Are You a Zetizen?
Show Menu

SMKN 5 Samarinda Bangun Ekskul Dari Nol Demi Lestarikan Budaya

Zetizen Zetizen 28 Jul 2017
SMKN 5 Samarinda Bangun Ekskul Dari Nol Demi Lestarikan Budaya

 

Zetizen.com, Samarinda - Modern dance emang jadi urban culture yang eksis banget. Padahal enggak ada salahnya jika melirik tari tradisional yang kita miliki, loh. Apalagi, udah jadi rahasia umum jika generasi Z menjadi kunci utama yang bisa menjaga kelestarian culture Indonesia. Bahkan, bukanlah hal mustahil jika kelak berhasil membawa dan memperkenalkannya hingga ke mancanegara.

Hal itulah yang memotivasi teman-teman dari smkn 5 samarinda untuk mendirikan ekskul bertajuk Tari Dayak. Sesuai namanya, mereka concern melestarikan berbagai tarian dari suku asli Kalimatan tersebut. Terutama Dayak Kenyah karena para pendiri ekskul merupakan keturunan asli suku tersebut.

Ekskul ini udah berdiri kurang lebih lima tahun. Perjuangan yang dilakukan hingga keberhasilan saat ini ternyata nggak gampang. “Dulu, kakak-kakak kelas yang asli dari Dayak Kenyah berinisiatif membuatnya. Lima orang tersebut menemui guru agar diberi persetujuan membentuk ekskul sekolah. Mereka benar-benar menaruh effort loh. Bahkan harus menunggu lama hingga akhirnya tari dayak disahkan oleh sekolah,” cerita Mila Arnanda kepada Zetizen Kaltim Post.

Meski pioneer-nya asli keturunan Dayak, mereka nggak menutup kemungkinan menerima anggota baru. “Selama mau berusaha melestarikan tarian daerah, kami selalu welcome. Saat MPLS juga promosi biar makin banyak adik kelas yang tertarik gabung dengan kami,” terangnya.

Kostum tari kerap jadi problem yang mereka hadapi. Soalnya dibutuhkan anggaran yang nggak sedikit untuk menutupinya. “Untungnya sekolah memberi dukungan jadi hal tersebut bisa teratasi. But, bukan berarti kami nggak mandiri juga. Biar nggak berat, ada sistem uang kas yang diterapkan. Jadi kalau pengin nambah aksesoris, dana tersebut yang digunakan,” cuap siswi kelas XII tersebut.

Tari Dayak yang memiliki 12 orang anggota ini selalu berlatih seminggu sekali selama dua jam. Oh iya, instead menyewa pelatih, mereka saling mengajarkan gerakan secara turun temurun dari kakak ke adik kelas. Hal itu masih berlangsung meski para pendiri ekskul telah lulus sekolah. Luar biasa! Happily, sekolah memberi dukungan penuh kepada Tari Dayak. Para guru dan kepala sekolah sering merekomendasikan event untuk diisi oleh mereka. Jika untuk perlombaan, biasanya membawakan tari Kenyah karena pakem yang diajarkan kakak kelas terdahulu. Sedangkan di acara santai, para anggota menarikan tarian lain.

Para anggota tari dayak kompakkan menjawab jika regenerasi adalah kunci keberlangsungan sebuah budaya. Bayangkan kalau enggak ada generasi muda yang tertarik melakukannya. “Penginnya sih, semua sekolah punya ekskul tari daerah. Lalu setiap tahun, adik-adik kelas semangat untuk join. Apalagi perjuangan membangun ekskul ini enggak mudah. Sayang kan, kalau mesti berhenti berkarya,” tutup Mela tersenyum. (*/yjm/*/ewy)

RELATED ARTICLES

Please read the following article