapi melihat Film indie seperti Dead Man jauh lebih mind-challenging.” So kalau kamu penggemar kisah misteri, riddle, dan sebagainya, mungkin bisa cobain nih film-film indie.

 

3. Pilihan Adegan Sangat Bebas

On The Origin of Fear (foto: YouTube)

Kalau kamu lihat film di bioskop, apalagi bioskop Indonesia, sebenarnya kamu tuh melihat film yang udah disaring dan disensor sedemikian ketat oleh lembaga sensor yang bertugas. Tentu adegannya nggak akan terlalu vulgar, terlalu penuh kekerasan, atau bermuatan konten-konten yang sensitif.

Film indie malah sebaliknya. Adegan gore yang bikin ngelihatnya pingin muntah, konten-konten yang bermuatan sensitif mulai dari norma masyarakat hingga SARA. Sutradara bisa berekspresi dengan bebas dalam film indie. So, patut dicatat juga, kita harus siap mental buat ngelihat film-film berkonten rawan begitu! Misalnya, dalam film On The Origin of Fear karya Bayu Prihantoro Filemon yang menyoroti kekerasan yang kerap dijadikan sebagai simbol kekuasaan negara dalam film Pengkhianatan G 30 S PKI karya sutradara Arifin C. Noer.

 

4. Sarana Ideal Buat Belajar

Sing Street (foto: Indiewire)

Orang-orang seusia kita (kecuali Chelsea Islan, Pevita Pearce, atau Sherina yang udah jadi aktris top sejak remaja) mungkin bakal sulit buat bisa terlibat langsung dalam penggarapan film-film ber-budget besar. Apalagi tahu sendiri, produser Indonesia cenderung memprioritaskan wajah-wajah cakep dan blasteran buat mengisi filmnya.

Nah di sini lah Film indie berperan. Penggarap Film indie relatif nothing to lose dan nggak takut rugi dalam membuat film. Siapa pun boleh terlibat, nggak wajib menyandang nama besar atau wajah oriental. Bakat bisa diasah. Makanya, Film indie ini ideal banget buat belajar terlibat dalam dunia perfilman, mulai dari sutradara, camera-man, hingga aktor/aktris.

 

 

Source: Fansided, Storify, Indiewire

Editor: Wika

 

RELATED ARTICLES

Please read the following article