Zetizen.com – Nggak bisa dimungkiri kalau drama korea itu punya ciri khas yang udah lekat di pikiran tiap penggemarnya. Mulai dari alur ceritanya yang oke, pilihan pemeran yang bisa jadi vitamin A buat mata, sampai gimmick-gimmick yang sukses membuat siapapun ikutan baper. Wajar kan kalau akhirnya drama dari negeri ginseng itu sampai punya penggemar setia yang susah banget berpaling hati. Bahkan beberapa drama super populer bisa tetap jadi pembicaraan hangat sampai berbulan-bulan setelah episode terakhirnya tayang. Rasanya, cerita drama itu benar-benar unforgettable.

Tapi, apa jadinya kalau drama-drama Korea populer ini akhirnya justru diadaptasi jadi sinetron Indonesia? Or worse, dijiplak ceritanya dengan perubahan disana-sini dan ditayangkan sebagai sinetron baru. Kenapa banyak penggemar drama justru jadi tampak keberatan dan bukannya happy melihat drama favorit mereka diadaptasi jadi sinetron Indonesia?

Mengulang Cerita yang Sama Persis, Tanpa Inovasi

Jalan cerita sampai gimmick yang dibuat sama persis bikin penggemar jadi berpikir dua kali buat nonton versi Indonesia (foto:Twitter)

Salah satu alasan yang bikin banyak penggemar drama Korea seringkalikurang suka sama kehadiran adaptasi drama berbentuk sinetron Indonesia, adalah kurangnya inovasi yang dihadirkan sama sinetron itu sendiri. Kebanyakan sinetron hasil adaptasi drama Korea, punya jalan cerita, gimmick, hingga tampilan visual yang dibuat sama persis dengan versi aslinya. Nggak adanya tambahan kreatifitas inilah yang bikin orang jadi berpikir dua kali buat menonton drama Korea rasa sinetron Indonesia.

 

“Udah tahu ceritanya, ngapain juga nonton ulang. Apalagi semua-semuanya dibuat sama persis sama versi asli, nggak ada tambahan inovasi apa-apa. Kayak ngapain aja gitu kita nonton ulang,” Eunike Naira Tiatira, SMA Masa Depan Cerah Surabaya.


Disajikan Dalam Kualitas Di Bawah Versi Asli

Kualitas drama Korea dan sinetron Indonesia sayangnya masih belum setara (foto:Giphy)

Nggak sekedar punya cerita yang bagus, drama korea juga dikenal super niat dalam mebangun suasana dan latar. Mulai dari setting tempat, efek CGI, sampai berbagai aspek lain dihadirkan dalam versi se-real mungkin. Demi menghadirkan kesan real ini jugalah, kadang setting pembuatan tempat pun bisa memakan biaya yang super mahal. Hasilnya, suasana cerita pun jadi makin terasa. Even drama bergenre fantasi pun rasanya masih bisa diterima akal berkat kreatifitas pengemasan yang dibuat apik. Sayangnya, kompleksitas dan ‘keniatan’ produksi drama Korea inilah yang dianggap penggemar masih gagal dicapai versi sinetron Indonesia. Iya, coba aja perhatiin sinetron stripping Indonesia yang biasanya punya tampilan dan efek-efek seadanya.

 

“Kualitasnya jauh. Dari setting sampai penggambaran suasana masih jauh banget sama versi asli. Misal kalau di drama Korea ada setting demo gitu kan benar-benar real orangnya benar-benar dibuat banyak. Waktu diterapin ke sinetron Indonesia, jadinya malah kelihatan bohongnya pendemonya cuma segelintir gitu,” Citra Awanis Ghaisani, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

 


Pemilihan Pemeran yang Nggak Memenuhi Ekspektasi

Tokoh dan pemeran drama Korea emang seolah udah lekat banget ya sehingga sulit digantikan? (foto:Twitter)

Diakui atau enggak, artis Korea yang cantik dan ganteng-ganteng adalah salah satu faktor utama fans betah berlama-lama menghadap layar kaca. Apalagi, hal ini ditunjang sama kemampuan akting mereka yang emang keren dan selalu sukses membawa emosi penonton. Akhirnya, tokoh yang mereka perankan pun melekat banget di benak para penonton. Maka, waktu tokoh-tokoh memorable ini coba dihadirkan dalam versi sinetron Indonesia, ekspektasi penonton justru buyar, hancur berantakan. Pemilihan aktor dan aktris yang dianggap jauh dari ekpektasi ini juga jadi salah satu hal yang bikin penggemar drama keberatan dengan kehadiran adaptasi drama Korea ke versi Indonesia.

