Are You a Zetizen?
Show Menu

Semakin Banyak Cara Membeli Game

Abiyoso Mg Abiyoso Mg 15 Jan 2020
Semakin Banyak Cara Membeli Game

Hingga awal dekade 2000-an, hampir semua game didapatkan dengan cara dibeli secara fisik. Dari toko, konsumen mendapat paket cartridge atau disk lengkap dengan buklet petunjuk untuk memasang ke mesin game masing-masing. Sebenarnya sudah ada penjualan game secara digital, tapi jumlahnya sangat terbatas.

Setelah kecepatan internet memadai, sistem penjualan game secara online jadi populer. Bagi konsumen, keunggulannya adalah harga yang lebih murah ketimbang versi fisik. Konsumen juga tidak perlu khawatir cartridge atau disk rusak. Sebab, game berwujud digital sehingga bisa di-download ulang jika file terdahulunya tak berfungsi. Sementara itu, bagi produsen, biaya produksi game jadi jauh lebih murah. Tak perlu ada biaya pengiriman secara fisik ataupun biaya gudang. Kelebihan lainnya, suatu game bisa sering di-update.

Selain membeli lalu men-download, masih ada dua metode lain. Yang pertama adalah sistem berlangganan bulanan. Selama masa langganan, konsumen bebas men-download game apa saja dan memainkannya. Tapi, setelah masa langganan berakhir, game yang sudah tersimpan tak bisa lagi dimainkan. Metode kedua, streaming. Koleksi game tetap berada pada server cloud. Konsumen berlangganan akses server tersebut untuk bermain lewat peranti.

Sejauh ini, platform distribusi digital yang menonjol adalah PlayStation Store, PlayStation Now, Nintendo eShop, dan Xbox Games Store (Microsoft Store) untuk mesin video game, Google Play dan App Store untuk ponsel dan tablet, serta Steam untuk PC. Belakangan muncul sejumlah platform yang berpotensi jadi kompetitor baru. (c20/ray)

Usaha Goyang Dominasi Steam

Selama ini Epic Games dan valve bersaing dalam bidang game PC. Epic Games punya Gears of War dan Fortnite, sedangkan valve memiliki Counterstrike. Tapi, valve punya bisnis sampingan seperti Steam yang memasarkan sangat banyak game PC buatan berbagai perusahaan besar dan kecil. Akhir 2018 lalu, Epic Games mulai berkiprah dalam bisnis toko digital.

Kepada para produsen game, Epic Games Store mematok pungutan jauh lebih kecil ketimbang Steam. Bahkan, jika game yang dipasarkan di Epic Games Store menggunakan teknologi Unreal Engine, biaya lisensinya digratiskan. Tujuannya, agar para produsen beralih dari Steam ke Epic Games Store. Berhasilkah? Sepanjang 2019 lalu, Steam tetap mendominasi.

2019 lalu, Steam tetap mendominasi. Untuk menghadapi Epic Games Store, Steam sedikit menurunkan pungutan bagi game yang meraih nilai penjualan sangat tinggi. Artinya, diskon tersebut hanya berlaku bagi produsen besar. Rupanya, Steam belum merasa terancam oleh Epic Games Store. Meski begitu, Epic Games Store berhasil merebut hak eksklusif penjualan Shenmue III selama satu tahun mendahului Steam. (c20/ray)

 

Apple Menantang Playstation Now

September tahun lalu, Apple meluncurkan Apple Arcade. Berbeda dengan App Store, konsumen tidak membeli game satu per satu, tetapi berlangganan akses berbagai game sekaligus. Jadi, platform ini bersaing dengan PlayStation Now. Apple menjanjikan game yang tersedia berkualitas tinggi. Tidak ada iklan. Tak ada pula IAP (in-app purchase) yang lazim terdapat dalam aplikasi mobile.

Sejauh ini koleksi gamenya lumayan. Misalnya, Shantae and the Seven Sirens yang belum tersedia di platform lain atau Fantasian, karya terbaru Hironobu Sakaguchi, sang pencipta Final Fantasy, yang akan segera hadir. Deretan game tersebut bisa dimainkan lewat iPhone, iPad, Apple TV, maupun Macintosh. Tetapi, banyak game yang tidak nyaman dikendalikan dengan layar sentuh sehingga butuh controller fisik tambahan yang terhubung dengan bluetooth. (c20/ray)

Google menyusul terjun November lalu lewat platform bernama Stadia. Yang ini menggunakan sistem streaming, terhubung ke PC yang menggunakan browser Chrome, ponsel Pixel, tablet dengan OS Chrome, ataupun peranti Chromecast. Platform ini juga menantang PlayStation Now yang punya opsi streaming.

Untuk bersaing, Stadia andalkan dua hal. Pertama, controller eksklusif yang cukup nyaman. Kedua, fitur unik yang disebut state share. Jika selama ini pemain bisa membagi screenshot ataupun video, pengguna Stadia bisa berbagi semacam save data di titik permainan mana pun yang bisa dilanjutkan oleh orang lain.

Sementara itu, kekurangan platform ini adalah membutuhkan koneksi internet yang prima. Di negara semaju Amerika Serikat pun, baru sebagian kecil yang memiliki internet memadai untuk Stadia. Apalagi di negeri seperti Indonesia. (c20/ray)

RELATED ARTICLES

Please read the following article