 

“Tokoh-tokoh drama Korea kan udah terlanjur lekat banget, kalau diperanin sama artis Indonesia malah jadi nggak pas dan membuyarkan imajinasi. Malah merusak feel kita ke tokoh aslinya,” Jessica Luigi, Universitas Brawijaya.


Dibuat Jadi Berlebihan

Drama Korea jadi tampak berlebihan kalau dihadirkan dalam versi Indonesia? (foto:Dramafever)

Dibuat Secara Berlebihan

Entah gimana caranya, drama Korea selalu berhasil menghadirkan cerita yang masuk akal. Perhatiin aja, dalam adegan paling cheesy sekalipun, jarang kan ada adegan dalam drama Korea yang cringeworthy? Sebaliknya, penonton malah sukses ikutan dibikin baper. Ringkasnya episode drama Korea yang nggak dibuat berlarut-larut, juga jadi kekuatan yang bikin jalan cerita nggak ‘buyar’ dan membosankan. Sementara sinetron Indonesia.... Yah, tau sendiri kan yang terjadi justru sebaliknya. Adegan-adegan dan kata-kata romantis yang terdengar fine-fine aja waktu diucapkan di drama Korea, justru terdengar awkward dan ‘menggelikan’ kalau diterapkan di sinetron Indonesia. Belum lagi kalau versi asli yang sebenarnya cuma dibuat dalam jumlah episode terbatas, berubah jadi super panjang bahkan sampai ratusan episode banyaknya.

 

“Di versi Indonesia, biasanya adegan dan perannya malah jadi terkesan lebay.  Karena dipanjang-panjangin, juga jadi nggak nyambung sama cerita aslinya. Hasilnya malah jadi kurang jelas,” Dinda Cinta Andarini, SMAN 48 Jakarta


‘Traumatik’ Orang Indonesia Lihat Hasil Adaptasi Terdahulu

Ada rasa 'traumatik' melihat hasil adaptasi terdahulu (foto:Tumblr)

Adaptasi tayangan luar negeri ke versi sinetron Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, udah banyak tayangan-tayangan luar yang dihadirkan dalam versi Indonesia. Begitupun dengan drama Korea, yang beberapa kali ‘disadur’ jadi versi sinetron. Baik itu yang secara kasat mata emang dibuat sama persis, maupun yang tampak beda padahal punya jalan cerita yang mirip banget sama drama Korea. Nggak jarang, adaptasi yang masih dipertanyakan izin dan legalitasnya ini, menimbulkan issue-issue penjiplakan dan plagiarisme. Ditambah sama kualitas tayangan-tayangan adaptasi yang somehow dari dulu belum berhasil menyamai kualitas aslinya, jadilah penonton masih dibuat sangsi dan ‘trauma’ sama kehadiran-kehadiran tayangan baru yang juga mengambil ide adaptasi serupa.

 

“Kadang kan izinnya masih nggak jelas, jadi menimbulkan issue plagiarisme. Kalau remake dengan kualitas lebih bagus nggak papa, tapi kalau kualitasnya masih di bawah ya buat apa,” Irmawati Khoirunnisa, Universitas Airlangga. 

Nah, kira-kira gitu deh hal-hal yang bikin para pecinta drama Korea jadi keberatan waktu frama favorit mereka diadaptasi kedalam bentuk sinetron. Kalau menurut kamu, bener nggak sih?

Editor: Bogiva


Share
Create Your Own Article!